Jawa Timur

Menyibak Makna Landmark Kota Surabaya

landmark Surabaya

Perjalanan keliling kota Surabaya masih berlanjut setelah kami istirahat sejenak di Klenteng Hok An Kiong di Jalan Coklat. Tujuan kami berikutnya adalah ke Kebun Binatang Surabaya (BonBin). Ini demi foto narsis aja sih di depan patung buaya yang tengah menggigit hiu. Ya, rasanya memang kurang pas kalau kota berpergian ke satu tempat tapi belum foto narsis di landmark nya. Hehe.

Dari klenteng, kami kembali menyusuri Jl. Slompretan, yang menjadi pusat pertokoan grosir bermacam barang hasil konveksi seperti karpet dan sajadah. Sampai di ujung jalan, di sebuah perempatan tempat bertemunya Jl. Slompretan, Jl. Songoyudan, dan Jl. Kembang Jepun, kami berbelok ke kiri, kembali menyusuri Jl. Kembang Jepun sampai ke Jembatan Merah. Entah seberapa jauh jarak yang kami tempauh dengan berjalan kaki. Dan jangan ditanya seberapa capeknya.

Mamas & Kakak juga sampai terlihat malas dan mulai bertanya, “jalan kaki sampai mana?”. Aku coba menghibur dengan membelikannya siomay, es cincau, dan apa saja jajanan yang mereka mau sepanjang jalan. Tapi rupanya itu tak cukup membuat mereka tenang. Tetap saja mereka bolak balik tanya. “Mau kemana sih, Bu?” tanya mereka.

Hari sudah mulai sore ketika kami sampai di Jembatan Merah. Abang Ranu juga sudah mulai asem saat dicium. Kami lalu memutuskan beristirahat sejenak di sebuah gardu. Ada meja semen yang bisa digunakan untuk membaringkan Abang Ranu. Tanpa alas, dan hanya menggunakan gendongan untuk bantalan kepala, kurebahkan tubuh si Abang yang bobotnya lumayan bikin pegal. Lalu mulai lah ritual ganti popok di gardu itu.

 

Sementara aku mengganti popok, Mamas & Kakak kembali main lari-larian berdua. Dasar anak-anak sukanya aneh. Bilang capek minta istirahat, tapi waktu istirahat bukannya duduk malah tetep lelarian.

Usai ganti popok, sebelum lanjut jala kaki, kami sempat jeprat-jepret lagi. Ada yang menarik perhatianku waktu itu. Jembatan Merah tak pernah lengang dari lalu lalang kendaraan. Sementara di tepi jembatan, terlihat beberapa becak tengah parkir. Pengrmudinya duduk di atas becak masing-masing. Pemandangan itu berlatar belakang Jembatan Merah Plaza (JMP), yang bahkan belum pernah kusambangi meski sudah dua kali aku ke Surabaya.

Saat sedang memperhatikan pemandangan itu, di kepalaku diam-diam mengalun lagu keroncong berjudul “Jembatan Merah”. Yak, lanjut saja yuk ke BonBin.

Narsis di Landmark Surabaya

Dari seberang Jembatan Merah Plaza (JMP) kami naik angkot ke BonBin. Pertimbangan kenapa naik angkot dibanding gojek, karena kami ingin sedikit santai. Setelah capeek banget jalan kaki kesana kemari. Di angkot selama perjalanan menuju BonBin, lumayan lah bisa tidur barang sejenak.

Kebun Binatang Surabaya

Sampai di BonBin, hari nyaris magrib. Gerimis yang turun membuat langit tampak semakin kelabu. Lampu-lampu penerang jalanan kota sudah mulai dinyalakan. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan untuk yang ingin nerfoto dan hanya mengandalkan smartphpne sepertiku. Jadi harus puas dengan hasil foto yang agak buram.

Oya, sudah faham kan makna dari patung buaya dan hiu yang menjadi landmark kota Surabaya ini? Ceritanya sudah pernah kusinggung di tulisan tentang Tugu Pahlawan. Bahwasannya persepsi banyak orang bahwa buaya dan hiu adalah cerminan dari Surabaya, yang diartikan bahwa sura adalah hiu, dan boyo berarti buaya, itu salah.

Makna patung buaya dan hiu yang menjadi landmark kota Surabaya adalah gambaran keberanian masyarakat Surabaya pada masa lampau, yang berhasil mengalahkan pasukan perang dari negeri Tiongkok yang datang dengan kapal-kapal laut. Kemenangan tersebut direfleksikan dengan buaya yang sedang menggigit hiu. Buaya menggambarkan orang-orang Surabaya, dan hiu menggambarkan pendatang dari Tiongkok.

Sedangkan arti dari nama kota Surabaya sendiri, diambil dari kata suro ing boyo, yang berarti keberanian dalam ketakutan. Ya, seperti yang kita tau, Surabaya dijuluki sebagai kota perjuangan. Banyak kisah heroik yang lahir di Surabaya dari jaman penjajahan, termasuk juga dari masa kerajaan.

Aku mengetahui fakta menarik tentang landmark dan arti nama Surabaya itu dari guide saat mengikuti tour gratis dengan bus Surabaya Heritage Track. Sejak itu aku jadi mulai kepikiran, ternyata setiap landmark memiliki kisahnya sendiri. Lalu apa kabar dengan landmark lain yang pernah kulihat langsung? Yes, aku kurang aware. Selama ini taunya cuma foto doang. Haha.

Dinner Time

Well, setelah seharian kesana kemari, rasa capeknya pun terakumulasi, alias sudah capek banget! Kami memutuskan untuk kembali ke Gunawangsa Manyar Apartemen Hotel. Namun sebelumnya kami harus makan dulu supaya bisa langsung tidur saja setelah sampai kamar hotel.

Dari BonBin kami menggunakan jembatan penyebrangan, berjalan kaki sampai ke ujung Jl. Raya Darmo. Tepat di posisi tusuk sate di pertigaan Jl. Raya Darmo itu ada warung makan dengan menu soto, mi tektek, dan nasi goreng. Di sana lah akhirnya kami melabuhkan rasa lapar. Sekaligus numpang nitip ‘sesuatu’ di toilet.

Untuk makan malam kali ini, aku memesan nasi soto, sementara Ojrahar memilih mi tektek, dan Maska selalu memilih menu kesukaannya di mana pun. Ya apalagi kalau bukan nasi goreng. Memang sih ya, nasi goreng itu enak dan selalu bisa diterima lidah, karena di mana-mana rasanya ya sama. Mungkin karena bumbunya juga standar.

Tetapi justru menurutku, yang membuat nasi goreng menjadi istimewa adalah bahan pelengkap seperti lauk, kerupuk dan sambal. Malah buatku lebih wajib kerupuk dan sambal dibanding lauk. Sebab kalau di rumah, aku malas masak berulang-ulang. Jadi kalau masak apapun, pasti tanpa cabe. Yang dewasa kalau mau pedas, tambah sambal aja. Sedangkan kalau kerupuk, ya memang rasanya ada yang kurang aja kalau makan tanpa kerupuk.

Nasi goreng yang disajikan di warung di pertigaan Jl. Raya Darmo ini rasanya enak standar lah. Tapi karena porsinya yang besar, Maska jadi tidak bisa menghabiskan seluruhnya. Jadi dari pada mubazir, setengah porsi nasgor sisa Mamas & Kakak dijadikan satu dan dibungkus. Siapa tau sampai hotel lapar lagi, kan bisa dimakan. Dan benar saja, malam sebelum tidur, si MasKa makan lagi. Ya jelas aja, wong begitu sampai hotel mereka langsung berenang, bukannya tidur. Wajar kalau akhirnya lapar lagi.

17 thoughts on “Menyibak Makna Landmark Kota Surabaya

  1. Jadi terinspirasi nih mbak kalau nanti punya anak pengen juga bisa ajak jalan – jalan yang bener-bener jalan-jalan seperti mbak Nurul.
    Keren nya si abang Ranu yang masih imut-imut juga nyaman nyaman aja diajak keliling ya.
    Tapi lebih keren mamaknya sih yang kuat gendong-gendong tanpa bantuan stroller πŸ™‚ πŸ™‚

    Salam kenal,
    Noriko

  2. Wah keren mbak,,,, kalau ini namanya jalan – jalan beneran, bener – bener jalan kaki,,, tapi semakin asyik aja loh mbak,,, jalan – jalan bareng keluarga, bahkan dedeknya pun udah di ajarin berjalan kaki walau bertanya – tanya terus,,,, salut aku mbak Nurul πŸ™‚

  3. Ah udah lama nggak ke Surabaya πŸ™‚ Belom pernah foto di landmark-nya juga. Nice banget fotonya. Salam buat dedek kecil yang diganti popoknya deket kamera πŸ˜› Hehehe

  4. Jd kangen surabaya mak..aku yg bertahun2 tinggal di surabaya malah belom doto di depan si suro lan boyo lo dan hampirr tiap hari minggu kami lewat situ. Geloooooo…..

  5. Loh, Baru tau kalau arti dari Buaya gigit Hiu ceritanya seperti itu.
    Dedek Ranu kuat juga mbak yah, dibawa traveling walaupun harus jalan kaki.
    Udah kecil sudah diajarin,, Salut mbak..

    1. Hihi… Alhamdulllah Abang Ranu kuat diajak kmn2, cuma akunya ya harus siap gempor karena nggendong tarus πŸ˜€

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.