Malaysia, Traveling

Memoars in Penang, Dialah Tsubasa

Kita begitu berbeda dalam banyak hal, kecuali dalam…cinta.

Genbok cinta di Penang Hill
Gembok cinta di Penang Hill

Sepenggal puisi milik Soe Hok Gie itu kembali melintas dalam ingatanku. Ya, kadang aku merasa kurang nyaman jika pergi jalan-jalan untuk beberapa hari dan hanya berdua saja dengan lelaki kurusku ke suatu tempat. Kisah percintaan kami memang tidak seindah dongeng. Perbedaan demi perbedaan bisa dengan mudah muncul ke permukaan setiap kali kami menghadapi suatu masalah.

Kondisi ini membuat kami akhirnya saling diam setelah terjadi keributan kecil. Tetapi pada akhirnya kami menemukan satu kekuatan yang menjadi alasan mengapa kami harus kembali menelan ego. Cinta.

Hari ini, 10 Januari 2015. Kami baru saja tiba di Penang International Airport jam setengah 10 pagi. Setelah melewati check point imigrasi, aku duduk di bangku-bangku yang ada di dekat pintu keluar bandara. Langsung kusambungkan smartphoneku dengan wifi grstis yang tersedia. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari jnfo transportasi dari Bandara ke Penang Hill, destinasi pertama yang ingin kudatangi sebelum check-in hotel di Batu Feringgi.

Si kurus ikut duduk di sebelahku. “Ngapain?” Tanyanya.
“Browsing, lah. Cari info bis. Ngapain lagi?” Jawabku ketus.

Suasana di antara kami lalu hening. Lelaki plegmatis yang damai itu tidak lagi memberi komentar lanjutan. Tidak seperti ketika di Bali pada akhir tahun 2013 lalu. Kami sering ribut menentukan destinasi apa yang akan dikunjungi, dan sama-sama sibuk mencari info rute. “Kok, tumben sih kamu ngga bikin itinerary?” Komentarnya waktu itu.

Akan tetapi kali ini ia memilih diam dan menunggu. Seperti biasa, dia hanya manut-manut saja menuruti mauku. Sebenarnya aku juga geregetan. Kapan ya aku pensiun jadi dominan? Rasanya kepingin aku yang diatur. Ah, tapi apa aku bisa menurunkan ego hingga ke level terendah? Ya, mungkin aku yang terlalu egois sehingga aku lebih pantas dijuluki sebagai api dan lelaki kurusku tak punya pilihan lain selain menjadi air. Dari pada berantem terus!

Penang 1

Cukup lama aku duduk sambil browsing info yang kubutuhkan. Sambil sesekali membalas email penting, dan menengok obrolan beberapa grup whatsapp yang bertabur ucapan selamat ulang tahun. Sementara orang-orang lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing di bandara. Bahkan beberapa kali aku dihampiri seseorang dengan kertas karton bertuliskan nama seseorang yang hendak dijemputnya. Mungkin mereka driver.

“No, not me.” Jawabku setiap kali ada yang menunjukkan nama pada kertas karton kepadaku.

Satu jam kemudian, aku mulai bosan. Lelaki kurusku masih tetap diam disebelahku. Kamera yang beratnya hampir 1 kilogram juga dibiarkan mendekam di dalam tasnya. Mengapa tak hunting foto saja sementara aku sibuk dengan urusanku?

“Abang percuma aja bawa kamera klo dianggurin.” Aku mulai mengajukan protes.
“Laah, rame begini. Situasinya ngga pas kali.” Jawabnya enteng.
“Yaelah, blogger-blogger itu banyak kali yang foto-foto di bandara.”
“…” Ia diam, tak menanggapi argumenku. Aku makin kesal.
“Gue nyesel deh gak bawa kamera sendiri. Kalo begini sih, gimana bisa punya foto untuk di blog.”

Suasana jadi semakin tak enak. Aku cemberut. Handphone di tanganku hanya kusentuh-tentuh tak jelas dengan jari telunjuk. Namun diam-diam aku mulai merasa bersalah. Aku yang terbiasa seperti gasing, tak bisa diam, terlalu banyak menuntutnya menjadi seperti aku. Seperti yang kumau. Dia pasti tertekan. Tetapi aku masih enggan minta maaf. Untungnya dia sabar. Sangat sabar!

“Yaudeh, lo disini dulu. Gue keluar coba ambil foto ya,” ujarnya kemudian memecah kebisuan kami.

Ia berusaha membuatku senang dengan nada suaranya yang santai. Aku yakin ia berbicara sambil tersenyum meski tak bisa menangkap sepasang mataku yang kusembunyikan.

Sekitar tiga puluh menit setelah lelaki kurus itu pergi dengan membawa kameranya, ia kembali lagi.

penang_6

“Noe, di luar banyak burung gagak loh!” Ujarnya sumringah. Kuangkat wajahku dan menatapnya.
“Banyak suara oaa…oaak,” lanjutnya lagi sambil meniru bunyi gagak.
“Liat fotonya, liat.” Aku ikut bersemangat mendengar laporannya.

Ia kembali duduk di sebelahku dan menyerahkan kameranya. Kulihat hasil jepretannya dan kembali menemukan alasan untuk mengomel.

“Abang, ini angle-nya ngga bagus.”
“Ih, ini miring!”
“Kok ini putih semua? Salah setting nih!”
“Nah, yang ini lumayan.”

Aku terus berkomentar saat melihat hasil fotonya. Lelakiku kembali diam. Sampai akhirnya aku menyadari betapa menyebalkannya aku ini.

“Eh, kok diem aja sih lo?” Tanyaku sambil mendorong bahunya. Ia hanya tersenyum. Menunjukkan barisan gigi seri yang sudah patah satu. Ia pasti kesal. Tetapi tak mau memperkeruh suasana. Damn! Aku salah lagi.

“Udeh ah, cabut yuk! Kita ke Penang Hill sekarang. Keliatan ngga, tadi bus station dimana?” Aku mulai serba salah. Bergerak ke tempat lain mungkin bisa memperbaiki suasana hati.

Suasana berangsur membaik di sepanjang perjalanan kami menuju Penang Hill. Ia menjagaku ketika hendak naik dan turun bis. Memberiku jaket ketika kedingin karena AC di dalam bis. Ia juga menggenggam tanganku untuk menyalurkan sedikit hangat dari suhu tubuhnya. Ah, ternyata benar! Love will stick around even you’re in mad. 😀

Sayangnya kemesraan itu tidak berlangsung lama. Segera setelah kami tiba di Penang Hill, dengan sangat cepat moodku rusak lagi. Masih soal foto yang jadi pemicu. Aku kesal karena ia tidak membuat foto narsisku di depan gedung stasiun dengan angle yang kumau.

“Ye, elo mah, bukannye didukung, lakinye lagi belajar. Dicela mulu. Santai aja, ntar lama-lama juga bisa. Ya, ngga?” Ujarnya santai.

“Yuk, ulang lagi fotonya. Lagi ultah masa cemberut, sih. Yok!” Ia membujukku. Masih dengan begitu sabarnya, berusaha menggambar senyum di wajahku yang lebih banyak cemberutnya. Sikap coolnya itu, membuktikan seolah seluruh keluhanku bukanlah hal yang bisa memancing emosinya. Dan itu yang selalu bisa membuatku merasakan sebuah pukulan telak.

Betapa aku ini devil yang dipasangkan dengan pria berhati malaikat. Jodoh? Ah, mistery!

penang_4

Kadang jika selera humorku sedang bagus, aku menimpali protesnya dengan kalimat candaan. Saat ia mulai berkata “etdah, bini gue ngomel mulu. Ntar cepet tua, loh!”

“Udah, deh! Lo tuh kudunya bersyukur punya bini jutek, jadi lo keliatan baik banget. Ntar kan orang bilang, wah beruntung amat si Nurul dapetin Tiko. Biarpun Nurulnya nyebelin, tapi Tikonya sabaaaar banget! Tuh, dipuji kan elo?” Jawabku dengan muka tengil.

Biasanya, setelah kalimat menyebalkan yang meluncur bebas dari lidahku itu, kami akan tertawa lepas bersama, dan saling olok sampai otot-otot pipi kami kaku. Ya, ia memang lelaki terbaik yang pernah kukenal.

Meski begitu, tetap saja ia hanya manusia. Orang bijak boleh berkata bahwa selayaknya sabar itu tiada berbatas. Tetapi bukankah wajar jika sekali waktu mahluk paling sabar sedunia yang menjadi suamiku ini pada akhirnya bisa marah juga.

Aku masih ingat kejadian beberapa bulan lalu di rumah mertua. Aku ngambek karena saat pulang kerja, ia tak membelikanku mangga. Padahal aku sudah memesan sejak pagi. Aku jadi malas menemaninya makan malam. Aku juga tidak membuatkannya kopi. Ia tau aku sedang merajuk. Tetapi ia diam saja. Dan diamnya berarti marah. Aku faham itu. Daffa’ dan Abyan yang menagkap keanehan dalam diriku malam itu, tak henti-hentinya bertanya.

“Ibu, kenapa?”
Aku menggeleng. “Ngga apa-apa,” jawabku.
“Bohong! Ibu ke-na-pa?” Daffa’ menegaskan pertanyaannya.

Aku tetap menjawab bahwa aku baik-baik saja. Kuminta mereka keluar kamar dan kembali bermain atau menonton televisi. Mereka menurut. Tetapi sesaat kemudian kembali lagi, bertanya lagi. Mungkin memang aneh bagi mereka, karena aku mengurung diri di kamar. Padahal biasanya, selepas magrib adalah prime time untuk keluarga kecil kami. Aku menyerah. Kujawab saja bahwa aku sedang ingin mangga. Mengetahui itu, Abyan langsung menghampiri abinya.

“Abi, kata ibu, ibu pingin mangga. Ayo, kita beli, Bi!”
“Bilang sama ibu, jangan cemberut, baru deh dibeliin.”

penang_5

Beruntung memang jika ada anak-anak. Mereka selalu bisa menjadi jembatan komunikasi kami. Berbeda sekali jika kami hanya berdua di suatu tempat yang teramat jauh dari rumah. Meski marah, kami harus tetap dekat dan saling menjaga. Apa jadinya jika saling tak peduli lalu hilang di negeri orang?

Jadi, meski saat traveling berdua kami banyak didominasi oleh perbedaan pendapat dan gesekan hingga percikan api kemarahan, kupastikan aku tak akan kapok untuk mengulangi lagi bersamanya. Karena aku tau dialah malaikat, meski tak bersayap. Tsubasa, no nei tenshi.

Dan hari ini, di usiaku yang mulai menginjak kepala tiga, aku berharap, semoga bisa memahami arti cinta, sebagai kekuatan yang mengubahku menjadi lebih baik, untuk dia, untuk mereka, malaikat-malaikatku. 🙂

Comments are closed.