Pantai di Pulau Sebuku Lampung

Menemukan Passion nge-Blog

Tidak terasa, sudah lebih dari sebulan aku mencoba konsisten untuk menghidupkan kembali blog yang terabaikan. Blog gratisan di wordpress itu bisa dibilang karatan setelah kutinggalkan pada Juli 2013 lalu karena aku pindahan ke blog ini, nurulnoe.com

Rasanya sedih ketika 2 bulan yang lalu mendapati noestyle.wordpress.com yang tak terurus. Atau dengan istilah yang banyak orang bilang, karatan, atau lumutan. Aku sudah meninggalkannya begitu lama, sehingga rank alexa saja melorot jauh. Dari yang semula sudah mendapat ranking 6 digit angka, lalu turun hingga mendekati angka 30 jutaan. Sedih juga sangat terasa jika mengigat betapa banyak teman blogger sesama pengguna wp gratisan yang kukenal dan akrab betinteraksi melalui blog, kemudian tiba-tiba seolah ada gap (jarak) setelah aku pindah rumah maya. Ya, semua memang tak akan pernah sama lagi di tempat yang baru.

Aku mulai berfikir untuk mengaktifkannya lagi. Awalnya memang aku bingung, hendak kuisi apa blog itu? Aku merasa tak punya keahlian khusus yang setiap harinya bisa melahirkan ide untuk menulis postingan baru dalam satu tema.

Sampai akhirnya aku menemukan satu ide. Ketika itu aku sedang tersesat di blognya Indah Nuria Safitri. Aku menemukan beberapa postingan weekly photo challenge. Di setiap akhir postingan, disana tercantum kalimat ajakan untuk mengikuti weekly photo challenge. Aku tertarik untuk menekan tombol mouse sbelah kiri, pada backlink yang mengarah ke dailypost.wordpress.com

Aku merasa Tuhan telah menuntunku untuk menemukan jawaban, mau diisi apa blog noestyle ini? Hmm…, ikutan challenges sepertinya Ok!

Weekly photo challenge, ketika pertama mengenalnya, bagiku seperti meneguk air laut yang justru membuat semakin haus. Lalu aku mencari blog-blog lain yang rutin mengadakan challenge fotografi setiap minggunya. Semua kulakukan agar aku bisa update blog minimal seminggu 3 kali. Dan Alhamdulillah, it works!

Meski sebenarnya aku menemukan 2 kesulitan besar disini, yaitu pertama, aku tidak mengerti sama sekali ilmu fotografi. Dan yang kedua adalah soal bahasa Inggris. Hampir semua blog yang rutin membuat challenge adalah milik blogger dari luar negeri. Jadi, tentu saja aku harus menggunakan bahasa internasional untuk mengikuti challenges mereka, agar mereka tak perlu repot menggunakan google translate untuk membaca postigan blogku.

Untuk mengatasi dua masalah itu, tentu aku harus banyak belajar dan berlatih. Untungnya, aku tipe orang yang suka tabrak lari. Atau, seorang teman pernah menulis di facebooknya yang katanya kalimat itu terinspirasi olehku. Katanya, menulislah meski belum sempurna kemampuanmu. Ya, aku memang lebih suka learning by doing.

Setelah rajin mengikuti berbagai challenges, aku mulai nyaman dan merasa asik menghidupi dua blog sekaligus. Dan aku mulai menemukan lagi komunitas pengguna wordpress gratisan. Berinteraksi, berhaha-hihi lewat kolom komentar, bertukar cerita, atau sekedar say ‘Hi’ dan mendoakan ‘Have a wonderful day!’.

Salah satu dari mereka bahkan pernah bertanya padaku, mengapa aku hanya mengikuti challenges saja padahal seharusnya aku bisa ngeblog tanpa harus diatur orang lain tentang apa yan harus kuposting di blog. Kufikir ada benarnya juga. Tapi, bagiku ini adalah proses pecarian sementara aku memang tak tau harus posting apa di blog.

Semalam aku mencoba mengamati blogku itu. Berharap bisa menemukan benang merah, apa sebenarnya yang paling menonjol disana. Dan aku menemukan sesuatu, The Beach! Iya, aku penggila pantai, dan hampir semua photo challenge kujawab dengan foto pantai. Setiap kali melihat foto pantai, aku merasakan sedang berada disana. Menghadirkan kenangan dan merasakan kembali berbagai emosi bahagia yang pernah ada seperti saat kakiku menjejak pantai-pantai itu. Mungkin, disitulah passionku. Aku mulai terfikir untuk memposting banyak foto pantai, dengan sedikit atau beberapa kata sebagai caption.

Pantai di Pulau Sebuku Lampung
Foto hasil jepretan kamera saku

Aku harap, suatu hari aku bisa mendalami teknik fotografi, punya kamera yang mumpuni, dan kemampuan bahasa Inggrisku meningkat. Eummm…, siapa tau ini turut memberi kontribusi untuk mempromosikan destinasi wisata Indonesia di dunia Internasional.

Jadi begitulah prosesku menemukan passion. Tak mengapa untuk menjadi orang lain, alias ikut-ikutan orang lain pada awalnya. Akan ada saatnya nanti, kita pasti menemukan jalan untuk menjadi diri sendiri. Hal terpenting, ngeblog lah dengan hati bahagia tanpa paksaan.

Bagaimana denganmu?

Leave a Reply