All about love, Kenangan, Lomba Blog

Memeluk Cinta

Aku sudah berdiri di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Pintunya terbuka sedikit. Seseorang di ruang tamu tengah duduk di sofa. Ia tersenyum lebar melihatku datang. Ia bangkit dari duduknya. Menghampiriku, kami bersalaman.

“Bi, Mak Uwe mana?” tanyaku.

“Di kamar” bibi menjawab seraya menunduk dan mencium Daffa’ dan Abyan yang berdiri di sebelahku. “Masuk saja” lanjutnya lagi.

Aku melangkah masuk. Rumah ini, terakhir aku datang kesini, dua tahun lalu. Saat lebaran juga. Sudah lama sekali ternyata. Tiba-tiba ada rasa bersalah menyelinap bilik hatiku.

Kamar yang aku tuju letaknya tepat di belakang ruang tamu. Tak butuh banyak langkah setelah masuk rumah, aku sudah sampai. Kamar ini tidak berdaun pintu. Hanya ditutup dengan gordyn seadanya. Masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah.

Kusibak gordyn warna pink yang telah lusuh. Terlihat sosok perempuan tua tengah tertidur dengan posisi miring di atas ranjang besi yang dicat warna biru. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang ringkih berbalut daster batik, dan bagian kepalanya yang tertutup rambut-rambut perak. Kakinya terlihat menekuk, diselimuti kain batik tipis yang tak kalah lusuhnya dengan gordyn yan masih aku pegangi.

“Mak…,” lirih suaraku mencoba memanggil. “Mak,” kali ini sedikit lebih bersuara.

Sementara perempuan tua yang kupanggil mak itu tak bergeming. Sepertinya sedang tertidur pulas. Aku melangkah masuk ke kamar. Di sisi ranjang aku kembali terhenti. Kuperhatikan lagi sebentuk tubuh yang telah termakan usia.

Lalu perlahan, pelan sekali, aku duduk di tepi ranjang, lalu berbaring di balik punggungnya Mak Uwe’ dan memeluknya.

Ah! Aku kangen sekali padanya. Perempuan ini yang selama 15 tahun merawatku. Sejak aku bayi hingga lulus SMP. Dia lebih dari sekedar ibu. Sejak ayah dan ibuku bercerai, aku diurus oleh Mak Uwe’ & Pak Uwe’. Oya, sebelum aku lupa, Uwe’ itu dari asal kata tuek, yang artinya tua dalam bahasa Jawa. Mak Uwe’ & Pak Uwe’ adalah orang tua dari ibuku. Mereka yang mendidik dan membesarkanku hingga lulu SMP. Saat itu aku memilih meninggalkan kampung untuk mencari SLTA yang bagus.

Mak Uwe’ & Pak Uwe’ sangat possesif padaku. Mereka tak mau mau kehilangan aku, setelah kakak perempuanku meminggal bahkan sebelum aku dilahirkan. Kakakku meninggal pada usia 7 bulan. Konon, karena terlalu lelah diperebutkan dua keluarga yang bercerai. Setelah itu ayah dan ibuku rujuk, lalu lahirlah aku, lalu bercerai lagi pada ysiaku yang masih 9 bulan.

Setelah meninggalkan kampung kelahiranku ini, aku melanjutkan sekolah di kota Metro. Jaraknya sekitar 38 mil dari kampungku di kecamatan Bangun Rejo, Lampung Tengah. Meski Pak Uwe’ tak mengijinkan, aku tetap pergi. Aku menghubugi ayahku yang tinggal di Cilegon untuk megirimi biaya sekolahku. Ya, Pak Uwe’ hanya petani. Beliau tak punya cukup uang untuk mengirimku ke SLTA yang bagus. Apalagi di kota Metro dan harus kost.

Seminggu setelah aku masuk sekolah, tepatnya 19 Juli 2000, kakek meninggal. Mendengar itu, aku terpukul sekali. Karena bahkan aku tak berani berpamitan sebelum meninggalkan rumah untuk pergi bersekolah di Kota Metro. Penyesalanku semakin mendalam ketika aku tiba di rumah, dan mendati Pak Uwe telah terbujur kaku di ruang tamu.

Pagi itu pukul 3 pagi. Aku terbangun karena ada yang mengetuk pintu kamar kostku. Rupanya ibu kostku kedatangan tamu di dini hari. Tamu itu adalah tetanggaku di kampung, yang ditugaskan menyusulku karena Pak Uwe telah berpulang. Sesampainya di rumah, aku hanya bisa terpaku di sisi jenazah Pak Uwe, sosok pengganti ayah buatku. Aku tak bisa menangis lagi saat itu. Air mata sudah habis tertumpah selama perjalanan pulang.

Mengetahui aku datang, Mak Uwe segera keluar dari kamarnya lalu menubrukku dari belakang. Memeluk dan memangis sejadi-jadinya. Aku hanya bisa diam. Dan penyesalan itu masih membekas hingga kini. Kata Mak Uwe’, sehari sebelum meninggal, Pak Uwe’ sempat mengutarakan keinginannya untuk menengokku di rumah kostku.

Sepeninggal Pak Uwe’, ada rasa kehilangan dalam hidupku. Aku jadi tidak betah tinggal di rumah kost. Aku mengusir rasa kehilangan dan penyesalanku dengan mengikuti berbagai kegiatan extrakurikuler di sekolah. Pramuka, Paskibra, PMR, dan Rohis. Menyibukkan diri, itu caraku untuk melupakan masalah. Hampir setiap hari aku berangkat pagi dan pulang petang. Kamar kost hanya untuk tidur setelah lelah lelah belajar di kelas, lalu lanjut kegiatan exkul selelesai jam pelajaran.

Setelah lulus SLTA, aku pindah ke Cilegon. Kuliah, lalu tinggal menetap di kota baja karena setelah lulus kuliah D2 aku langsung mendapat pekerjaan, lalu menikah dan punya anak. Aku hanya bisa mengunjungi Mak Uwe’ di tanah kelahiranku ini setiap lebaran. Tapi, lebaran setahun yang lalu, aku tidak mudik. Setahun yang lalu itu, aku butuh menyepi untuk bisa mengerti apa yang telah terjadi dalam hidupku. Proses perceraianku saat itu yang belum selesai, membuat aku lebih suka menyendiri dan tak ingin bertemu sesiapa, bahkan orang tua.

“Mak, aku pulang,” aku berbisik lirih sambil masih memeluknya dari belakang.

Sekuat-kuatnya aku menahan bening yang telah menganak sungai dibalik mataku. Sampai akhirnya perlahan aku mendengar isak tangis. Ya Allah, rupanya sejak tadi Mak Uwe’ memangis dalam diam. Hingga tak tertahan rasa di dada, kini ia terisak. Dan aku pun ikut menangis.

“Aku fikir…, kamu lupa,” Mak Uwe’ mencoba bicara di antara tangisnya.

“Mak, mana mungkin aku lupa,” aku makin tergugu, mencoba menghapus kekhawatiran Mak Uwe’.

Mak Uwe’ membalikkan badan. Kini kami saling berpelukan, lalu tenggelam dalam tangis. Rindu dan bahagia yang mengharu biru. Setelah dua tahun tak bertemu.

Setelah mereda, kami melepas pelukan. Masih berbaring menghadap langit-langit kamar. Menghela nafas panjang, lalu kami larut dalam diam.

“Umur Emak sudah semakin tua, Emak fikir emak nggak punya cukup waktu lagi untuk ketemu kamu lagi lebaran tahun ini,” Emak membuka pembicaraan.

“Maaf ya, Mak. Aku selama ini sibuk sendiri. Aku jarang pulang. Aku egois!” Penyesalan tu semakin terasa.

Mataku kembali berkaca-kaca. Air mata mengalir lagi. Mak Uwe’ memalingkan pandangannya ke wajahku. Diangkatnya tangan keriput yang selalu penuh cinta untuk putra-putrinya. Tangan itu kini mengusap air mataku. Kuraih tangan kurus itu, lalu kuciumi. Dan tangis masih saja enggan usai.

Ya Allah…, terima kasih telah Kau pertemukan lagi aku dengan Mak Uwe’. Terima kasih untuk segala nikmat yang Kau limpahkan kepada kami selama ini. Untuk cinta mak Uwe yang tak pernah putus untukku. Untuk berkah usia dan waktu sehingga aku bisa kembali memeluk cinta dalam hidupku, Mak Uwe’.

*****

Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan Give Away

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.