Malaysia, Traveling

Menu Pembuka Backpacking With Children

Untuk menghilangkan kebosanan dalam penerbangan nomor QZ264 oleh Air Asia dari Jakarta menuju Singapura, aku menyalakan handphone setelah pesawat mulai mengudara. Menulis catatan, untuk merekam perasaan-perasaan yang tiba-tiba bergejolak dalam dada.

Backpacking With Kids

Di dalam kabin pesawat yang namanya sudah begitu akrab dalam kamus travelingku, Air Asia, aku merasakan lagi betapa indahnya menjadi seorang ibu. Ibu yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Menjadi tempat paling menenangkan ketika mereka dalam keadaan takut.

Seperti biasa, take off dan juga Landing, adalah saat-saat yang paling menegangkan bagi Abyan. Tangannya semakin erat memeluk lengan kiriku saat ia merasakan getaran dan guncangan. Kulihat sepasang mata yang mulai berkaca-kaca pada seraut wajah yang tegang. Terasa dingin saat aku menggenggam jemari kecilnya. Kudekatkan kepalaku dengan keningnya. Aku berharap sentuhan itu bisa membuatnya lenih tenang.

Saat pesawat mulai mengudara, aku mencoba menangkap ekspresi wajah tegangnya dengan kamera handphone. Ia diam saja. Tetapi matanya melihat ke arah lensa. Aku tersenyum kecil ketika melihat hasil foto Abyan. Di mataku, ia tetap lucu dan menggemaskan.

“Ibu kenapa senyum-senyum?” Abyan bertanya dengan logat manjanya yang belum juga hilang. Padahal, umurnya sudah 6 tahun.

Kuberikan handphoneku pada Abyan, agar ia bisa melihat sisa ketegangan di wajahnya.

“Tuh, Kakak jelek banget, ngga mau senyum.” Aku meledeknya. Abyan cemberut.

“Foto lagi yuk!” Pintaku. Abyan langsung bersemangat. “Tapi harus senyum ya!” Pintaku lagi. Abyan mengangguk dan tersenyum ke arahku.

Kusiapkan lagi kamera di handphoneku. Kami berpose, dan…klik!

Backpacking With Children

Rasa takut memang selalu menjadi menu pembuka setiap kali kami hendak menikmati hidangan Backpacking With Children menggunakan moda transportasi udara. Berita-berita kecelakaan pesawat yang ia lihat di TV turut memberi andil. Aku tak ingin rasa takut ini memberi pengaruh buruk pada mood Abyan selama perjalanan kami. Apa lagi, ini baru permulaan. Perjalanan kami kali ini masih sangat panjang.

Singapura, Malaka, Kuala Lumpur, Banda Aceh, Sabang, Kuala Lumpur Lagi, lalu Jakarta. Di dalam hati aku mulai mengeja nama-nama kota yang akan kami singgahi. Terdengar melelahkan. Ditambah kondisiku yang tengah hamil. Ini sudah bisa dikatakan extreme, mungkin.

Tetapi sejak awal aku sudah memutuskan, aku harus menghadapi segala risikonya. Maka aku berusaha melakukan apapun yang terbaik yang aku bisa, agar keceriaan bisa mengoposisi rasa takut Abyan. Agar aku juga bisa menikmati perjalanan meski dalam kondisi hamil dan kerepotan dengan anak-anak. Aku harus tetap tenang, berfikir positif agar bisa melewati segala ke-riweuh-an satu demi satu. Dan salah satu ke-riweuh-an itu adalah ketekunan Abyan. Alhamdulillah aku bisa mengatasinya dengan cara tetap berada di samping Abyan, untuk menemaninya melewati masa-masa menegangkan.

Aku biasanya menghindari self check-in yang berpotensi memberi kami kursi acak sesuai sistem. Aku harus tiba di bandara, setidaknya 2 jam sebelum waktu boarding, agar punya waktu leluasa untuk check-in manual di konter maskapai, dan meminta petugas untuk memberi kami kursi di row yang sama. Jika cara ini tidak berhasil dan kami terpaksa mendapat kursi terpisah, dengan sopan aku akan meminta orang lain agat berbesar hati dan bertukar kursi denganku. Pokoknya, aku harus duduk di sebelah Abyan.

Untungnya rasa takut seperti yang dialami Abyan tidak ada dalam diri Daffa’. Jadi, ia tidak akan keberatan duduk dimana saja, dengan siapa saja. Ia sudah cukup mandiri. Meski tak dapat dipungkiri, Daffa’ tetap saja anak-anak. Hanya saja, ia lebih dulu lahir dibanding Abyan. Kadang masih timbul rasa iri dalam hati Daffa’. Ia tidak menutupinya.

“Enak Kakak, deket Ibu terus.” Protes Daffa’ dengan wajah cemberut.

Kadang, sebagai seorang ibu dengan setting default galak dan jutek, aku membutuhkan waktu beberapa detik untuk berfikir dan menenangkan diri, agar tidak bereaksi dengan kalimat ketus. Aku harus memahami perasaannya sebagai anak-anak dan tak boleh memaksanya menjadi dewasa.

Ah! Aku memang bukan ibu terbaik di dunia. Tetapi semoga, aku tak pernah lelah untuk belajar.

38 thoughts on “Menu Pembuka Backpacking With Children

  1. Salut deh sama mba Noe yang masih jalan-jalan sama anak2 ketika hamil. Memang saat mau take-off dan landing saat menegangkan. Semoga selalu selamat.

  2. Lanjutin aja mba, buat referensi, coba beli buku “family backpacking singapura-malaysia”, atau browsing cari info yg diperlukan seperti menginap, makan, rute transportasi, dll. Pertama ke Singapura aku sm 2 anak, klo ditanya apa repot? ya reppt. Di rmh aja udah repot apalagi jln2. Tp klo niat kita kuat, berani, insyallah semua terlewati. Malah jd banyak cerita dan pengalaman. 😉

  3. Blognya menginspirasi bgt deh mbak noe. Ak jd pngen curhat nih,thn dpn ak ada rencana ke singapore gr2 ada tiket promo air asia sih jd pngen kesana sm suami and anak (3th) sbnrnya uda bayar tiketnya tp makin kesini ak jd ragu berangkat gak ya?? Takut mbak ntr disana ky gmna kalo sm anak2,blm lg makannya trs kesana mesti jalan kaki ditambah naik pesawatnya. Ngebayangin aja udah ngerii bgt. Kalo boleh minta saran dong dr mbak noe,lanjut atau gak ya???

    1. Lanjutin aja mba, buat referensi, coba beli buku “family backpacking singapura-malaysia”, atau browsing cari info yg diperlukan seperti menginap, makan, rute transportasi, dll. Pertama ke Singapura aku sm 2 anak, klo ditanya apa repot? ya reppt. Di rmh aja udah repot apalagi jln2. Tp klo niat kita kuat, berani, insyallah semua terlewati. Malah jd banyak cerita dan pengalaman. 😉

        1. Di Little India ada foodcourt. Makanan halal ada buanyaaak, mulai dr masakan ala india, arab, thailang, melayu, bahkan mi ayam bandung & es cendol juga ada. 😉

  4. Salut deh sama mba Noe yang masih jalan-jalan sama anak2 ketika hamil. Memang saat mau take-off dan landing saat menegangkan. Semoga selalu selamat.

  5. Abyan sama kok dengan bunda yang deg2an selama penerbangan he..he..tapi tetap aja pengen jalan2 terus
    Noe.., itu rute jalannya unik juga ya.., sptnya KL jadi tempat transit ke Banda Aceh ya

    1. Berarti rasa penasara dan kadar keberanian masih bs mengalahkan rasa takutnya bundaa 😀

      Untuk rute air asia, kalo mau ke aceh memang kudu ke KL dulu krn dia gk punya rutr CGK – BTJ 😀

  6. Airasia kalo masalah kursi suka aneh, padahal udah jelas ditulis child tapi tetep terpisah. Giliran rapi duduk sesuai nomor, pramugari nanti nanya, anak kecil nggak boleh sendirian harus didampingi…lah itu padahal maunya sistem bukan maunya saya…:(

    1. Waah, garuda looh… Aku blm pernah tuh naik garuda, hihi.. Moga dpt kesempatan lagi ya naik pesawat gratis lagii utk anak2mu :* aamiin…

  7. De Noe…. aku pengen banget bisa kayak de Noe… yang bisa meluangkan waktu untuk jalan2 dengan anak2 spt itu. Aku susah banget nyesuaikan jadwal yang ga benturan dg jadwal sekolah dan kerjaanku selama ini.
    BTW, Daffa ternyata lebih mandiri dari Abyan to? Hehehe… lucu banget itu muka tegangnya Abyan 😀

  8. aku selalu duduk bertiga mak kalau di pesawat biasanya yang dekat jendela pascal aku di tengah. Pernah sekali dapat terpisah dua-dua jadilah rebutan semua mau dekat aku. ini kurang panjang gak komenku? 😀

  9. Memang Mbak. Berita di mana-mana bikin takut yak. Tapi bukan berarti gak mau naik pesawat lagi kan ya.

    Dah lama gak kunjungan di sini.

    1. Iya, kalo liat berita mah sedih, tapi aku ngga separno itu sih. Rasa takut ada, tapi rasa nekat lbh gede. :p

      Btw, aku kunjung balik kok pangling. Blog baru nih…

  10. Kejadian kurang baik di dunia penerbangan akhir – akhir ini memang sering bikin was – was kalau naik pesawat. Tapi bagaimana lagi, cuma bisa pasrah sama yang kuasa kalau udah naik pesawat. Banyak berdoa saja semoga perjalanan lancar 🙂

    1. Iyaa, cuma bisa pasrah sama Allah ya. Lagipula, kalo yang namanya ajal kan memang bs menghampiri kapan aja. Ngga harus di pesawat jg loh. Yanh lagi solat di masjid trus tiba-tiba meninggal juga ada… 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.