Banten, Traveling

Menara Suar Anyer dan Sejarah Pantura

Melihat wajah Menara Suar Anyer dan prasastinya sungguh sangat berbeda dibandingkan dengan satu atau dua tahun yang lalu. Prasasti penanda dimana titik nol kilometer jalan raya pertama yang dibangun di tanah Jawa, kini terlihat lebih cantik. Dulu hanya berupa block semen kecil dengan tulisan yang dibuat dengan menggores semen saat masih basah. Prasasti yang baru terbuat dari batu marmer, lengkap dengan peta Jalan Anyer Panarukan yang terbentang mulai dari ujung Jawa bagian barat ke timur.

Mercusuar_Anyer_4

SEJARAH

Tersebutlah Herman Wiliem Daendels, seorang Gubernur Jenderal HIndia Belanda yang ke-36, yang memerintah pada tahun 1808 s.d. 1811. Di masa awal jabatannya ia membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg), yang juga dikenal sebagai Jalan Daendels, atau sekarang lebih pupoler dengan nama Jalur Pantura.

Berbagai sumber menyebutkan bahwa Daendels, dalam mewujudkan impiannya membangun Jalan Raya Pos ini, memulainya dari Anyer hingga ke Panarukan dengan system kerja rodi. Tetapi, setelah membaca profil Daendels di Wikipedia, disebutkan bahwa sebenarnya jalan raya antara Anyer dan Batavia (Jakarta) sudah ada sejak Dadendels tiba di Indonesia. Oleh karena itu, menurut Het Plakaatboek Van Nederlandsch Indie jilid 14, Daendels mulai membangun jalan dari Buitenzorg menuju Cisarua, dan seterusnya sampai Panarukan.

Titik_0_kilometer_anyer_panarukan

Pembangunan jalan ini dimulai pada Mei 1808 dan selesai di penghujung tahun yang sama. Pada bulan Agustus 1808, pembangunan jalan telah sampai di Pekalongan. Dan sebenarnya, jalan antara Pekalongan sampai Surabaya sudah ada sejak tahun 1806. Kemudian dari Surabaya, Daendles meneruskan pembangunan jalan sampai ke Panrukan sebagai pelabuhan expor di Jawa Timur.

Tercatat, panjang jalan yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan ini sepanjang 1000 kilo meter, dan disebut-sebut sebagai jalan terpanjang di dunia pada masa itu.

POTENSI WISATA

Bagi traveler atau backpacker yang biasanya lebih menyukai kegiatan petualangan, Anyer mungkin bukan destinasi wisata yang menarik. Tetapi, Mercusuar Anyer beserta Prasasti Titik Nol Kilometer Jalan Raya Anyer Panarukan mungkin bisa dijadikan destinasi wisata yang menarik. Terutama bagi mereka yang menyukai objek wisata sejarah.

Mercusuar_Anyer_5

Selain menengok kembali sejarah pilu masa penjajahan, kita juga bisa masuk dan naik hingga ke puncak kercusuar. Mercusuar ini juga memiliki nilai sejarah yang menarik untuk diketahui.

Seiring dengan semakin berkembangnya Desa Cikoneng sebagai salah satu tempat penyebaran agama islam sejak masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (Sultan Kerajaan Banten), pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun sebuah mercusuar untuk mengamankan jalur ekonomi dan militernya yang melalui Selat Sunda sebagai jalur pelayaran vital ketika itu. Desa Cikoneng ini berada di pesisir barat Banten dan berbatasan langsung dengan Selat Sunda.

Mercusuar_Anyer_1

Konon mercusuar pertama yang dibangun di Tanjung Cikoneng terbuat dari batu bata dan hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Dua tahun lalu, ketika berkunjung ke Mercusuar Anyer, aku masih dapat melihat bekas pondasinya tak jauh dari Mercusuar yang baru. Sekarang, sisa pondasi tersebut sudah ditutup dengan batu marmer dan di bagian tengahnya dibangun prasasti titik nol kilometer jalan Anyer – Panarukan yang baru.

Kemudian pada tahun 1885, pada masa pemerintah colonial Belanda dipimpin oleh Z.M. Willem III, dibangun lagi menara suar yang terbuat dari baja setebal 2.4 cm, setinggi 75.5 meter dan terdiri dari 18 lantai. Di kaki mercusuar, tepat di atas pintu masuk, terdapat sebuah prasasti yang berisi sebuah kalimat berbahasa Belanda.

β€œOnder de regeerin van Z.M. Willem III Koning der Nederlande, ter vervanging van den steenen lighttoren in 1883 bm de ramp van Krakatau vernield. 1885.” Kalimat tersebut menjelaskan bahwa Mercusuar yang didirkan tahun 1885 ini adalahhadiah dari raja Belanda Z.M. Willem III, untuk menggantikan mercusuar lama yang telah hancur karena letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

WHAT TO DO?

Bagi yang tidak menyukai wisata sejarah, masih bisa melakukan banyak kegiatan menyenangkan di sini. Seperti menikmati pantai dan sunsetnya, atau bisa juga memancing di dermaga. Pada hari Sabtu dan Minggu, Mercusuar dibuka untuk umum dan pengunjung bisa masuk dan naik sampai ke puncak menara.

Sunset_Pantai_Anyer

Mercusuar_Anyer_3

Pemandangan dari puncak menara lumayan mengagumkan untuk dinikmati. Lautan dan langitnya yang biru, atau jalan raya di sepanjang pesisir yang meliuk-liuk. Jika cuaca sedang cerah, Gunung Krakatau bisa terlihat lamat-lamat.

EAT

Setiap mengujungi Mercusuar Anyer, aku tidak pernah melewatkan makan seafood di Rumah Makan Muaro. Rumah makan ini letaknya persis berseberangan dengan gerbang masuk ke kawasan pantai Mercusuar Anyer. Persisnya ada di jembatan di jalan raya sebelum mercusuar.

Seafood_Anyer

Menu yang paling aku suka yaitu kepiting atau kadang rajungan saos padang. Tergantung kondisi keuangan di dompet. πŸ˜€ Satu kilo kepiting harganya Rp150.000,- sedangkan rajungan harganya Rp90.000,- per kilogram. Udang, cumi, dan ikan harganya dibanderol Rp60.000 per kilogram.

Semua seafoodnya masih dalam keadaan segar, kita bisa memilih sesuai selera kemudian menunggu kurang lebih 30 menit untuk dimasak. Jika membeli ikan, cobalah minta dibuatkan sop kepala ikan. Rasanya yummy!

AKOMODASI

Jika ingin menginap, bisa menyewa villa di Wisma Anyer. Lokasinya persis di sebelah mercusuar. Harganya sekitar Rp500.000,- untuk villa 1 kamar, dan Rp2.000.000,- untuk villa 3 kamar.

Villa-villa di Wisma anyer terdiri dari 2 lantai. Lantai atas untuk kamar tidur ber-AC, living room, dan kamar mandi serta balkon. Sedangkan di lantai saru berfungsi sebagai dapur dan ruang makan, lengkap dengan kompor dan gas, perlengkapan memasak dan makan, serta meja dan kursi. Nyaman kan?

HOW TO GET THERE

Mercusuar ini sangat mudah ditemukan jika sudah memasukin kawasan pantai Anyer. Jika melihat menara putih dan sangat tinggi di tepi pantai, itulah Mercusuar Anyer yang bersejarah. Untuk masuk ke kawasan pantai, dikenakan tariff Rp2.000,- per orang. Tarif masuk ke menara juga Rp2.000,-

Mercusuar_Anyer_Puncak

Akan tetapi, jika ingin menikmati area pantai secara gratis, cobalah masuk melalui pintu gerbang Wisma Anyer. πŸ˜‰ Tetapi kalau nggak sekalian menginap, malu juga kali ya. πŸ˜€

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.