Malaysia, Traveling

Memoars in Penang, Me Time vs. Prime Time

Malam minggu, kata orang malam yang panjang. Seperti dalam lagu dangdut lawas yang dilantunkan oleh Jamal Mirdad. Katanya, malam minggu adalah malam yang asik buat pacaran.

Me time

Ah, aku justru malas keluar kamar. Selepas sore yang kuhabiskan sambil menikmati secangkir earl grey dan ditemani lelaki kurus di balkon kamar hotel, kami lalu menenggelamkan diri masing-masing di balik selimut tebal. Pacaran? Nggak juga. Yang ada kami malah sibuk dengan gadget.

Tetapi bukankah setiap orang memang butuh me time? Bagiku tak ada salahnya jika sekali waktu kami saling memberi kebebasan dan menghargai privasi. Sibuk dengan gadget untuk mengecek email misalnya. Update status socmed juga sah-sah saja. Atau memberi kabar kepada keluarga nun jauh di sana.

Lelaki kurus yang menjadi teman hidupku itu juga sudah sangat faham, soal apa saja yang biasanya kukerjakan saat terlihat asik dengan gadget. Menulis untuk update blog, membalas email-email penting yang kadang isinya adalah tawaran job review. Atau sekedar haha hihi di grup whatsapp dengan teman-teman. Sampai akhirnya baterai menjadi drop, dan peraturan pun mulai diterapkan.

Peraturan tak tertulis yang kubuat kadang memang terasa tidak adil. Aku cuek-cuek saja jika dia larut dengan handphonenya, selagi milikku juga masih ON. Tapi, jika baterai handphoneku sudah drop, maka ia pun harus menyimpan handphone miliknya dan menemaniku mengobrol. Haha. ๐Ÿ˜€

Dan mungkin itu adalah hal yang harus disyukuri. Bayangkan jika seorang yang kecanduan gadget sepertiku, mendapat handphone dengan baterai yang tak pernah bisa habis. Ah, bisa hancur dunia persilatan.

“Bang, udahan keleus main hape-nya!” Pintaku setelah menyambungakn handphoneku dengan casan di steker listrik.

Lelaki kurusku lalu meletakan handphone-nya di atas meja kecil di sisi tempat tidur. Sebegitu sabarnya ia menghadapi aku yang superrior.

“Mau jalan ke pantai?” Tanyanya.

Aku menggeleng. Rasanya malas meninggalkan kasur dan selimut tebal yang membuatku merasa hangat di tengah serbuan suhu dingin yang dihembuskan AC di dalam kamar.

“Tidur aja deh.” Ujarku sembari menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku yang mulai lelah.

Alunan musik ceria terdengar sayup-sayup dari arah dinning room hotel yang letaknya persis bersisian dengan bibir pantai Batu Feringgi. Aku masih bisa menangkap bias cahaya lampu-lampu taman di luar sana melalui kaca jendela dan pintu yang menjadi sekat antara balkom dan ruangan kamarku yang letaknya di lantai 2.

Lelaki kurusku pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Merapatkan tirai coklat di jendela dan pintu kaca yang semula terbuka lebar. Saatnya melepas penat. Atau…, prime time dengan lelaki kurus?

25 thoughts on “Memoars in Penang, Me Time vs. Prime Time

    1. Hihi, me time sdh pasti prime time, tp klo prime time blm tentu me time ya. Prime time sama suami di kamar, misalnya. #ups

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.