Curcol

Mencari Jawab

Aku seperti menemukan syurga ketika melihat sebuah booth dengan kuning sebagai warna dominan. Hijau berbentuk pucuk daun teh juga ikut menambah semarak warna pada setiap sisi booth. Di sisi kanan dan kiri booth dipasangi tiang sebagai penopang atap kecil berbentuk kotak dari rangka kayu dan dilapisi bentangan kain berwarna hijau. Siang itu, Rabu 16 Oktober 2013, di jalan Maulana Yusuf, aku bersama Daffa’ & Abyan, menikmati satu gelas teh untuk bertiga, demi mengusir dahaga setelah berjalan-jalan di Islamic Center Serang.

Bukan tanpa tujuan aku menyeret langkah ke Islamic Center Serang ini. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari terminal Jati Bening, naik bus dan turun di terminal Pakupatan Serang, lalu lanjut dengan angkot dan turun di seberang Ramayana Mal Serang. Ya ampun, aku kebablasan! Aku malah bimbang. Rasanya ingin langsung pulang. Perjalanan pulang dari rumah suami di Jati Bening lumayan membuat tubuhku penat. Kebetulan, di ruas jalan ini ada angkot jurusan Cilegon. Aku bisa naik angkot itu lalu turun di Kramatwatu. Tapi, rasanya tak ingin pulang juga sebelum rasa ingin tahuku terpuaskan.

Aku lalu berjalan kaki ke arah yang tadi sudah aku lewati. Menuju sebuah menara yang tampak gagah menjulang dari lokasi Masjid Agung Serang. Tidak terlalu jauh jaraknya dari Ramayana Mal, hanya beberapa menit berjalan kaki. Saat aku memasuki halaman Islamic center yang tidak lain adalah halaman samping dari masjid agung, suasana sepi. Gerobak-gerobak penjual makanan berjajar di sisi halaman dan tertutup terpal biru. Hanya terlihat satu booth jus buah yang ditunggui dua orang ibu-ibu. Tak terlihat pembeli. Aku mampir kesana.

“Ibu, Mamas mau jus jeruk.” Daffa menarik-narik lengan kananku. Mukanya mencoba menangkap mataku. Aku tersenyum.

“Kakak yang ini ya, Bu.” Kali ini Abyan. Ia menunjuk gambar segelas jus warna merah di sisi depan booth.

Kupesan dua gelas jus. Satu jus jeruk, satu lagi jus stroberi. Sambil menunggu pesanan, kuedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi. Mungkin karena masih suasana lebaran idul adha. Biasanya, di halaman parkir di sebelah Masjid Agung yang biasa disebut Islamic Center ini ramai dengan pedagang kuliner. Pada jam istirahat kantor, tempat ini menjadi favorit bagi para karyawan kantor-kantor yang banyak berada di ruas Jalan Maulana Yusuf. Seperti siang ini, aku lihat 3 orang perempuan berseragam setelan blazer warna kuning memasuki halaman Islamic Center. Tampaknya mereka adalah karyawati sebuah Bank yang kantornya berada tepat di seberang Islamic Center ini.

Kedua mataku membutuntuti mereka yang terus berjalan sambil berbincang ke arah masjid, lalu berbelok dan menghilang di sebuah gang. Aku penasaran, apakah mereka hendak pergi makan siang? Aku ingat, halaman depan Masjid Agung menghadap ke jalan Veteran. Di halaman depan masjid yang luas itu pun dijadikan tempat parkir dan banyak pedagang makanan. Aku pernah diajak teman makan bakso disana. Lalu, naluri ingin tahuku bertambah besar.

“Bu, dagang disini bayar sewa tempat nggak?” Tanyaku kepada ibu penjual jus.

“Enggak, Neng. Cuma bayar infaq aja sebulan sekali.” Jawab penjual jus ramah.

“Jumlahnya infaqnya ditentukan atau seiklasnya, Bu?” Tanyaku lagi. Aku terus memburu informasi.

“Ya seiklasnya.” Jawabnya. Masih sibuk menyiapkan jus pesananku. Aku mengangguk-angguk.

“Kalo kita makai listrik, ya pengertian aja harus bayar lebih dari biasanya.” Jelasnya lagi.

Aku rasa cukup informasi dari penjual jus ini. Entah, aku tak ingin banyak bertanya lagi padanya tentang jumlah spesifik uang infaq. Tapi, masih ada hal lain yang ingin aku tanyakan nanti pada orang yang berbeda.

“Bu, disana masih banyak yang jualan ya?” Tanyaku lagi sambil menunjuk ke arah halaman Masjid Agung.

“Iya, disana juga banyak yang dagang.” Aku manggut-manggut lagi mendengar jawabannya. Lalu tak lama, jus pesananku siap. Rp 16.000,- untuk dua gelas jus yang encer, namun diberi tambahan susu. Lumayan mahal.

Setelah membayar, kutinggalkan booth jus buah itu. Aku mengajak kedua anakku berjalan, mengikuti jejak 3 karyawati bank tadi. Ke halaman depan masjid. Suasana disini sama, sepi. Namun sedikit lebih ramai. Beberapa mobil tampak terparkir. Pemiliknya mungkin sedang menunaikan sholat dzuhur. Pintu gerbang halaman parkir tampak dijaga seorang petugas. Ia sigap menghampiri kendaraan yang hendak memasuki halaman lalu memberi karcis parkir. Disisi kanan terlihat dua pedagang sedang mangkal. Satu pedagang batagor, dan satu lagi pedagang es teh botol.

Sementara di sisi kiri, tepat di sebelah pos petugas parkir, warung bakso dan mie ayam yang beberapa bulan lalu aku makan disana, ramai. 3 karyawati bank tadi juga ada disana. Di sekitar warung bakso itu ada beberapa pedagang lain. Pedagang jus dan sop buah, es cendol Bandung, juga warteg.

Kuhentikan langkah sejenak, di bawah pohon, dekat dengan warung bakso. Apa aku harus makan bakso disitu untuk bisa bertanya pada pedagang baksonya? Iya, seperti yang tadi aku lakukan kepada pedagang jus. Ah! Aku malas. Uang di dompetku sekarat. Meski sebenarnya cukup untuk satu atau dua mangkok bakso saja. Tapi, seminggu ke depan aku masih perlu biaya hidup.

“Ibu, jusnya udah abis.” Suara Daffa membuyarkan fikiranku. Aku lalu kembali mengedarkan pandangan. Mataku mencari-cari sesuatu.

“Itu, buang disana!” Aku menunjuk sebuah drum sampah di bawah pohon, tepat di tengah halaman parkir. Daffa’ segera berlari ke arah yang kutunjuk sambil membawa gelas plastik bekas jus. Diikuti Abyan yang gelas jusnya juga telah kosong.

Di bawah matahari yang terik, anak-anakku ceria berlarian. Tak berhenti bahkan setelah gelas plastik di tangan mereka sudah berpindah ke dalam tong sampah. Tiba-tiba hatiku digelayuti beban berat. Keceriaan mereka hari ini, akankah tetap bertahan hingga mereka dewasa? Ah! Mereka jelas tak merasakan kekhawatiranku. Masa depan mereka yang menjadi tanggung jawabku. Aku harus survive agar mereka tetap bisa mengenyam dunia pendidikan, agar mereka tetap mendapat makan dan pakaian. Tanggung jawabku atas mereka, itu sebab aku berada disini sekarang.

Kupalingkan pandanganku dari anak-anak yang seolah tak kenal lelah itu. Kini, aku menangkap sosok yang sepertinya bisa aku tanya-tanyai. Di pintu gerbang halaman parkir Masjid Agung, tampak sebuah meja dan kursi dibawah tenda kecil. Seorang ibu-ibu berbaju gamis dan kerudung lebar tampak duduk disana bersama anak balitanya. Apakah dia masuk dalam jajaran pengurus masjid yang sekaligus bertugas mengurusi parkir?

Tanpa fikir panjang lagi, aku segera mendekati pintu gerbang.

“Maaf, Bu. Numpang nanya, kalo jualan disini ijin ke siapa ya?” Tanyaku tanpa banyak basa basi.

“Mau jualan apa?” si Ibu balik bertanya. Eh! Aku malah gugup.

“Emm…, anu, Bu. Es Teh.” Jawabku agak terbata.

“Wah, gimana ya?” Raut muka si Ibu seperti menyiratkan keraguan. Aku menyimak. “Disini sudah banyak yang jualan es.” Lanjutnya lagi. “Itu tukang es, itu juga, itu juga.” Katanya lagi sambil menunjuk tukang es teh botol, es cendol, dan es sop buah.

Aku merasakan semangatku mengkerut.

“Tapi kalo mau tetep coba, bicara aja sama Pak Juli.” Seperti menangkap kekecewaanku, si Ibu mencoba menumbuhkan lagi semangatku.

“Pak Juli itu siapa, Bu?”

“Kepala kebersihan.” Jawabnya. Aku manggut-manggut. Mulutku membentuk huruf O.

“Gedung kebersihan ada disana. Temui saja Pak Juli disana.” Si Ibu menunjuk sebuah gedung kecil di sisi masjid.

“Baik, Bu. Terimakasih banyak ya, Bu.” Aku berpamitan.

Aku lalu berjalan ke arah masjid. Daffa’ dan Abyan yang masih saja asik bermain berkejar-kejaran lalu berlari mengejarku. Namun saat tersisa beberapa langkah lagi hingga aku sampai di gedung kebersihan, aku menghentikan langkahku. Tak perlu sekarang bertemu Pak Juli, kan?

“Nak, kita pulang sekarang yuk.” Aku menunduk, menatap kedua anakku yang kini sudah berdiri di depanku.

“Yuuk..” Daffa’ dan Abyan menjawab kompak. Lalu kususuri lagi sebuah gang yang menghubungkan halaman parkir di depan masjid dan halaman parkir di samping masjid yang tadi juga aku lewati setelah membeli jus. Aku kembali ke jalan raya untuk naik angkot menuju Kramatwatu.

Tetapi di sisi jalan di sebelah Islamic Center, langkahku kembali terhenti. Di dalam hati aku masih menyisakan beberapa pertanyaan. Beberapa meter dari tempat aku berdiri, tepat di depan sebuah counter handphone, aku melihat booth teh upet. “Perempuan di booth teh upet itu bisa menjadi nara sumberku berikutnya.” Fikirku.

“Nak, beli teh yuk.” Tanpa menunggu persetujuan, kuajak Daffa’ & Abyan berjalan lagi. Kali ini dengan langkah lebih cepat.

“Mba, beli tehnya satu.” Kataku setelah tiba. Sementara si mba penjaga booth sedang asik mengobrol melalui telepon genggamnya.

Aku kesal melihat ia tetap mengobrol sambil melayaniku. Bukan, bukan karena etika yang tidak baik karena melayani konsumen dengan cara seperti itu. Tetapi aku kesal karena aku jadi sulit untuk menanyainya.

Tak lama, segelas teh disodorkan padaku. Aku makin geregetan. Mba, sudahi obrolanmu pliisss…! Aku lalu menyodorkan selembar uang lima ribu rupiah. Dan kemudian ia sibuk membuka laci mengambil uang dua ribu rupiah untuk kembalian.

“Mba, dagang disini bayar sewa berapa?” Akhirnya pertanyaan itu muntah juga dari mulutku.

“Tiga ratus.” Jawabnya singkat.

“Dalam sehari bisa jual berapa?” Kejarku lagi.

“Tergantung.” Jawabannya masih singkat. “Kadang rame, kadang sepi.” Lanjutnya.

“Rata-ratanya berapa gelas sehari, Mba?” Aku semakin ingin tahu.

“Seratus.”

Mendengar jawaban terakhir itu, senyumku mengembang. Angka itu sangat sesuai dengan analisa usaha depot ROOIBOS TEA yang sedang ingin aku mulai, usaha dagang teh serupa booth teh upet ini.

“Kenapa emangnya, Teh?” Eh, kali ini ia balik bertanya.

“Enggak, Mba. Makasih ya.” Lalu aku segera pergi.

rooibos2
Booth Rooibos Tea

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.