Curcol

Mens sana in Corpore Sano

Mens sana in Corpore sano adalah maha karya sastra dari seorang pujangga Romawi bernama Decimus Iunius Juvenalis. Ungkapan ini pernah aku jadikan plesetan saat aku berada dalam masa-masa ‘kacau’. Badan disana, pikiran disono.

DSC01030_1

Tahun 2011 sampai ke penghujung 2012, adalah masa-masa berat buatku sebagai seorang ibu. Kondisiku sebagai seorang single parent dan tanpa asisten di rumah, kadang memaksaku untuk menitipkan anak-anak di rumah neneknya di Lampung, sementara aku bekerja di Serang-banten.

Sedih sekali rasanya, mengingat biasanya setiap sore hari setelah pulang kerja, anak-anak akan menyambutku dengan keceriaan. Hilang sudah rasa lelah setelah seharian bekerja jika aku bercanda tawa bersama anak-anak. Tapi saat sendiri, aku hanya bisa mengemas air mata. Menangis dalam diam.

Sampai pada tanggal 29-30 September 2012, aku pergi backpacking ke pulau Tidung. Aku pergi backpacking ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu ini karena ajakan dari salah seorang teman. Saat temanku itu mengajakku, aku fikir, dengan backpacking aku bisa sedikit menghibur diri sendiri. Aku tak boleh terus larut dalam kesedihan.

Benar saja. Saat di Pulau Tidung, aku benar-benar menikmati liburanku. Menjauh sejenak dari rutinitas kantor, dan sedikit lupa akan kesedihan karena anak-anakku berada jauh dariku. Akan tetapi, ditengah kesenanganku menikmati liburan, tiba-tiba aku mendapat sebuah tamparan keras. Melalui Blackbarry Messenger, aku mendapat pesan dari sepupuku. Begini isinya;

“Enak ya bisa liburan, nggak mikirin anak yang sama neneknya.”

Hatiku kembali diselimuti rasa sedih, bercampur sakit. Jadi, aku benar-benar ibu yang egois?

Setelah kembali dari backpacking, di rumah, aku terus berfikir. Aku harus membawa kembali anak-anaku ke rumahku. Apapun caranya! Aku lalu menelepon ibuku di Lampung, membicarakan keinginanku. Alhamdulillah, adik laki-lakiku bersedia ikut tinggal di Serang untuk menjaga anak-anakku setiap hari, selama aku bekerja.

Kebahagian pun mewarnai hari-hariku, dengan adanya keceriaan anak-anak di rumahku. Sayangnya, bagian dari jiwaku rupanya telah jatuh cinta dengan yang namanya jalan-jalan, atau lebih suka aku sebut backpacking. Semenjak backpacking pertama kalinya ke Pulau Tidung itu, aku mengenal banyak teman-teman baru, backpacker. Hubungan pertemanan kami berlanjut bahkan setelah trip berakhir. Mereka menebarkan racun backpacking, dengan meng-upload foto-foto panorama dari berbagai daerah di Indonesia, yang menjadi tujuan favorite para backpacker.

Aku, tentu saja mupeng. Aku ingin melanjutkan hobi baruku, backpacking. Tapi bagaimana mungkin? Aku tidak tega meninggalkan anak-anak di rumah demi memenuhi ambisiku untuk terus backpacking. Terpaksa aku gigit jari jika melihat teman-teman pergi backpacking. Aku kembali ke masa Mens sana in corpore sano. Badan disana, pikiran disono. 😀 Meskipun aku bisa berkumpul kembali dengan anak-anak, tetap saja ada sebagian jiwaku yang hilang.

Backpacking With Children

Keinginanku untuk backpacking ternyata semakin menggebu-gebu. Sesekali, saat ada event trip yang diadakan oleh berbagai komunitas traveling, aku nekat ikut. Aku fikir, sesekali aku tinggal anak di rumah, tak apalah. Aku juga kan butuh refreshing. Tapi ternyata fikiranku tidak sepenuhnya benar. Selama backpacking, aku terus kepikiran anak-anak di rumah.

“Ternyata, anak-anak dan backpacking adalah 2 hal dalam hidupku yang tidak dapat dipisahkan. Aku mulai terfikir, bagaimana kalau aku mengajak anak-anakku untuk backpacking? Ini ide gila! Aku tau.”

Januari 2013, aku bersama teman, mencoba merencanakan sebuah event trip ke Krakatau untuk bulan Maret 2013. Kali ini, aku benar-benar nekat untuk membawa serta Daffa’, anak pertamaku yang masih berusia 6 tahun. Sementara Abyan, anak kedua-ku yang usianya 4 tahun, aku harus rela meninggalkannya di rumah.

Awalnya, timbul banyak kekhawatiran. Bagaimana jika anakku rewel? Pasti akan merepotkan teman-temanku yang lain. Padahan aku panitia event itu sendiri. Tapi aku tetap nekat! Ketakutan buatku adalah untuk dihadapi, bukan dihindari. Aku mulai melatih anak-anakku untuk keluar dari zona nyaman. Sebelum sampai pada tanggal event trip ke Krakatau, aku mengajak anak-anak ke Jakarta. Naik turun bis lewat terminal. Keliling Jakarta dengan busway, yang terkadang harus transit dan pindah halte, dan (lagi) harus jalan kaki dengan jarak antar halte yang lumayan jauhnya.

Alhamdulillah. Selama trip Krakatau berlangsung, Daffa’ sangat mandiri. Malah membuat aku dan banyak peserta trip terkagum-kagum. Daffa’ yang sekecil itu, tidak manja, tidak mengeluh capek saat harus trekking ke puncak gunung Krakatau. Malah saat aku kelelahan dan beristirahat, Daffa’ yang terus mengajakku untuk kembali meneruskan perjalanan. Salut banget sama Daffa’.

Rasa bahagiaku membuncah. Aku pulang dengan menahan haru. Anakku hebat! Perasaan-perasaan yang memenuhi hatiku itu lalu aku coba tuliskan di blog. Dan respon-respon yang masuk atas ceritaku backpacking with children, hampir semua berpendapat yang sama. Salut untuk Daffa’. Dan semua itu membuat aku terus memupuk impian untuk terus backpacking with children.

Sekarang, mens sana in corpore sano, bukan lagi badan disana pikiran disono. Tetapi sudah kembali kepada arti yang benar. A healthy mind in a healty body. Dengan backpacking with children, aku bahgia, aku bisa makan enak, tidur nyenyak, dan yang terpenting aku tidak jadi gila karena terus-menerus dalam kesedihan. 😉 Dan aku malah menemukan passion baru, menuliskan kisah Backpacking With Children di blog. Bisa di baca-baca yah di blog ini.

***

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.