Membawa asa ke Pulau Harapan

IMG-20130426-00005Siang yang sibuk. Aku mengantuk. Sembari melayani berpuluh konsumen toko di koperasi karyawan tempatku bekerja. Aku beberapa kali menguap. “Astagfirullah, rasanya semalam aku sudah tidur cukup”, aku berbicara dalam hati sembari menguap, lagi dan lagi.

Selesai salat Jum’at, banyak karyawan berbondong menghabiskan waktu istirahat di koperasi untuk bebelanja. Aku, meski bagian kerjaku bukan kasir toko, aku selalu membantu menjadi kasir tambahan setiap jam istirahat hari Jum’at. Sekarang jam 1 siang lewat 10 menit. Selesai shalat dzuhur, aku langsung duduk manis di depan komputer dan menulis ini. Kantuk sudah tidak terlalu berat di mataku. Mungkin karena tadi sudah luruh bersama air wudhu.

Aku meresahkan sesuatu. Sebenarnya sejak lama resah itu diam-diam betah di dadaku. Rasanya aku sudah lelah, dan ingin mengakhiri permainan ini. Aku sebut ini permainan, tapi aku tak pernah menganggap ini main-main. Ini adalah harapan. Harapan yang terus aku pegang kemanapun aku langkahkan kaki. Harapan pada dia yang mengetahui ini dengan baik. Namun aku curiga, harapanku tak selaras dengan harapannya.

Ya tuhaaan. Mataku memanas. Aku ingin sekali menangis detik ini. Setelah setahun lebih baru kali ini menyadari benar ternyata perbedaan begitu jelas kentara sekarang. Meski aku masih yakin, cinta kita tetap sama. Cinta yang sama-sama ingin membahagiakan. Kemudian teringat sebaris puisi Gie yang berbunyi; “Kita begitu berbeda dalam segala hal, kecuali dalam cinta”. Seperti juga banyak bertebaran quote-quote anonimous menjelaskan bahwa tidak ada orang yang benar-benar cocok dalam dunia ini, yang ada hanya manusia-manusia berbeda yang saling mencocokkan diri. Baiklah, kuhibur diriku sendiri. Perbedaan bukan masalah asal kita bisa saling mengerti, mengisi, dan berjalan sesuai komitmen. Pertanyaannya, apakah kita sudah berkomitmen? Ah, tiba-tiba satu sudut bibirku tertarik sedikit ke belakang.

Lalu mataku berlari ke arah kiri, di dinding dimana tergantung sebuah kalender harian warna merah. 2 digit angka terlihat jelas disitu. Ah, sudah penghujung April. Mei segera tiba. Hapir pertengahan tahun lagi di 2013. Apa kabar resolusi? Aku rindu realisasi. Sebuah rencana yang selalu tertunda, karena berbagai kendala. Bukan materi, tapi faktor ketidak-siapan yang pasti. Soal mental, ya, kita sama-sama belum siap mental. Mungkin! Terbukti pada beberapa perdebatan, atau katakanlah diskusi, yang pelik dan selalu berakhir menggantung. Tanpa keputusan, tanpa kesimpulan. Dia cukup dewasa untuk menyudahi “perang” argumen, dan aku terlalu kanak-kanak untuk mengerti maksudnya.

Seperti buah pada ujung-ujung ranting bergelayut, mereka menunggu dipetik. Seperti itulah harapanku. Anggaplah aku ini pohon, entah sudah berapa kali buah-buah itu layu, jatuh ke tanah. Namun selagi aku hidup, aku akan terus menyerap makanan dari bumi, berfotosintesa bersama matahari, aku akan berbuah lagi. Sembari menunggu dia, aku akan menari bersama angin, bahkan di bawah hujan. Dan menguatkan akar agar tetap berdiri ditengah badai.

Hampir satu jam jariku menari di atas keyboard kpmputer kantor. Ya ampuun, aku mencuri lagi. Menulis kegalauan hati di jam kerja. Tapi sekarang aku sedikit lega. Menulis memang kegiatan yang bisa menenangkan keresahanku.

Tiga jam setengah lagi. Jam kerja berakhir. Belum telat jika sekarang aku berucap TGIF, artinya kurang lebih adalah, Alhamdulillah besok weekend! Selesai kerja hari ini, aku tidak pulang ke rumah. Ransel berisi pakaian dan semua perlengkapan untuk backpacking sudah siap, ku simpan di loker kantor sejak dua hari lalu. Sore ini, aku akan menggantung blazer yang sekarang melekat di badan. Aku akan berganti kostum celana cargo, T-shirt, dan jaket bulu angsa. Lalu langsung menuju terminal Pakupatan Serang, untuk kemudian naik bis ke Jakarta. Besok pagi-pagi sekali, aku harus berkumpul di depan pom bensin Muara Angke. Dari sana, aku akan bertolak dengan kapal ferry dari dermaga Muara Angke ke pulau Harapan di kepulauan Seribu. Aku mau liburan!

Leave a Reply