Sulawesi Selatan, Traveling

Mengintip Pesona Wisata Selayar

Dari balik kaca jendela bus jurusan Makassar – Selayar, aku terkesima memandang jajaran pohon nyiur yang tumbuh tinggi di hampir sepanjang pantai yang aku lewati. Saat itu aku dalam perjalanan dari Pelabuhan Pamatata Selayar menuju Kota Benteng, dan hari sudah menjelang malam. Jauh di balik pohon-pohon nyiur itu tampak kaki langit yang masih memerah sisa cahaya matahari yang sudah terbenam. Laksana rayuan pulau kelapa yang membayar lunas rasa lelahku setelah perjalanan panjang dari Makassar.

Pulau Selayar adalah pulau terbesar di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Ibu kotanya berada di Kota Benteng yang dapat ditempuh dengan berkendara selama 2 jam. Selain pantai-pantai dengan pohon nyiurnya, di sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Pamatata menuju Kota Benteng, aku juga menikmati panorama perkampungan penduduk dengan rumah-rumah panggungnya yang unik.

Bagiku, traveling di Selayar adalah pengalaman yang mengesankan. Selain bisa menikmati pantai-pantainya yang indah, aku juga sempat mengjunjungi beberapa objek wisata yang terkenal seperti Gong Nekara, Jangkar Raksasa, Museum Tana Doang, serta Perkampungan Tua Bitombang yang mengagumkan. Semua objek wisata tersebut bisa dijangkau dengan angkot trayek Dermaga Rauf Rahman – Desa Padang. Terkecuali Perkampungan Tua Bitombang yang terletak di Keluarahan Bontobangun, sekitar 7 kilometer dari Kota Benteng.

Untuk akomodasi, ada banyak jenis penginapan yang bisa dijadikan pilihan. Mulai dari homestay bertarif Rp50.000 per malam per orang, sampai hotel berbintang di lokasi-lokasi strategis. Meski sayangnya, di Selayar tidak ada ragam kuliner yang bisa dinikmati oleh traveler yang doyan kulineran. Namun mungkin aku sempat dibuat terkejut saat mencoba menu seafood di warung-warung tenda di sekitaran Dermaga Rauf Rahman. Harganya murah meriah! Untuk satu porsi nasi santan (nasi uduk) dan cumi bakar ukuran sedang, harganya cuma Rp17.000 loh!

By the way, ngapain aja di Pulau Selayar? Aku sempat singgah selama 2 hari di Kota Benteng setelah mengikuti Festival Takabonerate pada aal September 2014 lalu. Hari pertama aku bersama beberapa orang teman memutuskan untuk land tour dan melihat-lihat beberapa objek wisata sejarah, mengunjungi Kampung Tua Bitombang, dan menikmati sunset di Pantai Baloyya. Sementara di hari kedua, aku memutuskan untuk menjelajahi pantai-pantai cantik di Pulau Gusung yang letaknya di Pantai Barat Pulau Selayar.

Sekarang, kita coba ulas satu per satu yuk obyek wisata yang sempat aku kunjungi pada hari pertama di Pulau Selayar.

Perkampungan Tua Bitombang

Keberadaan rumah panggung berarsitektur kuno di Kampung Tua Bitombang menjadikannya destinasi wisata yang tak boleh terlewatkan saat traveling ke Selayar. Rumah-rumah yang diberi nama Sapo tersebut dibangun di atas daratan yang topografinya tidak rata, yaitu berbatu dan berundak, seperti bebukitan dengan tebing batu. Maka bersiaplah berdecak kagum menyaksikan tiang-tiang menyangga yang tingginya mencapai 10 – 15 meter.

Tiang-tiang itu berasal dari batang pohon kayu bitti (bahasa bugis), yang sudah terbukti kuat dan tahan lama. Dan meski usianya sudah puluhan hingga ratusan tahun, rumah-rumah panggung tersebut masih terlihat kokoh. Hebatnya lagi, rumah-rumah ini telah dihuni secara turun temurun hingga 3 generasi, dengan rata-rata usia penduduk aslinya mencapai lebih dari 90 tahun.

Penduduk setempat mempercayai bahwa panjangnya tiang rumah itu berhubungan dengan panjangnya usia mereka. Saat berada di sana aku sempat bertemu dengan seorang kakek-kakek yang menyapa kami dengan sangat ramah dari beranda rumahnya.

Hal lain yang membuatku terpesona adalah panorama alamnya yang sangat indah saat dinikmati dari ketinggian. Aku dapat melihat jajaran atap-atap rumah panggung dan sebuah kubah masjid di antaranya, jalanan yang meliuk, bebukitan berselimut pohon-pohon hijau, di bawah naungan langit biru dan awan-awan putih yang berarak. Ah, sempurna!

Perkampungan Tua Bitombang dapat ditempuh dengan berkendara selama 45 menit dari Kota Benteng. Jaraknya sekitar 7 kilo meter dengan kondisi jalan yang sedikit menantang karena jalanan yang mendaki, berkelok dan sedikit terjal. Perkampungan ini berlokasi di Keluarahan Bontobangun, Kecamatan Bontobangun, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Jangkar Rasaksa

Di desa Padang, sebuah desa nelayan di Pulau Selayar, terdapat dua jangkar yang diyakini sebagai jangkar rasaksa (jangkar terbesar) pada masanya yaitu abad ke-17. Jangkar pertama berukuran 226 cm untuk panjang batang, 167 cm untuk panjang lengkungan, dengan diameter batang 60 cm. Sementara jangkar kedua memiliki panjang batang 229 cm, panjang lengkungan 117 cm dan berdiameter 70 cm.

Selain jangkar rasaksa, di tempat penyimpanan jangkar ini juga terdapat 3 buah meriam kuno. Masing-masing memiliki panjang 117 sm, 123 cm, dan 125 cm.

Konon, jangkar dan meriam kuno ini milik saudagar berbeda yang sempat singgah di desa Padang, di Pulau Selayar. Pada masa itu, ada seorang saudagar cina berdama Gowa Liong Hui yang berlayar menggunakan kapal yang sangat besar, kemudian singgal di desa padang dan kapalnya rusak sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan, Dua jangkar rasaksanya itu kemudian diamankan oleh penduduk dan disimpan hingga sekarang.

Sedangkan asal-usul meriam, konon milik saudagar asal Gowa bernama Baba Desan. Dalam pelayaran bersama armadanya, Baba Desan sering mendapat serangan sehingga harus membawa meriam.

Gong Nekara

Gong Nekara menjadi salah satu objek yang sayang jika dilewatkan saat berada di Selayar. Gong ini tersimpan di daerah Bonto Bangun (Matalalang). Konon, Gong Nekara ini merupakan gong terbesar dan tertua di Asa Tenggara, yaitu diproduksi pada sekitar 600 tahun sebelum masehi. Gong nekara ini berfungsi sebagai alat komunikasi, dan untuk upacara-upacara keagamaan pada masa kebudayaan perunggu.

Berbagai sumber menyebutkan kalau Gong Nekara hanya ada 2 di dunia. Satu ada di Selayar, dan satu lagi ada di Cina. Menurut legenda, Gong Nekara ini dibawa dari Cina oleh Sawerigading, seorang putra raja Luwu, dari kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan.

Selayar menjadi daerah strategis sebagai jalur perdagangan laut ketika itu. Kapal-kapal dagang dari berbagai negara selalu singgah di Selayar sebelum melanjutkan perjalanan niaga ke wilayah Indonesia Timur maupun ke Barat. Begitu juga Sawerigading ketika kembali dari Cina dan hendak pulang ke Luwu (Luwuk) dengan membawa Gong Nekara.

Gong Nekara yang ada di Selayar tingginya 92 cm, dengan diameter 126 cm, dan terbuat dari perunggu. Gong ini merupakan gong yang indah dengan permukaan gong yang dihiasi pola geometris. Di bagian atas gong, terdapat pola hias bintang 16 jari, dan terdapat 4 ekor katak yang berkeliling di bagian tepi.

Museum Tana Doang

Museum Tana Doang adalah museum yang menyimpan benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan pelayaran dan kelautan.Tana Doang berarti tanah tempat berdoa, yang mana sejarahnya sangat berhubungan erat dengan Pulau Selayar yang menjadi tempat persinggahan bagi para pelaut di masa lampau sebelum menuju Maluku sebagai pusat dagang rempah-rempah.

Museum_Tana_Doang_1

Dalam persinggahan para peluat di Pulau Selayar itu, mereka menunggu musim yang baik untuk berlayar sambil berdoa. Karena itu lah kemudian “Tana Doang” menjadi nama lain dari Pulau Selayar.

Selain miniatur kapal pinisi, dan benda-benda kuno yang berhubungan dengan sejarah kelautan di Pulau Selayar, di Musum Tana Doang juga disimpan berbagai benda kuno lainnya seperti pakaian adat, senjata kerajaan, miniatur rumah adat, lampu kuno, serta hasil kerajinan gerabah dari dinasti Sukhothai.

Pantai Baloyya

Pantai Baloyya disebut-sebut sebagai Tanah Lot-nya Pulau Selayar, karena di pantai ini terdapat beberapa pulau kecil yang bentuknya bisa dibilang mirip dengan yang ada di Tanah Lot, Bali. Didukung dengan air laut yang jernih membuat panorama di pantai Baloyya terlihat indah dengan adanya refleksi pulau karang yang di permukaan air laut.

Pantainya berpasir dan landai. Saat aku dan teman-teman berada di sana, air laut sedang surut. Beberapa orang temanku kemudian berjalan menyeberang ke pulau karang. Lokasi pantainya yang menghadap ke barat, membuatnya menjadi tempat yang asik untuk menikmati panorama sunset.

Lokasi Pantai Baloyya ada di pinggir Jalan Poros, yang jaraknya sekitar 10 km ke arah selatan dari Kota Benteng. Tepatnya di desa Patikarya, Kecamatan Bonto Sikuyu. Hampir tak ada rumah penduduk di sekitar pantai. Namun, tak jauh dari Pantai Baloyya, terdapat sebuah villa yang bisa disewa jika ingin menikmati suasana pantai yang indah dan jauh dari keramaian kota.

How to Get There. Dari Makassar menuju Selayar, pikihan transportasi umum paling hemat adalah menggunakan bus. Bus ini berangkat dr terminal Malengkeri Makassar 2 x sehari yaitu pada jam 10 pagi dan jam 1 malam. Perjalanan kurang lebih sekotar 8-9 jam. Ongkosnya sebelum naik BBM 150rb.

Tips Backpacking Selayar

Semua obyek wisata di atas dapat dijelajahi dalam satu hari. Sebaiknya mulai penjelajahan di pagi hari. Awal September lalu, aku malah sempat tidur siang di rumah Om Anca (guide lokal) sebelum ke Pantai Baloyya. Wajar saja, kami melakukan penjelajahan menggunakan sepeda motor sehingga dapat berhemat waktu.

Khusus untuk mencapai Perkampungan Tua Bitombang, sepertinya tak ada angkutan umum. Sebaiknya sewa sepeda motor, atau sewa mobil jika bersama beberapa orang teman.

Informasi lain-lain mengenai sewa kendaraan, penginapan, dan kontak guide lokal, nanti diupdate lagi ya. Atau bisa kontak ke emailku. πŸ˜‰ Atau bisa datang ke Dinas Budaya & Pariwisata Selayar, petugasnya baik-baik kok. Disana bisa minta peta atau informasi apapun tentang pariwisata Selayar.

19 thoughts on “Mengintip Pesona Wisata Selayar

  1. Wow keren y jd interest,pgn liburan pas lebaran deh..
    Tp nginapny dmn mba yg murah,krn kami backpaker..
    Trz sewa mtrny brp 1hr?
    Kl ad mta no tlp penginapanmu mba n no hp sewa mtrny kalian..tq

  2. Untuk biaya penginapan nya seperti hotel dan motel bisa tolong diupdate untuk bulan april 2016? termasuk pondok bonerate ya mbak.. makasi

  3. Keren tks mba noe atas informasi dan pengalamanya. Sblemunya perkenalkan saya adi dari Your Travel Indonesia kantor pusat kamu di bandung. Jujur sekitar 5 bulan terakhir saya sedikit banyaknya saya sedang menggali informasi tentang kep selayar. Sebab saya mulai tertarik dengan tempat ini sejak melihat kabupaten ini ada di tv dan akhirnya saya berpikir untuk mencoba membuka jalur wisata ke arah sana baik wisatawan domestik dan mancanegara. Dan insya allah awal bulan 5 tahun 2016 ini saya akan.launching paket wisata murah ke sana dengan tema “selayar maldives nya indonesia”

    1. Jajanan pasar gitu banyak sii, kalo makanan yg spesifik kayak di makassar dg coto, atau dieng dg mie ongkloknya, kayaknya selayar ngga ada sih. πŸ˜€

  4. Hi Nurul, menarik sekali artikel nya. Saya berencana mengunjungi Selayar di bulan Juli nanti. Mohon bantuan untuk info tour guide yg dipakai oleh Nurul dan info travel yg ada di sana.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.