Singapore, Traveling

Menderita di Singapura

Benteng pertahanan ketegaranku nyaris hancur. Aku melemah. Menyerah dan kembali menyadari bahwa sekuat apapun, pasti ada sisi rapuh yang membuat perempuan butuh pelindung.

Di stasiun MRT Woodland, ingin sekali aku menangis di pundak lelaki kurusku. Tetapi air mata tetap kutahan agar tak jatuh. Hanya saja, wajahku sudah tak bisa berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.

Backpacking Singapura

Melihat gelagatku, Daffa’, Abyan, dan teman-temanku menjadi khawatir. Mereka menanyakan keadaanku. Apakah aku sakit? Aku menggeleng dan segera mengenakan topeng ceria yang masih kupunya. Aku membuat senyum lebar sehingga menunjukkan barisan gigiku yang tak terlalu rapi dan tak begitu putih. Aku tak mau merusak suasana bahagia trip kami. Jadi kukatakan kepada mereka, bahwa aku hanya sedang ingin bermanja saja pada suami.

Usai menanyakan keadanku, mereka kembali pada aktivitasnya masing-masing. Tenggelam dalam penantian yang membosankan. Menanti dua orang di antara kami yang memutuskan berpisah dari rombongan karena ada tujuan diluar itinerary yang ingin mereka datangi. Kami sepakat untuk berkumpul di Stasiun MRT Woodland untuk kemudian naik bus ke Johor Baru-Malaysia. Sayangnya, mereka terjebak hujan di Vivo City Mal, sehingga tak bisa berkumpul tepat waktu. Alhasil kami harus menunggu berjam-jam lamanya.

Rasa bosan dalam sebuah penantian membuatku semakin gelisah. Tak seperti Daffa’ & Abyan yang tetap asik berlarian kesana kemari. Daffa’ & Abyan bermain-main dengan kamera dan membidik objek apapun yang menarik perhatian mereka. Ia tak mengerti bahwa ada hal membuatku cemas.

Hasil bidikan kamera Abyan, sampe jongkok-jongkok motretin burung

Berkali-kali kulirik arlojiku. Hari semakin sore. Sudah jam 3 waktu Singapura dan yang kami tunggu belum kunjung datang. Aku takut kami kemalaman sampai di terminal Larkin di Johor Baru dan kehabisan bus menuju Malaka. Di tengah rasa takutku, sakit yang kurasakan semakin menjadi.

Hiks, sakit Bang.” Bisikku manja.

Tak banyak yang bisa ia lakukan, kecuali merangkulku lebih erat dan mengusap kepalaku setiap kali aku meringis menahan sakit, atau merengek di dekat telinganya. Tetapi bagiku, itu sudah cukup membuatku merasa lebih baik. Setidaknya, ada tempat dimana aku bisa jujur dengan keadaan sakitku, dan tidak terus-terusan berakting bahwa aku baik-baik saja di depan teman-teman seperjalananku.

“Perjalanan kita masih panjang, kamu masih kuat ngga?” Sepertinya kekhawatiran lelaki kurusku sudah mulai mendekati level maksimal. Aku diam saja. “Jadi harus digimanain, ke dokter?” Tanyanya lagi.

“Aku nggak butuh obat dokter, aku butuh makan buah dan sayuran.” Jawabku, masih dengan nada manja.

Lelaki kurusku menarik nafas panjang mendengar jawabanku. Agaknya aku tau apa yang memberatkan fikirannya. Aku pun sama. Berfikir bahwa ke dokter dan atau memenuhi kebutuhan sayur dan buah untukku adalah dua hal yang sama-sama berat. Mengingat budget kami yang sangat terbatas. Aku sampai ngeri setiap kali melihat banderol harga buah dan sayur di supermarket. Mahal! Akhirnya kami hanya bisa pasrah pada keadaan. Dan belajar menerima bahwa ini adalah risiko yang harus kuhadapi, meski tak pernah terfikir sebelumnya bahwa ini bisa terjadi.

Gokilnya teman-teman disela waktu menunggu

Mau kah kamu tau apa yang mebuatku menderita selama dua hari jalan-jalan ala backpacker di Singapura?

Semua berawal dari kenekatan kami untuk tetap berangkat dan merealisasikan impian untuk menjejakan kaki ke Titik Nol Kilometer Indonesia di Sabang, Pulau Weh, Aceh. Sejak beberapa bulan sebelum hari H, aku sudah pesimis. Mengingat ketiadaan uang lebih untuk membiayai perjalanan kami. Tetapi jika tidak sekarang, kapan lagi punya kesempatan mbolang ke Aceh? Sementara serangkaian tiket sudah terbeli. Akankah dibiarkan hangus begitu saja?

Aku menolak untuk menyerah. Aku memilih menjadi air, yang sesuai fitrahnya selalu bergerak ke tempat yang lebih rendah, menuju lautan. Tak ada satu batu besar pun yang bisa menghalangi. Satu jalan tertutup, akan kucari jalan lain. Tujuanku harus tercapai. Harus!

Kupakai saja uang bonus tahunan dari kantor yang baru masuk ke rekeningku akhir bulan Maret lalu. Seharusnya uang itu untuk melunasi tagihan kartu kredit hasil transaksi pembelian tiket pesawat. Tagihan kartu kredit urusan nanti saja, fikirku. Nekat saja kutukarkan sebagian uang itu dengan Dollar Singapura dan Ringgit Malaysia untuk biaya hidup selama transit sebelum sampai di Banda Aceh. Sebagian lainnya, kubiarkan di dalam rekening untuk kutarik melalui ATM di Aceh untuk biaya hidup di sana nanti.

Aku sangat berharap 60SGD dan 400MYR bisa cukup untuk biaya hidup sekeluarga selama 2 hari di Singapura, 1 hari di Malaka, dan 1 hari di Kuala Lumpur. Nyatanya, baru melewati 2 hari di Singapura aku sudah babak belur.

Pusing cari tempat makan halal dan murah di Chinatown

Untuk kedua kalinya, hari-hari di Singapura adalah hari-hari makan burger. Sama seperti ketika dulu aku backpacking di negara singa ini bersama Daffa’ & Abyan, di tahun 2013 bulan Mei. Tiada hari tanpa burger. Mahalnya harga air minum juga membuatku harus bisa menahan haus sedikit lebih lama. Bayangkan, sebotol air minum ukuran 600ml harganya hampir 20 ribu rupiah!

Bertahan dua hari di Singapura dengan pola makan yang kacau, ditambah kondisi fisik yang harus diforsir karena banyak jalan kaki ke beberapa landmark, membuat hemorhoid-ku kambuh. Kaki pegal dan badan capek karena harus jalan kaki, bagiku tidak terlalu masalah. Meski hamil, aku masih bisa dan biasa melakukannya. Tetapi jika ditambah dengan sakitnya hemorhoid yang kambuh, harus kuakui, aku tersiksa. Duduk tak enak, tidur pun tak nyenyak.

Untung saja aku membatalkan ide gilaku untuk tidur ngemper di Changi Airport. Budget kembali jebol karena harus mencari tempat menginap dadakan. Mencari penginapan secara go show memang bukan ide bagus. Harganya tidak bisa semurah jika memesan jauh-jauh hari di situs booking hotel online. Tapi kami tetap berusaha mencari akomodasi termurah.

Hal pertama yang kami lakukan setelah sampai di Changi Airport setelah terbang dari Jakarta, adalah memanfaatkan koneksi wifi gratis bandara untuk mengintip harga penginapan termurah di beberapa situs booking hotel online.

Tetapi kami tidak langsung memesan secara online. Kami memilih untuk datang langsung ke hostel pilihan kami, City Backpacker Hostel di daerah Kallang. Aku berharap bisa menawar harga dan mendapat keringanan untuk kedua anakku. Dan berhasil, Daffa’ & Abyan boleh tidur di satu single bed di kamar dorm dan hanya membayar biaya menginap untuk satu orang saja. Biayanya 15 dollar per orang per malam.

Bisa kamu hitung, berapa sisa uangku yang cuma 60 dollar itu jika dikurangi biaya penginapan sebesar 45 dollar untukku sekeluarga? Ya, hanya tersisa 15 dollar saja untuk makan dan minum selama 2 hari di Singapura. Belum lagi biaya transportasi naik MRT kesana kemari.

Merlion
Foto bersama, minus duo Ira & Hasni

Cukup uang segitu? Tentu jawabannya tidak. Karena untuk satu kali makan burger saja, di Mc.D bisa menghabiskan 8 dollar per porsi. Untungnya, kami serombongan backpacker yang haus akan penglaman jalan-jalan di negeri orang ini, memiliki tingkat toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Saling pinjam pun tak bisa dihindarkan. Ya, karena kami menyadari, perjalanan ini bukan soal ‘aku’ , tetapi tentang ‘kita’.

Memang, rute perjalanan kami sangat unik. Tujuan utamanya adalah Aceh, tetapi kami harus memutar ke Singapura dan Malaysia terlebih dahulu. Ini karena ada beberapa orang di antara kami yang belum pernah mencicipi traveling di kedua negara tersebut. Jadi, ya sudah lah, hitung-hitung transit. Selain itu, biaya tiket pesawat dengan rute ini terbilang lebih murah dibanding harga tiket langsung dari Jakarta ke Aceh. Jadi, kunikmati saja, meski akhirnya harus menderita.

Tetapi bukankah selalu ada keindahan dibalik derita? Ya, seperti pelangi yang datang usai hujan reda. Ah, aku jadi tak sabar menanti hari-hariku selanjutnya di Malaysia dan Aceh.

*****

Note: Foto-foto dalam postingan ini adalah hasil jepretan Abyan, si bocah 6 tahun, kecuali foto terakhir yang di merlion.

38 thoughts on “Menderita di Singapura

  1. Owalah, ada hemoroid juga ya? Ah tos dulu dehhh -_-
    I feel you lah gimana itu rasanya, haduuuuhhhhhh udah deh auk ah susah ngejelasinnya. Aku pernah lo malah baru kemaren ini ngalamin “kesentuh” aja sakit. Laaah pegimana waktu kita mau bebersih abis pup.. ih ampun deh tersiksanyaa.. Hmm Akhirnya gimana itu? Sembuh sendiri dan sesekali kambuh ato gimana?

  2. Aku punya dua komentar buat tulisan ini….

    1) Aku ikut merasakan kegetiran dan penderitaan tersebut, ikut sedih namun bersyukur Mbak Noe dkk bisa melaluinya. Toh hari pasti akan berlalu kan? 🙂

    2) Jujur, impresi pertamaku terhadap hasil potretan Abyan adalah: terkesima! Nyambung banget sama tulisannya, paling suka dua foto, antara lain burung yang dipotret sampe jongkok, sama putaran kipas angin dan sesosok laki-laki di bawahnya memegang kepala. Aku berpikir sangat mungkin dia semakin ke sini semakin menghasilkan foto-foto yang sesuai penglihatan dan sudut pandangnya sendiri. Ada kesan kesunyian, penantian, dan kecemasan. Realis banget! Semoga semakin terasah dan bukan tak mungkin kalau ditekuni (walau sekadar hobi) bisa semakin matang. Bukti bahwa kamera/lensa tak mempengaruhinya menghasilkan foto yang berbicara. 🙂

    1. Yg lg pegang kepala itu si Ihwan, inget kan yg wkt itu ke pulau Merak bareng. 😀 wah, ini ya komentar dr sudut pandang org yg ngerti fotografi. Mungkin memang abyan mulai menemukan passionnya. Semoga berujung pada takdir yang baik, aamiin. Makasih doanya, Pakde 🙂

  3. Waduhh mbak… baca ini aku malah kasian ama dedek bayi yang ada di perut >.<
    Eh tapi akhirnya bisa levitasi di Aceh ya, ahh semoga sehat dehh… jangan ngampet nggak minum lagi mbak, kesehatan dan nyawa lebih penting daripada uang *wink*

    1. Haha iya Halim, masalahe wkt itu kan duitnya gk ada, bkn ngempetnya sih. *alesan*

      Pesan moralnya adalah, bagaimana kita melihat keindahan dibalik derita itu, halagh. *sok bejek*

  4. Ngooookkk itu beneran ya mbak menderita gitu? Bekpeking gak harus menderita kok hahaha… Masak air minum gak kuat beli, kan banyak air kran yg aman diminum… Klo gak kuat beli buah, jus banyak kok dijual dengan harga yang sangat-sangat masuk akal loh mbak….

    Aku kok gak pernah menderita ya klo lagi bekpekeran hahaha

    1. Beda orang kan beda tipe mas, cara menikmati perjalanan. Begitu jga pengalaman, akan beda satu sama lain meskipun tempat yang dikunjungi sama. Dan perbedaan itu memperkaya dunia, toh? Selamat kalo dikau gk pernah menderita. Aku doain dirimu bahagia selaluuuu. Aamiin..

      1. Iya mbak iyaaaa hehehe,,, asekk didoain,,, makasih loh mbak doanya…

        Btw mbak baru ngeh klo lagi hamil… mau komen jleb lagi ahhh… mbak klo lagi hamil jangan egois mbak, kasian bebinya mbak,,, aku doain bebinya sehat selalu ya mbak, amin ^_^

  5. Wah De Noe… itu sih bener2 petualangan namanya… Alhamdulillah ya petualangannya menyenangkan (terlepas dari masalah hemorhoid yang kambuh).
    BTW Abyan pinter banget moto ya?

    1. Iyaa.. Petualangan penuh nekaat. 😀 Makasih bude Reni, doain Abyan n Daffa jd anaj soleh n pinter yaaa. Aamiin

  6. pelangi hadir setelah hujan reda… semangaaat bumiiiil, akhirnya perjalanan cantikmu usai dan cerita ini akan mengilhami siapapun yang akan berpetualang ke sana, Ya

  7. sebegitu rumit yang harus dijalani demi melihat Acehku tercinta … makasih banyak mak, semoga semua lelah terbayar setelah melihat keindahan Banda Aceh dan Sabang ya mak 🙂
    jaga kesehatan ya, banyakin makan buah dan sayur ya. minum air putih juga. :*

  8. hahahaha paham kalo bukan sekarang kapan lagiii???? itu yg sering aku lakuin kalo lagi kumat nekatnya, tapi itu sblm jamannya nikah sih…kenal sm pak cuami rada beda pemahaman, jadi ya manut2 ae lah..pokoke ayem hihi

    satu lagi “…memiliki tingkat toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Saling pinjam pun tak bisa dihindarkan” waktu “mbolang” berdua, cewek2 pulak di Lombok aku ya sempet kehabisan duit, tapi alhamdulillah tmnku mengerti dan dgn rela hati meminjamkan duitnya hihihihi “that’s what friend are for” kan 🙂

    btw sehat2 dedek n ibunyaaaa, aamiin ya Rabb

    1. Haha… Ternyata dikau nekatan juga, tp bagus lah skrg ada cuami sbg penyeimbang. Ngga kaya aku, mr.cuami ku mah hayok2 aja klo diajakin nekat. Wkwk

      Saat jln sm tmn, memang harusnya gitu ya. Beruntung kita punya seperjalanan teman yg baik baik. Alhamdulillah… N makasih doanya, dokau jg sehaaat terus yaa, aamiin…

    1. Mihihi… Gawan bayi kayane, edan ket konone. 😀 Alhamdulillah saiki wes mendingan 😉 matur nuwun mbakyuuu…

  9. Selalu ada hikmah di balik setiap kesusahan. Tapi saya salut sama orang-orang, juga keluarga muda yang berani ngajak jalan dalam keadaan mepet gitu, karena saya pasti akan nyerah duluan.

    Betewe, fotonya keren banget, Abyan pintar juga ya ambil moment yang pas 🙂

    1. Ini nama ya the power of nekat, mba. Haha… Hidup kan pilihan, jd ya sah2 aja klo lbh milih nyerah dr pd maksain jln dlm kondisi mepet. Kan, jalan3 gk hrs mancanegara… 😉

      Abyan emg udh kialatan hobi motret niih, doakan moga membawanya ke takdir yg baiik. Aamiin

  10. Kaka! U’re great! *masih terkesima sama fotonya Kaka.
    *oot* but really, nekatmu itu lhoo… entah harus acungi berapa jempol plus sambil geleng-geleng kepala.

    great things happened with difficulties. *mencoba bijak* :p

  11. Pengalaman itu emang mahal ya Mbak Noe. Alhamdulillah lembali pulang tanpa kekirsngan apapun. Aku kagum pada ketangguhanmu 🙂

    1. Ngga ada cara lain mba, ngga punya pilihan selain nekat jln dan berani ambil resiko. Mau jln ala mewah2 gk kejangkaauuu 😀

    1. Lebih baiknya si kalo gk mau mampir2, ambil rute CGK-KUL-BTJ pake air asia, klo lg promo bisa dibawah 1jt PP lho. 😉

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.