Singapore, Traveling

Memunguti Kenangan di Singapura

“Ibu, kenapa kita cuma di luar?” tanya MasKa yang tak mengerti, bahwa ibunya hanya bisa sebatas mengabulkan keinginan mereka naik pesawat, tetapi tidak untuk tiket wisata. Terlebih, tiket wisata yang mata uangnya bukan rupiah.

***

Singapura. Negara pertama yang memberi stempel pada pasporku. Pada Mei 2013, aku mengajak Mamas & Kakak untuk pertama kalinya traveling ke luar negeri. Banyak cerita tak terlupa dari perjalananku waktu itu.

Ya! Yang pertama memang selalu memberi kesan lebih. Mulai dari pertama naik pesawat. Pertama tidur di hostel. Pertama mencoba mesin tiket MRT. Sampai kisah pertama menggunakan tisu basah sebagai pengganti gayung dan air saat di dalam toilet.

Atau saat aku hamil Ranu tahun 2015 lalu. Untuk menuju ke Aceh, aku menempuh rute Singapura – Malaka – Kuala Lumpur – Aceh. Perjalanan itu kutempuh selama satu minggu, dan menghabiskan 2 hari 1 malam di Singapura.

Dari kedua trip itu, tentu banyak hal yang terekam dalam ingatan tentang Singapura. Dan dalam perjalanan kali ini, perjalanan tanpa suami dan anak-anak, perjalanan untuk mengikuti program Vokasi Menulis Kemendikbud pada Mei 2016, aku diajak memunguti kenangan.

Kenangan tentang…

Landasan Pesawat & Aero Bridge

Selasa, 30 Mei 2016. Pukul 2 siang waktu Singapura. Pesawat AirAsia yang kutumpangi mendarat dengan mulus di Changi International Airport. Melihat pintu pesawat paling depan dibuka, seluruh penumpang mulai bergerak meninggalkan ruangan kabin. Aku terbawa arus dan saling berdesakan. Sebuah situasi yang membuatku terlempar pada kenangan beberapa tahun silam.

Di bulan yang sama tiga tahun lalu, aku menggandeng dua orang anak lelaki untuk memulai petualangn di negeri yang asing. Banyak hal baru kami lihat dan alami. Aero bridge yang menghubungkan pesawat dengan gedung bandara adalah awal dari banyak rasa heran yang memenuhi otak kami. Aero bridge yang membuatku ingin protes kepada pengelola bandara Soekarno Hatta. Mengapa di Terminal 3 tidak ada aero bridge? Apa karena terminal itu khusus untuk penerbangan low budget?

Di Terminal 3, kami dijemput mobil bus ground handling AirAsia. Bus itu mengantar kami menuju pesawat yang sudah bersiap di landasan. Untuk masuk ke dalam kabin pesawat, ada sebuah tangga berkanopi yang harus kami naiki. Aku dan kedua anakku mengikuti langkah calon penumpang lain mendekati tangga. Dan di saat itu lah sebuah adegan menyebalkan terjadi

Kakak yang masih balita tiba-tiba berlari menjauhi pesawat. Memang sih, sejak pertama turun dari bus dia sudah mulai rewel.

“Bu, Kakak takut!” katanya sambil mulai menangis.

Kupegang tangannya lebih erat. Berharap bisa memberi sedikit keberanian agar ia tak takut lagi. Lalu kuajak dia tetap berjalan menuju tangga di pintu pesawat bagian depan. Tetapi yang terjadi justru tangisnya yang semakin menjadi, tepat ketika kami hanya tinggal satu langkah lagi sampai ke tangga.

“Kakak mau pulang aja!” jeritnya sambil terus menangis.

Aku panik. Kutinggalkan troley bag di depan tangga dan berlari mengejar Kakak. Sebelum lari mengejar, aku sempat berpesan kepada Mamas untuk naik terlebih dahulu dan membawa tas yang kutinggalkan.

Dengan ransel seberat lebih dari 6 kilogram, aku berusaha berlari dengan cepat. Fikiranku kacau. Membayangkan seandainya pesawat itu terbang dan meninggalkan kami yang sibuk main kejar-kejaran. Sedangkan Mamas sudah berada di dalam pesawat tanpa aku.

Ah! Pokoknya aku kesal sekali waktu itu. Kalau saja di Tetminal 3 bandara Soeta pakai aero bridge, tak perlu lah ada adegan lari kejar-kejaran itu. Adegan yang sekarang justru kusyukuri karena bisa menjadi cerita seru untuk dikenang.

Bandara Changi

Bandara Changi selalu menyenangkan untuk dikunjungi. Eskalator di mana-mana. Bahkan di tengah lantai datar untuk memanjakan siapa saja yang malas untuk jalan kaki

Karpet tebal menutupi seluruh bagian lantai. Sudut-sudut ruangan disulap menjadi taman buatan. Toiletnya bersih dan ada satu petugas kebersihan yang tak pernah membiarkan ada satu kotoran pun menodai lantai, wastafel, juga kloset-kloset di dalamnya.

Kursi dan bangku banyak tersedia. Di beberapa tempat malah disediakan kursi pijat gratis. Juga keran air yang dapat diminum langsung. Keran ini lah yang selalu menjadi sasaran wisatawan untuk mengisi botol kosong yang dibawa dari rumah. Terlebih untuk para backpacker dari Indonesia yang sangat cermat berhitung berapa harga air minum di Singapura jika dirupiahkan.

Harga air minum di Singapura memang mahal. Rata-rata 2 Dollar Singapura untuk sebotol ukuran 600 mililiter, berarti sekitar 20 ribu rupiah. Tetapi jika beruntung, ada air minum seharga hanya 1 Dollar saja. Aku pernah menamukannya di kedai makan di sekitaran Little India. Tetapi jika mau gratis, jangan lupa bawa botol air minum untuk diisi di bandara.

Dulu, aku membawa 3 botol aqua kosong dari Jakarta. Begitu sampai di Changi, kuisi semuanya. Walau hanya cukup untuk satu hari, lumayanlah. Tetapi kali ini aku hanya membawa satu botol saja untuk diisi. Selain mengisi botol, minum langsung dari keran juga menjadi hal wajib untuk kulakukan. Tak sulit kok. Aku hanya perlu membuka mulut lebar-lebar dan menengadah ke arah keluarnya air keran.

Usai mengisi botol minum, aku mencoba menyambungkan smartphoneku dengan jaringan wifi bandara. Wifi di bandara Changi bisa dinikmati secara gratis. Cara menyambungnya juga tak sulit. Cukup nyalakan sinyal pencari wifi, pilih sinyal wifi yang tersedia, lalu login dengan nomor handphone. Jika menemui kesulitan, tinggal datangi help desk yang ada di beberapa sudut gedung bandara.

Oya, segera setelah terkoneksi dengan internet, hal pertama yang kulakukan adalah memberi kabar pada Ojrahar bahwa aku sudah landing di Singapura. Sebenarnya aku ingin mencoba video call. Sayangnya aplikasi video call belum terinstall di handphone Ojrahar. Namun karena aku tetap ingin merasa dekat dengan mereka yang tertinggal di rumah, maka aku dengan PD-nya membuat video selfie dan kukirim via whatsapp kepada Ojrahar.

Memang, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk selalu ada dalam kehidupan orang-orang yang kita kasihi. Untuk selalu diingat dan tidak dilupakan. Apa yang kulakukan itu hanya agar anak-anakku tau, bahwa aku selalu merindukan mereka.

Sentosa Island

Sebenarnya aku agak shock ketika tau bahwa Singapura menjadi negara tujuan untuk studi banding bagi peserta Vokasi Menulis Kemendikbud. Seketika itu, ada kenangan menyebalkan di Sentosa Island yang dengan kurang ajarnya memenuhi ingatanku.

Bagaimana aku bisa lupa dengan kejadian hilangnya smartphoneku di depan Universal Studio?

Tetapi itu bisa terjadi karena kesalahanku juga. Aku terlalu larut dalam keriaan seorang anak kampung yang bisa jalan-jalan ke luar negeri. Aku terlalu bahagia karena akhirnya bisa melihat langsung bola dunia berwarna biru dengan tulisan Universal Studio itu.

Ceritanya, aku meletakkan barang-barangku di sebuah bangku, tak jauh dari landmark Universal Studio. Ada ransel, tote bag berisi souvenir yang kubeli dari Chinnatown, juga handphone android yang baru kubeli sehari sebelum berangkat ke Singapura. Kuulangi, handphone itu baru kubeli sehari sebelum berangkat ke Singapura!

Aku lupa, ini bukan rumah di mana aku bisa meletakkan barang tanpa takut ada yang mencuri. Jadi kalau akhirnya ada orang lain yang mengambilnya, ya wajar saja. Seperti kata Bang Napi di TV. Bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah!

Garden By The Bay

Intan, Hilal, dan semua teman seperjalananku di kelompok 4 dalam program Vokasi Menulis Kemendikbud langsung sibuk narsis. Sebuah lorong panjang yang berujung pada sebuah taman ikonik bernama Garden By The Bay itu memang menarik. Dinding lorong dihiasi cermin dan wallpaper yang menarik. Wisatawan dari mana pun tentu tak akan melewatkannya untuk dijadikan sebagai background foto. Apa lagi untuk mereka yang baru pertama kali. Ya, kecuali aku.

Dulu, ketika pertama kali aku ke sini, kondisiku sudah lelah sekali. Begitu juga Mamas & Kakak. Tenaga kami sudah terkuras habis setelah seharian menghabiskan waktu di Merlion park dan window shopping di Bugis Junction.

Aku masih ingat betul bagaimana dulu si Kakak mogok jalan tepat di circle line, di dalam stasiun yang terhubung dengan lorong menuju Garden By The Bay. Dia pasti putus asa melihat lorong yang begitu panjang sementara kakinya sudah pegal-pegal. Persis seperti yang kurasakan sekarang.

Kakiku pegal-pegal. Jalanku terpincang-pincang. Sementara punggungku juga sudah mulai lelah dibebani ransel, ditambah tas kamera berisi DSLR yang beratnya naudzubillah. Tenggorokanku kering. Air minumku habis. Sekarang aku bisa memahami mengapa dulu dia memilih menjatuhkan diri di lantai dan menangis. Senjata paling ampuh dari anak-anak agar dituruti kemauannya.

“Kakak capek. Kakak ngga mau jalan kaki lagi!” katanya merajuk.

Aku tak punya pilihan lain selain menggendongnya. Walau otot-otot kaki terasa nyeri tak terperi.

Hari menjelang malam ketika kami sampai di tepian komplek Garden By The Bay. Tak ada yang bisa kami lakukan selain memandangi kerlip-kerlip lampu super tree dari kejauhan. Bukan tak ingin masuk dan melihat bunga-bunga tulip bermekaran di bawah super tree. Hanya saja uang kami tak cukup untuk membeli tiket masuk. Persis seperti keputusanku juga di hari ini.

Aku dan yang lainnya hanya bisa memandangi keindahan Garden By The Bay dari kejauhan. Membayangkan taman bunga penuh warna di dalamnya, seperti yang sering kami lihat di foto-foto yang tersebar di internet.

Ah! Aku jadi merasa aneh sendiri. Hampir setiap perjalanan bisa kulalui dengan penuh perjuangan. Perjuangan menabung menabung berbulan-bulan. Perjuangan menghadapi gurunya MasKa setiap kali ijin sekolah demi traveling. Dan perjuangan lain yang hanya aku yang bisa merasakan. Tetapi setelah sampai, yang kulakukan tak lebih dari sekedar melihat, membuat foto narsis, lalu pulang. Dan itu terjadi berkali-kali.

Kelucuan yang sekaligus mengingatkanku pada ibuku. Ibu yang tak pernah gagal membuatku mudik setiap tahun. Bukan cuma untuk mencicipi kue lebaran buatannya yang selalu istimewa. Tetapi juga ibu dengan satu pertanyaannya yang mengusik fikiranku.

“Nduk, sebenarnya apa sih yang kamu cari dari setiap perjalananmu?”

Pertanyaan yang baru bisa kujawab dari perjalanan ke Singapura kali ini.

Bahwa dalam setiap perjalanan, ada kenangan yang tercipta, ada kerinduan yang hadir, dan membuatku selalu menemukan jalan untuk pulang.

27 thoughts on “Memunguti Kenangan di Singapura

  1. Pengen banget ke Singapura mulai dulu, kapan ya ? Bisa menjejaki tanah Singapura, dan mengukir ceritanya di blog ? Sepertinya asyik juga, hehhehe walaupun ngayal juga sih

  2. Singapura itu negeri tetangga tetapi dari segi manajemen tata ruangnya beda banget ya dengan Indonesia. Dengan luas wilayah secara geografis yang kecil, mereka masih bisa membangun pusat liburan bagi turis mancanegara.

  3. Bahagia pasti ya mba bisa maen ke luar negeri bareng keluarga, apalagi anak-anak ikut juga.
    Singapura emang jadi destinasi wisata yang tepat buat merasakan negara maju dengan biaya yang engga terlalu mahal.
    Jadi pengen cepet-cepet maen ke Singapura euy hahaha.

  4. Seru emang jalan2 ke negeri Singa ini. Ada satu cerita yg lucu, kalo pas di rulah teman mau minum, airnya aku masak dulu wkwk. Trus dibilang ”ngapain dimasak, kan bs langsung minum.?!”

    Trus aku kasih tau krn parno dgn cerita pembunuhan, di Spore. Di lana korbannya ditemukan di dalam tandon apartment, otomatis semua saluran pipa kudu disterilkan..hiiiiii temanku pun trus bergidik ikutan parno wkwkwk.

  5. Aku ngebayangin kalau jadi Mbak Noe juga panik kali ya saat anak malah nangis ditambah repot gitu. Kukira biasanya anak-anak justru seneng kalau naik pesawat atau melihat sesuatu yang berbau transportasi.

  6. aku ingat cerita bawa anak2 lihat Universal Studio dari luar
    dan sama, masih tetap terenyuh … dan membayangkan paniknya ngejar2 kakak yang takut naik pesawat..
    semua itu kini jadi kenangan indah ya

  7. Aku mellow bacanya, terutama pas bagian Mamas takut pesawat dan kecapekan di Garden By The Bay. Teringat ama rintangan dan kesulitan yang juga pernah kami alami saat travelling.

  8. Saya ke Sin juga di tahun yg sama. 2x ke sana malah belum ke Sentosa Island. Traveling memang memberikan banyak pembelajaran, ttg hidup yg menolong orang lain sebanyak mungkin.

  9. Hwaaa aku belom pernah ke Singapore. Paling engga nanti aku sudah tau cara aktifin wifi dan ambil air minum dari sini hihihi.

    Memang traveling secapek apapun itu rasanya ada kepuasan sendirin ya. Kejadian baik buruk akan jadi memori yang gak terlupa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.