Membunuh rasa takut menuju Surabaya

Berbekal tiket Air Asia yang aku beli awal 6 bulan lalu, akhirnya jadi juga kami ke Surabaya pada 12 Juli 2014. Kami di sini hanya aku bersama Daffa’ dan Abyan. Sedih sebenarnya karena Abi tidak bisa ikut. Tapi Alasannya cukup masuk akal, nggak mau bolos karena jatah cuti tahunan sudah habis. Ok, baiklah.

Berangkat dari Bekasi, kami memilih naik taxi dari Tol Jati Bening. Ada hal yang cukup membuat sesak di dada. Kecelakaan terjadi di tol Jati Bening sehingga macet tak bisa dihindarkan. Sepasang mataku berkali-kali mengintip argo taxi yang terus hidup dan angkanya bertambah, padahal taxi yang kami tumpangi tak kunjung maju jalan. Maka ongkos taxi pun akhirnya harus menyamai harga tiket pesawat return CGK-SUB seharga Rp200.000.

Untungnya aku memutuskan berangkat pagi jam 10 dari rumah Abi, meskipun jadual flight jam 2:30 siang. Antisipasi saja, kalau-kalau jalanan macet. Jangan sampai kami ketinggalan pesawat karena terjebak macet. Dan tanpa disadari, sebenarnya dari traveling kita banyak belajar tentang perencanaan dan perhitungan waktu.

Sekitar jam 1:00 siang kami tiba di Terminal 3 Bandara Soeta. Suasana bandara ramai seperti biasanya. Kami langsung check-in dan masuk ke ruang tunggu. Sambil menunggu boarding, kami mengobrol. Salah satu topik yang lucu adalah saat Abyan bertanya mengapa ke Surabaya harus naik pesawat?

“Memangnya kenapa?” tanyaku tanpa beban.

“Itu, Bu. Kan ada lagunya yang ke Surabaya naik kereta” jawab Daffa’. Tanpa kuduga, Daffa’ dan Abyan lalu kompak menyanyikan lagu dangdut lawas yang sekarang kembali terkenal karena dinyanyikan dalam versi koplo. Haduuh…, anak jaman sekarang!

Hmm, aku tau. Mereka ogah naik pesawat bukan karena ingin naik kereta. Tetapi karena Abyan yang takut naik pesawat. Tahun 2013 lalu, ketika untuk pertama kalinya kami naik pesawat, Abyan belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya karena melihat banyak berita di TV tentang kecelakaan pesawat. Belum lagi suara bising mesin di bawah sayap pesawat yang membuatnya lari menghindar sesaat sebelum masuk ke kabin pesawat. Untungnya perjalanan kami saat itu masih dilindungi oleh Tuhan. Alhamdulillah, kami selamat.

Namun meski demikian, Abyan masih menyimpan rasa takutnya untuk naik pesawat. Tapi aku yakin ia sudah lebih berani, dan tak akan lari menghindar lagi seperti dulu. Aku tau, ini tugasku untuk membantunya labih berani lagi. Salah satu caraku untuk mencairkan suasana sementara Abyan sedang nerveous adalah dengan menggodanya.

Cie ciee, kakak mau naik pesawat, cie…” godaku sambil mencolek hidungnya.

Cie kakak masih takut, cie…” kali ini Daffa’ ikut-ikutan menggoda adiknya.

Abyan tak mau kalah. Segera saja ia mengangkat tangannya untuk mencolek hidungku sambil tertawa. “Kena!” ucapnya. Maka perang colek hidung pun pecah di antara kami bertiga.

Tak lama, panggilan untuk boarding mulai terdengar melalui pengeras suara. Kuajak Daffa’ dan Abyan berdiri. Kami berpelukan dan berdoa bersama. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kami, menjadikan perjalanan ini bermanfaat untuk kami, menorehkan kenangan manis di hati dan hari anak-anakku, menjadikan mereka pribadi-pridadi yang bahagia. Aamiin.

Sebagaimana virus yang sulit dimusnahkan hanya dengan satu kali pengobatan, kecemasan itu juga masih tergambar dalam raut wajah Abyan, ketika kami sudah duduk di dalam kabin pesawat. Ia memeluk lenganku erat. Aku dapat merasakan jatungnya berdebar lebih cepat.

“Hei, masih takut?” tanyaku. Abyan tidak menjawab. Dua sudut bibirnya melengkungkan senyum yang terpaksa. Ia jadi terlihat menggemaskan dengan kedua pipinya yang semakin membulat setiap kali tersenyum.

“Nggak gitu juga keleus…!” ucapku seraya menarik lenganku dari pelukannya.

“Aah, Ibu!” Abyan, bocah yang usianya belum genap 6 tahun itu menjerit manja. Ditariknya lagi lenganku dan dipeluknya. Aku dan Daffa’ terkekeh, sementara Abyan malu-malu menyembunyikan wajah di balik lenganku.

Moment-moment seperti inilah yang akan selalu membekas dalam ingatan kami. Saat kami bersama-sama mengatasi segala cemas, dengan tertawa, dan berdoa bersama-sama.

To be continued…

Leave a Reply