Malaysia

Mencicipi Objek Wisata Gratis di Malaka

Malaka di mataku seperti gadis tahun 45. Dengan rambut dikepang dua dan dijulurkan ke depan dada. Bermata bulat dan bibir mengulum senyum. Mengenakan blouse putih dengan rok potong payung warna gelap sepanjang lutut. Di salah satu sisi bahunya tergantung tas selempang, lalu berjalan di trotoar jalan sambil menuntun sepeda onthel. Jadul, tapi cantik dan mempesona!

Malaka_Kapal_Cheng_Ho

Aku jatuh cinta gedung-gedung bergaya eropa, bekas pemeritahan kolonial yang masih kokoh dan terawat. Pada nuansa oriental di sepanjang jalan Jongker Street. Pada Sungai Malaka dan refleksi gedung-gedung yang berdiri di tepi sungai saat sinar matahari sedang bersinar. Lingkungan yang sehat, bebas dari sampah berserakan, dan udara segar tanpa polusi knalpot atau pun asap rokok.

Sudah 2 kali aku mengunjungi kota ini, meski hanya untuk singgah sejenak sebelum melanjutkan ke kota tujuan berikutnya, atau sebelum kembali lagi ke tanah air. Meski dalam waktu yang singkat, tak lebih dari sehari, sudah cukup menyenangkan dan meninggalkan kesan di hati. Karena setiap sudut dan jalan di Pusat Kota Malaka menyuguhkan banyak sekali hal menarik. Barikut adalah sebagian kecil yang sempat aku nikmati di Malaka meski hanya dalam waktu nggak lebih dari 8 jam.

Stadhuys

Stadhuys sebenarnya adalah sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal Gubernur Belanda pada masa pendudukan Belanda di Malaka. Bangunan berwarna merah coral ini didirikan pada tahun 1650, dan menjadi pusat pemerintahan Belanda kala itu. Ingris mulai mengambil alih kekuasaan Malaka dari Belanda pada abad ke 19, yaitu sekitar tahun 1824. Pada masa kekuasaan Inggris, Stadhuys sempat difungsikan sebagai sekolah gratis bagi penduduk local yang dibina oleh para Misionaris Inggris.

Malaka_Kincir_Angin

Malaysia menyatakan kemerdekaannya pada 30 Agustus 1957, dan kemudian Stadhuys difungsikan sebagai Historical Museum pada 1982.

Stadhuys terletak di jantung kota Malaka, atau biasa di kenal sebagai Red Square. Selain Stadhuys, terdapat banyak bangunan cantik lainnya yang hampir kesemuanya menggunakan warna cat yang sama. Sebut saja Christ Church (Gereja) yang dibangun bersebelahan dengan Stadhuys, serta Clock Tower (Jam Menara).

Di tengah-tengah, di antara Stadhuys, Christ Church dan Clock Tower, terdapat sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga dan air mancur. Di sekitran taman ini, banyak becak romantis yang mangkal. Becak-becak tersebut dihiasi bunga, boneka teddy bear, lampu kelap kelip, dan full music. Kita bisa menyewa becak ini seharga 20 ringgit untuk mengelilingi Kota Malaka selama 15 menit.

Dekat dengan Clock Tower, terdapat sebuah meriam kecil yang juga dilestarikan sebagai peninggalan sejarah. Clock Tower ini letaknya persis di dekat bundaran, dimana bus kota dari Terminal Malaka Sentral akan menurunkan penumpangnya yang hendak menikmati keindahan Kota Malaka. Di seberang Clock Tower, setelah bundaran, terdapat sebuah Masjid yang juga memiliki nilai sejarah.

Malacca River

Berjalan menyusuri tepian sungai Malaka, membuatku harus berhenti berkali-kali untuk menikmati satu demi satu peninggalan sejarah dari kota bekas jajahan Portugis, Belanda dan Inggris. Dimulai dari Jembatan Tan Kim Seng, terdapat sebuah taman di sebelah timur jembatan. Tanaman hias dan beberapa pohon palem semarak menghidupkan suasana. Di tengan taman, terdapat replika kincir angin yang menarik untuk dijadikan background foto narsis

Malacca_River

Jika berjalan ke arah barat dari jembatan, kita bisa menikmati suasana sungai malaka yang cantik. Sungai yang bersih, dengan refleksi gedung-gedung yang ada di sekitarnya.

Selain itu, ada beberapa objek peninggalan sejarah Malaka di sepanjang tepian sungai. Mulai dari Kincir Air, Benteng Middleburg, dan kapal laut yang dijadikan museum. Memotret museum ini dari luar saja kurasa cukup jika hanya ingin cuci mata scara gratis. Tapi jika mau mengeluarkan uang untuk masuk ke dalam museum ya boleh saja. 😀

Tak jauh dari museum ini kita dapat melihat menara taming sari, yaitu sebuah menara yang menjulang tinggi berwarna putih. Wisatawan bisa naik ke menara ini untuk menikmati panorama kota Malaka dari ketinggian dengan membayar sebesar 20 ringgit.

Jongker Street

Di seberang Stadhuys, setelah menyeberang Jembatan Tan Kim Seng, ada Hard Rock Café yang juga bisa menjadi background atau objek untuk difoto. Tak jauh dari Hard Rock Café, jika berjalan terus saja, ada sebuah bundaran di mana di tengah-tengahnya terdapat miniatur kapal Cheng Ho. Di bawahnya, dipajang juga keramik-keramik khas budaya China yang mewakili komunitas China yang mayoritas tinggal di kawasan Jongker. (UPDATE: Maret 2015 saat berkunjung ke Malaka untuk ke-3 kalinya, miniatur kapal Cheng Ho sudah tidak ada)

Hard Rock Cafe Malaka

Di salah satu potongan jalan yang bertemu dengan bundaran ini, kita dapat menemukan Jongker Street. Di sepanjang jalan Jongker Street, kita bisa menikmati gedung-gedung tua dengan banyak pernak-pernik khas China seperti lampion, papan nama dengan aksara kanji, atau tempat sembahyang di dinding di sudut teras.

Setiap sabtu malam, Jongker Street menjelma menjadi Jongker Walk alias pasar malam. Di moment inilah saat yang tepat untuk mencicipi berbagai kuliner atau sekalian shoping.

Jalan-jalanku di Jongker Street biasanya berakhir di sebuah taman kecil dimana terdapat prasasti Taman Warisan Dunia Jongker Walk.

Mei 2013, ketika aku mengajak Daffa’ & Abyan ke Malaka, di taman inilah kami beristirahat setelah capek keliling Jongler Walk di malam Minggu. Suasana Jongker Walk malam itu ramai sekali. Berbagai dagangan dijual. Segala macam ada. Baju, tas, sepatu, mainan anak-anak, souvenir, peralatan dapur, or you name it.

Bagian yang paling menyenangkan adalah jajanannya. Aku sempat mencicipi bola-bola isi durian, lumpia isi durian, sus durian, semua kue isi durian aku beli. 😀

Sedangkan pada April 2014, aku sempat menginap di Vinz Hotel, masih di kawasan Jongker Street. Esoknya kami menikmati suasana Kota Malaka sebelum kembali ke Jakarta pada sore hari.

How To Get There

Dari bandara Kuala Lumpur, terdapat layanan bus langsung ke Malaka. Ongkosnya 21 ringgit, dengan jarak termpuh sekitar 2 jam. Namun aku sendiri belum pernah menggunakan jasa bus tersebut karena jadwal yang nggak pas. Dari pada harus menunggu lama untuk jadwal keberangkatan bus berikutnya yang bisa memakan waktu tunggu sampai 2 jam, aku lebih suka menggunakan rute alternatif sebagai berikut.

  1. Bus dari bandara ke Terminal Bandar Tasik Selatan, estimasi waktu 1 jam, ongkos sekitar 10 ringgit.
  2. Bus dari Terminal Bandar Tasik Selatan ke Terminal Malaka Sentral, estimasi waktu 1 jam, ongkos 10 s.d. 13 ringgit (tergantung jenis bus yang dipilih).

Dari Terminal Malaka Sentral, bisa menuju Stadhuys dengan bus kota nomor 17. Ongkosnya sekitar 5 ringgit. Bus terakhir yang jalan dari Malaka Sentral ke Stadhuys, berangkat sekitar jam 6 sore. Lewat jam 6 sore, kita bisa menggunakan taksi dengan tarif 20 ringgit. Taksi ini bisa mengangkut penumpang maksimal 4 orang, jadi bisa share cost kan tuh.

2 thoughts on “Mencicipi Objek Wisata Gratis di Malaka

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.