Sulawesi Selatan, Traveling

Menikmati rindu, dan merangkai mimpi di Tanjung Bira

Ada yang mengaduk-aduk perasaanku ketika aku duduk di hamparan pasir pantai Bira. Menghadap cakrawala senja di ujung laut Flores. Langit yang semula merah perlahan-lahan berubah gelap, namun tak memberi nuansa kelam. Ada banyak taburan bintang yang kelip cahayanya membius mata. Aku takjub! Lalu perlahan matahari pun tenggelam.

Sunset Tanjung Bira

Angin laut yang bertiup menyebarkankan bau asin di udara. Terasa dingin saat ia menembus pakaian yang aku kenakan. Sementara ombak terus berkejaran dan derunya tak henti memecah sunyi. Sama bergemuruhnya dengan suasana hati yang kini sedang tercabik oleh rasa rindu. Sesakit inikah rasa rindu yang terlalu?

Duduk di sebelahku seorang gadis cantik yang juga diam membisu. Icha namanya. Aku masih ingat perkenalanku pertama kali beberapa hari lalu di Bandara Soeta terminal 3. Pagi-pagi sekali sebelum terbang ke Makassar. Ia adalah salah satu orang yang tidak beruntung karena tidak lolos pemeriksaan saat check in menggunakan tiket Air Asia atas nama Farah.

Jika mengingat kejadian pagi itu, aku selalu bisa tersenyum. Dan dalam hati mentertawai kekonyolan kami. Dengan sangat nekatnya aku meyakinkan Ayub, Jurjani, dan Icha, bahwa semua akan baik-baik saja. Menggunakan tiket atas nama Randu, Gilang, & Farah, dengan menunjukkan KTP asli milik atas nama yang tertera di tiket. Namun petugas Air Asia lebih jeli dari yang kami duga. Untung saja mereka punya uang banyak, jadi liburan kami tetap terlaksana dengan membeli tiket baru di injury time.

“Langitnya cantik banget ya Mba,” tanyanya membuka obrolan di antara kami.

“Iya,” jawabku seraya menyimpul senyum.

“Mba nggak kepingin jalan sama Bang Tio?” tanyanya lagi.

“Enggak, lagi pingin sendiri” jawabku. Dan kami kembali saling diam, menghanyutkan diri pada suasana hati masing-masing.

Lelaki kurus yang biasa dipanggil Bang Tio itu adalah suamiku. Kehadirannya dalam hidupku telah memberi warna baru dalam hari-hariku. Ia melengkapi kebahagiaanku, terlebih setelah kami menikah beberapa hari lalu. Sebut saja jalan-jalan di Sulawesi Selatan kali ini adalah bulan madu kami. Bulan madu ala backpacker. Ya, meskipun kami tidak hanya berdua, tetapi bersama beberapa orang teman lain.

Ini adalah hari ke-4 dari 7 hari yang kami rencanakan untuk berlibur. Kemarin, kami telah menjelajahi kota Makassar, Toraja, dan beberapa obyek wisata di kabupaten Maros. Aku melewatinya dengan perasaan bahagia. Semua menyenangkan. Menyadari bahwa aku sedang traveling bersama suami, ada tempat bermanja ketika aku butuh merasa disayangi dan dicintai sebagai perempuan. Ada teman-teman yang bisa kubuat iri karena aku bisa memeluk-meluk lelakiku dengan halal. Semua itu kemudian mengundang ledekan dan bullying yang menbawa kami pada pecahnya tawa. Keceriaan yang sejenak membuat kami lupa pada beban hidup yang selalu sabar menanti hingga liburan kami usai.

Namun sepertinya suasana di hari ini sangat berbeda. Aku merasa ada yang hilang. Ada kebahagiaan yang tak hadir selama liburan kali ini. Meski ada lelaki kurus itu yang berhasil memberi kebahagiaan baru dalam hidupku. Ada perasaan hampa yang sulit kuungkapkan dan membuatku lebih banyak diam. Ah! Mungkin itu yang membuat Icha mearasa aneh melihatku seperti ini. Tak bergairah untuk bergabung dengan teman-teman lain yang asik hunting foto di sebuah restoran unik, tak jauh dari tempat aku dan Icha duduk. Bentuk restoran itu menyerupai kapal pinisi yang sedang sandar di dermaga. Lampu-pampu pijar dengan cahayanya yang temaram di restoran itu, membuat suasana malam menjadi sangat romantis.

Begitu juga saat kami kembali ke penginapan. Aku memilih menyendiri dari pada bergabung dengan teman-teman yang bercanda ria di patio kamar sambil melihat hasil foto-foto perjalanan kami. Saat ditanya kenapa, aku berdalih bahwa aku sedang berkonsentrasi untuk menulis sebuah postingan blog melalui androidku.

sunrise pantai kaluku

Pagi. Matahari mulai mengintip dari timur. Merayap naik menjauhi horizon. Cahayanya yang kuning keemasan siap menghangatkan dan menguapkan embun sisa semalam di pantai Kaluku.

Tak ada sesiapa di pantai ini kecuali rombongan kami. Serasa pantai milik pribadi saja. Aku kembali menyendiri. Duduk saja di garis pantai yang cukup panjang. Menatap langit yang menaungi laut Banda. Di belakangku, barisan pohon nyiur tumbuh menjulang. Di bawahnya, didirikan villa-villa untuk tempat menginap para wisatawan. Betapa menyenangkan jika menginap di villa berbentuk ru.ah panggung itu. Saat pagi menjelang, kita hanya perlu membuka lebar daun jendela untuk menyapa mentari pagi yang mulai menyembul di ufuk timur. Sayangnya, kondisi kantong backpacker kami hanya mampu menyewa kamar yang letaknya jauh dari tepi pantai.

Sementara di bagian utara di tepi pantai Bara, ada tempat pembuatan kapal pinisi. Di sanalah teman-temanku asik melihat-lihat kapal pinisi yang masih setengah jadi, setelah puas hunting foto-foto sunrise. Ternyata, selain di Tana Beru, di Tanjung Bira juga ada pembuatan kapal pinisi. Kemarin, kami tak sempat mampir ke Tana Beru. Padahal kami melewati daerah itu sebelum sampai di Tanjung Bira. Beruntung sekali aku bisa melihat langsung pembuatan kapal ini, meski aku tak bergairah untuk mendekatinya.

Aku pernah membaca rubrik traveling di sebuah media cetak.  Artikel tersebut membahas tentang pembuatan kapal pinisi di Tana Beru. Dari situlah aku tau bahwa kapal-kapal pinisi dibuat dengan kayu besi atau kayu jati. Satu kapal dengan tinggi 2,5 meter dan panjang 15 meter ini hanya dikerjakan oleh 10 orang pekerja saja. Dan membutuhkan waktu tidak kurang dari satu tahun untuk menyelesaikannya.

Untuk satu kapal pinisi yang sudah jadi, harganya bisa mencapai lebih dari satu milyar rupiah! Angka yang wajar menurutku, jika dibandingkan dengan proses pengerjaannya yang rumit dan memakan waktu lama. Dan yang membuatku lebih takjub lagi, ternyata teknik pembuatan kapal pinisi ini tidak didapat dari pendidikan umum. Melainkan didapat dari pengetahuan yang turun temurun dari nenek moyang.

Kabarnya, harus dilakukan ritual adat sebelum memulai pembuatan kapal. Ah, sekali lagi dan untuk kesekian kalinya aku menyadari, betapa kayanya Indonesia. Dan aku ingin melihat langsung bagaimana ritual adat tersebut. Jika tak bisa sekarang, mungkin nanti. Selalu ada alasan untuk kembali, kan?

Kembali ke tempat ini? Ya tuhan…rasanya aku tak akan sanggup jika harus menanggung beban rasa seperti ini lagi. Tiba-tiba dalam hatiku bersenandung lagu separuh nafas milik Dewa. Suara Once yang begitu khas mengalun di telingaku. Bedanya, separuh nafas yang terbang itu bukan karena dibawa pergi orang yang aku cintai. Kali ini, aku yang pergi dengan meninggalkan separuh nafasku di rumah. Ada dua peri kecil yang dimatanya memancarkan sinar penuh dongeng. Aku rindu kedua anakku.

Aroma pantai ini, mengingatkanku pada momen-momen saat kami melakukan perjalanan bersama. Aku senang menyebutnya sebagai backpacking with children. Di tepian pantai mereka selalu berhasil melukis senyum bahagia diwajahku. Ketika melihat anak-anak berlarian dengan ceria. Berkejaran kesana kemari. Bercanda riang dengan ombak yang pecah ketika menyentuh pasir. Atau saat mereka berlomba melempar pecahan karang atau kulit kerang ke lautan. Siapa yang berhasil melempar paling jauh, ia yang menang. Meski tanpa hadiah, namun ada kebanggaan tersendiri untuk mereka jika ada pengakuan atas kemenangan itu. Lalu dia yang kalah akan  berlari ke pelukanku dengan wajah cemberut. Sungguh, itu adalah saat-saat paling berharga dalam hidup. Bahwa pelukanku bisa sangat berarti bagi anak-anakku.

Mengingat itu, tiba-tiba ada yang menggenang di balik kelopak mataku. Seperti danau tanpa ombak. Yang memanas, menguap dan mendidih. Tak sanggup kutahan. “Aaaaaaaaakkkk!” Aku berteriak. Mencoba bercerita pada laut, pada ombak, pada langit, pada awan, pada matahari. Berharap mereka mengerti tanpa harus aku berkata-kata. Memahami kesedihan dalam tangis yang kusembunyikan di tengah desau angin dari lautan. Sesakit inikah rindu?

“Kamu kenapa nangis?” tanya lelaki kurusku yang tiba-tiba saja sudah berada di balik punggungku. Dilingkarkannya kedua tangan memeluk tubuhku.

Aku hanya menggeleng. Perempuan mana pun, pasti akan sulit untuk bercerita ketika sedang menangis. Aku hanya berharap, dia bisa memahami perasaanku yang seorang ibu dari dua anak lelakiku yang bukan darah dagingnya. Aku yang selalu berharap ia bisa menerimaku apapun keadaannya, sebagai single parent dengan dua anak yang telah dinikahinya. Meski sebenarnya ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap. Sikapku yang terlarut dalam kesedihan ini sudah merusak suasana bahagia libiran kami.

“Kamu masih ingat salah satu impianmu nggak?” ia bertanya lagi. Impian? Apa maksudnya bertanya soal impian? Impian yang mana?

“Kamu ingin punya anak perempuan, kan? Aku membayangkan, nanti, saat bidadari kecil itu sudah hadir di tengah-tengah kita, akan bertambah lengkap dan ramailah keluarga kita. Saat kita menua, dan bidadari itu beranjak dewasa, akan ada dua pangeran yang lebih dewasa yang akan menjaganya.”

…….

35 thoughts on “Menikmati rindu, dan merangkai mimpi di Tanjung Bira

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.