Mengenang Serunya Trip Makassar

Maros

Punya banyak teman itu menyenangkan. Apalagi kalau teman yang kemudian jadi seperti saudara. Semenjak senang backpackeran, rasanya aku punya banyak saudara di mana-mana. Biasa lah, kalau sesama backpacker, jadinya seperti saudara sendiri. Perasaan senasib yang kemudian menjadi semacam ikatan persaudaraan, bahkan meski baru bertemu atau berkenalan.

Seperti beberapa tahun lalu ketika aku backpackeran ke Makassar. Aku ngga sendirian, tetapi bareng beberapa teman. Totalnya ada 7 orang, termasuk aku dan suami. Ada yang berasal dari Serang, Jakarta, Bandung, Medan, juga Malang. Kami melalukan perjalanan keliling Makassar dan sekitarnya selama 7 hari. Luar biasa kebersamaan kami. Seru! Ngga ada yang namanya saling bete sesama teman. Semuanya asik dan bisa membawa diri dalam bergaul, juga dalam perjalanan.

Mau senang hayuuk! Pas kebagian apes juga ditanggung bareng. Tanpa saling menyalahkan. Tanpa ngomel atau marah-marahan. Kenangan selama ngetrip di Makassar akhir tahun 2013 itu, selalu manis untuk dikenang.

Terutama saat kami mampir silaturahmi di rumah kerabat Ojrahar (suamiku) di perumahan Antang.

Rumahnya besar. Terdiri dari dua lantai. Di lantai atas, terdapat 2 buah kamar tidur. Kamar yang satu ditempati anak perempuan dari pemilik rumah. Dan satunya lagi kamar kosong.

Pemilik rumah yang tidak lain adalah saudara dari saudara iparnya Ojrahar menyarankan, agar aku dan satu teman backpackerku yang perempuan, agar tidur bersama di kamar anak perempuannya. Sementara para backpacker yang lelaki dipersilakan menempati kamar kosong.

Berhubung waktu itu aku dan Ojrahar baru menikah, rasanya ngga rela kalau dipisah tidurnya. Haha. Jadilah aku mensabotase kamar kosong itu khusus untuk aku dan Ojrahar. Toh di lantai dua itu masih ada ruang keluarga yang lebar. Banyak sofa besar yang bisa dipakai untuk tidur. Ada beberapa matras juga di dalam kamar yang bisa digotong ke ruang keluarga. Haha. Pokoknya aku paksa mereka tidur di luar kamar.

bandara makassar

Besok paginya, saudara dari saudara ipar Ojrahar menghidangkan sarapan yang lebih dari sekedar enak untuk kami para backpacker. Pertama, teh manis panas dan pisang goreng. Sarapan tahap kedua, adalah nasi kuning lengkap dengan sambal goreng tempe, goreng kacang tanah, telur, sayur, dan sambal. Belakangan aku baru ngeh kalau nasi kuning itu adalah nasi kuning riburane yang terkenal di Makassar. Whuaah! Sebagai backpacker yang jarang ngulik kuliner yang khas, aku merasa beruntung.

Hari berikutnya, kami ngga nginap di rumah itu lagi. Selama beberapa hari kami menyewa mobil untuk melanjutkan perjalanan trip ke Tanjung Bira, juga ke Malino. Sampai hari terakhir sebelum pulang, kami masih punya satu malam lagi di Makassar. Tiket pulang kami kebetulan penerbangan pertama dari makassar, yaitu jam 5 pagi.

Kami memutuskan untuk tidak kembali ke rumah saudara Ojrahar. Sebab akan lebih jauh perjalanan ke bandara jika dari Perumahan Antang di Makassar. Mau sewa kamar di penginapan juga nanggung. Karena jam 3 pagi sudah harus ke bandara. Kalau nunggu di bandsra juga malas karena kelamaan. Beruntung ada teman backpacker asli Makassar. Namanya Om Ridho. Runahnya di tengah kota Makassar. Aku lupa alamat tepatnya.

Di sana, kami membunuh waktu dengan mengobrol. Banyak hal yang kami jadikan bahan obrolan. Namun semua masih berhubungan dengan hobi traveling. Asik sekali. Sampai akhirnya kami harus meluncur bandara dan kembali ke Jakarta.

Pantai kaluku

Seseruan di Pantai Kalukj
Seseruan di Pantai Kaluku

Hampir 3 tahun kenangan itu berlalu namun tak terlupakan sampai sekarang. Karena bersama Om Ridho juga kami menghabiskan beberapa hari yang menyenangkan di Tanjung Bira. Dan bersama Om Ridho juga kami jadi tau dimana pantai-pantai yang keren untuk dikunjungi. Mulai dari Pantai Bira saat sunset, Pantai Kaluku tempat hunting sunrise, juga Pantai Bara dengan pasir pantai yang putih dan lembut seperti tepung. Ada lagi pantai Lemo-lemo yang sunyi.

Dalam perjalanan pulang dan pergi ke Tanjung Bira, Om Ridho juga beberapa kali mengajak kami mampir ke tempat-tempat kuliner yang khas. Yang paling berkesan buatku adalah ketika makan coto kuda di Bantaeng. Aku juga suka jagung rebus di Takalar. Jagungnya unik karena warna biji jagungnya putih. Tidak seperti jagung yang biasa kulihat yang berwarna kuning.

Dan aku juga masih ingat ketika kami mampir membeli buah semangka di pinggir jalan di Takalar. Penjualnya memberi kami bonus. Itu karena di antara kami ada Om Ridho yang orang asli Makassar. Kami jadi merasa beruntung.

Makan siang di RM. Sop Saudara
Makan siang di RM. Sop Saudara
Coto Kuda
Coto Kuda

Hmm, tanpa Om Ridho, perjalanan kami ke Tanjung Bira waktu itu mungkin tidak akan seseru itu. Dan asiknya, persahabatan yang berubah menjadi seperti saudara itu membuka banyak kesempatan baru buatku. Dalam hal traveling tentunya.

Setahun setelah tripku yang pertama ke Makassar, Om Ridho mengajakku untuk ikut Festival Takabonerate. Tepatnya pada awal September 2014. Dari dua kali perjalananku di Sulawesi Selatan itu lah aku semakin merasa bahwa aku telah meninggalkan hati di tanah para Daeng itu. Someday, aku kepingin ke sana lagi. *finger crossed*

18 thoughts on “Mengenang Serunya Trip Makassar”

  1. All muslem are brothers kan gitu, pokoknya hati nak ikhlas dan niatnya baik dan jelas. pos menarik ” we are all brothers”

  2. Seru ya mbak,,, ketemu ama orang baru, pengalaman baru,,,,
    Nasi Kuning Riburane nya mana mbak? kok kelihatannya nasinya putih semua yang dihidangkan? hehehehe
    Semoga suatu saat terlaksana lagi ke Tanah Para Daeng, 🙂

  3. Seru…ajak2 donk. Aeh, 7 hari yak? Dikasih kagak yak cutinya…hehe.
    Tapi seru tuh keliatannya. Sulawesi salah satu wishlist tempat yg ingin dikunjungi. Kapan yaaa…. #sigh

Leave a Reply