Sulawesi Selatan

Menjaga Alam = Menyayangi Anak

Sore menjelang ketika aku selesai mengelilingi Pulau Tinabo. Badanku terasa lelah dan kaki pegal. Ini akibat berjalan terburu-buru di atas pasir yang selalu runtuh setiap dipijak. Beban di lutut jadi dua kali lipat menopang berat badanku. Ini demi mengejar waktu supaya tidak ketinggalan acara utama di hari ketiga Takabonerate Island Expedition VI, yaitu penanaman pohon, transplantasi karang, dan pelepasan anak tukik ke lautan.

Pulau Tinabo - Takabonerate

Keindahan setiap sudut pulau memang membuatku jatuh cinta sehingga lupa waktu. Aku betah sekali duduk menikmati pantai di ujung selatan Pulau Tinabo. Jarang ada yang datang ke sini karena letaknya cukup jauh dari homestay. Angin kencang yang bertiup, membuat pasir pantai menjadi kering dan memiliki corak seperti di gurun. Ah, aku seperti melihat gurun di sisi pantai. Dan aku nyaris tak menemukan jejak kaki lain di sini selain jejak kakiku.

Di sepanjang pantai di sisi timur Pulau Tinabo juga sepi. Mungkin karena sedang musim angin timur, sehingga orang-orang lebih suka menghabiskan waktu di sisi barat yang terpaan anginnya tidak kencang. Pantai di sisi timur ternyata tidak melulu pasir seperti di bagian barat. Ada karang yang timbul di permukaan pantai. Selain itu, aku juga menemukan beberapa pecahan ganggang merah di atas pasir. Andai jumlahnya banyak, mungkin ini akan menjadi pantai pink lainnya selain yang ada di Flores.

Aku kembali ke sekitaran homestay setelah selesai mengelilingi Pulau Tinabo. Jam di tanganku sudah menu jumkan pukul 5 sore waktu Indonesia tengah. Acara pun segera dimulai dan dipandu olek petugas jaga wana Taman Nasional Takabonerate.

Ketiga kegiatan ini sengaja dilakukan di sore hari, agar pohon yang baru ditanam tidak terlalu lama dipapar sinar terik matahari siang. Begitu juga dengan transplantasi karang dan pelepasan tukik. Waktu terbaik tranplantasi karang adalah sore hari ketika arus aut sudah tidak terlalu kencang. Sedangkan untuk pelepasan anak penyu, atau tukik, dilepaskan sore hari untuk mengurangi ancaman predator yang biasanya memangsa di siang hari, seperti elang.

Kelangsungan hidup penyu memang memiliki banyak ancaman. Padahal, umur penyu bisa mencapai ratusan tahun. Jumlah penyu yang semakin langka, membuatnya masuk dalam daftar hewan yang harus dilindungi. Biasanya manusia menangkap penyu untuk diambil cangkangnya dan dijadikan hiasan. Atau diambil bagian dalam tubuhnya untuk diekstrak menjadi minyak bulus yang dipercaya bisa menambah kekuatan pada manusia. Telur penyu bahkan sering menjadi sasaran manusia untuk disantap. Ular juga suka memakan telur penyu.

Di lautan, banyak predator yang bisa mengancam hidup penyu, apalagi jika masih terlalu kecil. Seperti hiu atau buaya. Untuk itu, petugas jagawana membuat penangkaran untuk menetaskan telur-telur penyu, dan merawatnya hingga tukik siap untuk dilepaskan ke lautan. Biasanya saat umurnya sudah 3 bulan, ketika diameter cangkang penyu sudah mencapai 10-15cm,  tukik bisa dikembalikan ke lingkungan tempat hidupnya.

Ada fakta unik tentang pelepasan tukik ini. Saat hendak melepas tukik ke lautan, sebaiknya kita membelakangi laut, dan tukik harus menghadap ke daratan. Ini agar kelak penyu akan tetap ingat terhadap daratan tempat asalnya. Petugas jaga wana Taman Nasional Takabonerate menjelaskan, bahwa penyu memiliki insting yang kuat. Saat dewasa, biasanya penyu akan kembali ke tempat asalnya untuk bertelur.

Hmm…, aku kok tiba-tiba merasa sedih saat melepaskan penyu dari tanganku. Aku harap ia bisa bertahan hidup di lautan lepas, hingga dewasa dan sampai ratusan tahun umurnya. Agar kelak, anak cucuku masih bisa melihat penyu di lautan. Begitu juga dengan pohon dan terumbu karang yang tadi ditanam. Semoga pohonnya tumbuh besar dan kuat, sehingga akar-akarnya bisa menyerap air hujan dan tersedialah sumber air tawar di pulau Tinabo.

Terumbu karang juga, semoga tumbuh dan sehat. Agar ikan melipah dan manusia sejahtera. Aku juga harus selalu ingat, untuk turut menjaga terumbu karang dimanapun berada. Caranya sederhana, dengan tidak menyentuh, dan tidak menginjak karang saat snorkeling. Satu lagi, jangan buang sampah sembarangan!

Karena turut serta menjaga kelestarian alam adalah bentuk kasih sayang kepada anak cucu kita.

Semoga kelak, anak cucuku bisa menikmati keindahan alam bukan hanya dari membaca buku atau lewat cerita-cerita pendahulunya, tetapi dengan melihat langsung ke alam, lebih mencintai dan turut serta menjaga alam ciptaan Tuhan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.