Jawa Timur, Traveling

Menikmati bahagia yang sederhana

Haus dan lapar semakin terasa di tengah panas terik kota Surabaya. Aku hanya bisa menelan ludah ketika menyaksikan orang-orang yang begitu asik meneguk aneka jenis minuman dan menyantap jajanan di sepanjang jalan yang kulewati hari ini, 12 Juli 2014. Ya, aku hampir tidak merasakan ramadhan di kota perjuangan ini meski aroma lebaran sudah tercium dimana-mana. Terbukti dengan adanya sale & diskon khusus lebaran di mal-mal dan pusat grosir, serta penjual jasa penukaran uang kertas baru di sisi jalan raya, untuk mereka yang membutuhkan sebagai angpao di hari raya.

Tak terkecuali di Jembatan merah, yang sangat ramai. Orang-orang riuh memenuhi pusat grosir, calo dan kernet angkutan kota sibuk mencari penumpang sambil menghisapi batang rokoknya, dan gerobak-gerobak penjual makanan & minuman yang tak sepi pembeli.

Tempat inilah yang kujadikan sebagai perhentian setelah sejak pagi berkeliling ke beberapa destinasi wisata di kota Surabaya. Mengintip sejarah perjuangan di Tugu Pahlawan, memotret puing-puing gedung yang menjadi latar belakang patung bapak proklamasi Indonesia, melihat diorama-diorama statis dan peninggalan bersejarah dalam Museum 10 November, lalu mengenal lebih dekat keberadaan sebuah brand rokok terbesar di Indonesia melalui House of Sampoerna.

Di tepi trotoar di keramaian Jembatan Merah, aku bersama Daffa’ & Abyan melepas penat. Pundak dan punggungku terasa letih setelah selama berjam-jam digelayuti ransel yang penuh sesak pakaian kami bertiga. Dan sejujurnya, aku sedang bingung hendak kemana lagi? Hari masih siang dan aku sudah kehabisan ide.

Aku memang agak kecewa karena hari ini gagal mengikuti Surabaya Heritage Tour. Sekitar jam setengah 12 saat aku tiba di House of Sampoerna, aku langsung mendaftar tour gratis dengan bus yang disediakan untuk berkeliling kota dan singgah ke beberapa objek wisata sejarah. Sayangnya, quota sudah penuh. Bahkan waiting list sudah banyak. Akhirnya aku hanya bisa memandangi bus yang sudah siap di halaman parkir House of Sampoerna itu. Lalu setelah puas melihat-lihat seluruh sudut ruangan dalam House of Sampoerna, kami memilih terdampar di sisi jalan tanpa tau harus kemana lagi.

Untungnya ada Daffa’ & Abyan yang selalu bisa membuatku tersenyum dengan penemuan-penemuannya yang sederhana, namun mampu memecahkan bongkahan es yang membekukan fikiran.

“Waw, ada mobil balap!”, seru Daffa’ ketika sebuah mobil sedan Toyota Corolla tua melintas di depan kami.

“Iya, kayak yang di film The Cars”, ujar Abyan menanggapi seruan kakak laki-lakinya.

Toyota Corolla yang baru saja melintasi jalan raya di Jembatan Merah itu tampaknya berasal dari tahun 90-an, atau mungkin lebih tua dari itu. Bentuknya masih kotak, dengan cat warna merah dan suara mesinnya terdengar keras menderu. Tambahan beberapa aksesori pada body mobil dan tempelan berbagai stiker sporty membuatnya tampil layaknya mobil balap. Seketika itu aku teringat mobil tua berwarna hijau, yang hampir kehabisan tenaga di putaran terakhir balapan untuk memperebutkan piala piston dalam film animasi The Cars.

“Bu, nanti beli mobil yang kayak gitu aja”, pinta Daffa’ kemudian.

“Iya, iya. Yang kayak gitu bagus”, Abyan pun mengamini.

“Yakin yang kayak gitu?”, tanyaku. “Gimana kalo kayak gitu aja?”, tanyaku lagi sambil menunjuk Toyota Vios warna putih berplat kuning, taxi di Surabaya.

“Iya, itu juga bagus, beli ya, Bu”

“Tapi kan, yang tadi juga bagus. Mobil balap aja ya, Bu”

“Beli 2 aja, Bu”

Dan kami larut dalam dunia kami sendiri, sambil sesekali meladeni pertanyaan calo dan kernet yang menawarkan jasa angkutan ke berbagai jurusan.

Seperti yang banyak orang bilang bahwa bahagia itu sederhana. Bagi kami, mungkin sesederhana saat duduk dalam angkot yang harus berhenti di sebuah perempatan jalan karena lampu merah menyala. Kami biasa bersama-sama menghitung mundur seirama angka-angka digital di tiang lampu lalu lintas. Lalu saat lampu hijau kembali menyala, kami berseru “yeay!”, bersamaan dengan gerak kaki sopir angkot yang mulai menginjak pedal gas.

Atau, seperti kebahagiaan yang kami nikmati kali ini. Memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di depan kami, berandai-andai tentang mobil seperti apa yang ingin kami miliki, atau menghitung seberapa banyak mobil dengan warna yang kami sukai. Satu mobil merah, dua mobil merah, tiga, empat, dan seterusnya, sampai ada hal menarik lain yang mengalihkan perhatian kami, lalu terlarut lagi dalam kebahagiaan sederhana lainnya, hingga tak sadar waktu telah banyak berlalu.

Bip…bip! Kudengar notifikasi sms dari hape yang kusimpan di saku celana. SMS dari Rifqy, teman backpacker di Malang. Ia bertanya kira-kira jam berapa aku sampai di Malang. Aku masih belum tau. Sejak tadi di antara lalu lalang kendaraan, sudah beberapa bus jurusan Terminal Bungursih berangkat dari Jembatan Merah. Dari terminal Bungursih itulah nanti aku bisa menemukan bus jurisan Malang. Tapi entah mengapa aku masih enggan untuk beranjak dari trotoar tempat aku dan anak-anakku duduk. Seperti masih ada satu destinasi yang harus kudatangi, tapi apa? Oh ya, patung Suro dan Boyo!

Kutengok lagi jam tangan analog di pergelangan tangan kiriku, sudah jam 3 sore. Sepertinya masih sempat mampir ke landmark Surabaya yang terkenal itu sebelum bertolak menuju Malang.

Hallo, Rifqy. Mungkin aku sampai di terminal Arjosari pas magrib. Message Sent.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.