Malaysia, Traveling

Memoars in Penang, Selimut Biru

Bruk! Lelaki kurusku menjatuhkan ranselnya di lantai kamar hotel. Rupanya, ransel itu terlalu gendut untuk bertengger di punggungnya terlalu lama. Wajar saja jika bebannya bertambah berat dua kali lipat sekarang ini. Semua pakaian dan kebutuhanku, ikut masuk dalam ranselnya. Mungkin ini asiknya ternyata jadi ibu hamil, bisa traveling tanpa bawa ransel sendiri. Tapi, jika melihat lelaki kurusku yang sedikit kepayahan, aku kasihan juga.

Entah berapa lama waktu yang kami habiskan untuk mengelilingi Penang Hill. Kami berjalan kesana kemari, memotret ini dan itu. Mencicipi aneka jajanan unik yang membuat air liur kami tiba-tiba meleleh. Belum lagi ditambah moodku yang bisa dengan cepat berubah-ubah. Ah, itu pasti jadi cobaan terberat dalam hidupnya mendampingi aku.

Tak bisa kubayangkan, bagaimana jadinya jika bukan dia yang menjadi suamiku? Akankah bisa mengerti dan menerima? Memahami aku yang…ugh, moody! Aku mudah tertawa saat menemukan hal lucu, seketika cemberut jika ada hal yang menyebalkan, dan bisa tiba-tiba menangis jika ada yang mebuat sedih.

Seperti kali ini, sekali lagi ia harus mengerti perasaanku. Tiba-tiba saja aku menangis karena menemukan sekotak susu indomilk cair dalam ransel yang kubongkar isinya. Lelaki kurusku yang tengah menikmati panorama taman hotel dari balkon kamar, ternyata mendengar isakku. Ia menghampiri, dan meletakkan telapak tangannya di atas ubun-ubunku.

“Kenapa?” Tanyanya sembari mengusap-usap rambutku.

Seperti biasa, saat sepasang lengan kurus namun cukup kuat menopang saat aku rapuh itu mendekati, tangisku malah pecah. Aku sesenggukan di dadanya. Ia meraih susu kotak dari tanganku dan meletakkannya di meja, di sisi tempat tidur. Ia tau apa yang sedang terjadi.

“Sabar ya, nanti juga kita pulang.” Ujarnya menenangkan.

Aku mengangguk. Kulepaskan pelukannya dan kuusap mataku yang basah. Meski dalam ingatan aku masih belum bisa lupa, bagaimana wajah-wajah damai Daffa’ & Abyan ketika aku pergi tengah malam tadi. Aku tak tega membangunkan mereka untuk sekedar berpamitan. Bahkan aku lupa mengeluarkan susu kotak untuk Daffa’ dari seplastik belanjaan yang berisi snack yang kubeli di minimarket dekat rumah.

“Bu, ibu mau kemana?” Tanya Daffa’ kemarin malam. Seusai packing, aku bersiap keluar rumah untuk membeli snack untuk kujadikan bekal perjalanan.

“Ibu ke Indomaret sebentar ya, kamu di rumah dulu, nanti ibu beliin susu.” Jawabku.

Daffa’ & Abyan mengangguk tanda setuju. Aku dan lelaki kurus lalu memacu sepeda motor menuju minimarket. Setelelah memilih beberapa snack, tak lupa aku memasukkan susu cokelat cair kemasan kotak dalam keranjang belanjaan. Tak berlama-lama, aku segera pulang usai transaksi di kasir.

Sesampainya di rumah, Daffa’ sudah tidur bersama neneknya. Abyan yang ternyata masih terjaga, langsung menghampiriku. Mencari apa yang sudah kujanjikan tadi. Segera ia habiskan susu cokelat kesukaannya, lalu memintaku menemaninya pergi tidur.

Jam 2 malam, alarm di smatrphone-ku berdering. Aku terbangun dan segera bersiap pergi. Aku hanya senpat mencium pipi Daffa’ & Abyan sebelum berangkat, menuju pool bus damri yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah. Kami mengejar bus keberangkatan jam 3 dini hari, karena jadual pesawat yang kami pilih dari Jakarta menuju penang adalah penerbangan pertama, pukul 6.20 pagi.

Selama perjalanan menuju bandara, aku mencoba kembali tertidur. Wajar saja jika kantuk masih enggan pergi. Hari masih dini. Pukul 5 lewat 15 menit, saat kami tiba di terminal 3 Soettta, petugas check-in Air Asia sudah mulai berteriak, memanggil calon penumpang tujuan Penang.

“Penumpang Air Asia tujuan Penang, silakan duluan!” serunya.

Aku dan lelaki kurus lalu berlari menerobos antrian yang mulai mengular. Seketika aku lupa bahwa aku sedang hamil. Untungnya, aku dianugerahi rahim yang kuat untuk menjaga janinku dari guncangan saat berlari.

Saat terburu-buru seperti ini, tidak juga ada rasa biru yang biasanya meliputi hati karena harus meninggalkan anak-anak di rumah. Padahal biasanya, selalu ada hujan yang mengiringi rasaku sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara. Ya, bagiku, tempat terjauh dan menyiksa adalah ketika tubuh para malaikat kecil itu tak dapat kurengkuh.

golden_sand_resort

Seperti hari ini, di kamar mewah, di sebuah hotel megah berbintang lima, di Batu feringgi, Penang. Aku kembali berselimut biru.

*****

Hari menjelang sore. Aku sudah kembali menekuni kegiatanku. Unpacking. Kusimpan tas dan semua pakaian ke dalam lemari yang diletakkan tepat berhadapan dengan pintu kamar mandi. Lebar lemarinya pun sama dengan lebar ruangan kamar mandi yang letaknya persis setelah pintu masuk kamar hotel.

Ruang sempit di antara lemari pakaian dan kamar mandi yang berhadapan ini kemudian menjadi semacam lorong menuju ruangan yang lebih luas dan berisi ranjang, lengkap dengan meja rias, sofa, meja kecil di sisi kiri dan kanan tempat tidur, serta meja tempat tempat meletakkan beberapa botol welcome drink dan teko pemanas air.

Sementara aku sibuk membereskan barang bawaan kami ke dalam lemari, lelaki kurusku sibuk mengeksplorasi isi kamar. Dihidupkannya TV LED yang terpasang di dinding, segaris lurus dengan ranjang tidur berkasur latex. Dinaikkannya tombol kontrol suhu AC karena kami merasa udara sudah terlalu dingin. Ia juga membuka laci di setiap meja. Lalu ia begitu antusias memberitahuku ketika ada teh kesukaanku di salah satu laci yang ia buka.

Golden Sand Resort

Aku ikut girang. Kutinggalkan kesibukanku dan kubuat dua cangkir minuman hangat untuk kami. Kopi untuk lelaki kurusku yang sudah begitu gigih mendampingiku, dan earl grey untuk mengusir biru dalam rasaku.

Aku suka earl greay. Teh hitam dengan campuran minyak bergamotnya bisa mengendurkan syaraf-syarafku yang tegang. Atau, membantu memperbaiki rasa saat bersedih. Biasanya, aku menikmati earl grey sore hari di rumah, setelah pulang kerja. Rasanya menyegarkan setelah seharian bergelut dengan pekerjaan.

Tetapi sore ini, aku kunikmati secangkir earl grey di balkon kamar nomor 126 Golden Sand Resort, sembari menikmati rindu yang dihamili jarak, dan waktu.

22 thoughts on “Memoars in Penang, Selimut Biru

    1. Nah kaan… Semua emak pasti selalu kepikiran anak, jd wajar klo kadang sensi klo ada yg nyinyir *ngga sayang anak* hihi… Sensi deh jadinya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.