Resensi Buku

Membaca Diri Dalam Kisah The Traveler’s Wife

Resensi buku The Traveler's Wife

Membaca beberapa bab pertama The Traveler’s Wife, perasaanku dibuat bergejolak. Ceritanya mengingatkanku tentang kenangan ketika aku harus meninggalkan anak-anak di rumah, untuk pergi berpetualang. Langkah terasa berat karena menyadari akan ada hari-hari yang harus dilalui tanpa anak-anak. Tetapi, ketika kaki sudah harus melangkah, aku tau, aku harus kuat.

Mungkin persis seperti yang dirasakan Tias Tatanka, yang ditulis dalam buku The Traveler’s Wife ini. Bedanya, mba Tias melakukan perjalanannya bersama Gol A Gong dengan misi menyebarkan semangat literasi. Sedangkan aku, untuk memenuhi rasa haus karena ingin melihat dunia yang lebih luas. Itu yang membuatku mengagumi sosok Tias Tatanka. Setiap langkah yang ditempuhnya, selalu diniatkan untuk ibadah. Bukan hanya ibadah untuk memberantas kemiskinan ilmu, dengan menyebarkan virus gempa literasi, tetapi juga menjalankan ibadah tertinggi sebagai seorang istri, yaitu mendampingi suami.

"...kami bersiap mengadakan Gempa Literasi Asia di Johor Baru..." (hal.23)
“…kami bersiap mengadakan Gempa Literasi Asia di Johor Baru…” (hal.23)

Sesuai dengan judulnya, buku ‘The Traveler’s Wife’ ini bercerita tentang sudut pandang seorang istri saat mendampingi suaminya, melakukan penjelajahan di 7 negara selama 48 hari. Sebelumnya, Gol A Gong (suami mba Tias), juga sudah menuliskan dan menbukukan catatan perjalanan mereka dalam buku berjudul ‘Honeymoon a la Backpacker’.

Sebagai sepasang penulis dan pejalan, yang sama-sama menuliskan kisah perjalanan yang sama dalam sebuah buku, tentu masing-masing memiliki ciri khasnya tersendiri. Dalam artian, meskipun menempuh perjalanan bersama, di tempat dan waktu yang sama, tetapi kisah yang dituliskan tentu berbeda berdasarkan sudut pandang masing-masing.

Dan itu yang menarik dari buku The Traveler’s Wife, karena sebelumnya belum ada buku yang berisi kisah perjalanan yang ditulis dengan angle sebagai istri dari seorang pejalan. Kalau solo traveler perempuan, kita sudah mengenal nama Trinity, ada juga penulis yang punya ciri khas family traveling, atau penulis dan pejalan yang menuangkan banyak filosofi kehidupan seperti Windy Ariestanti.

Jadi, saat membaca The Traveler’s Wife, aku tidak hanya bisa menikmati cerita penulis tentang tempat-tempat baru yang dikunjungi, yang dituliskan dengan detil dan intuitif. Sehingga aku bisa membayangkan, seperti apa suasana Kahosan Road di Bangkok yang belum pernah kusambangi, atau tentang suasana Kolkata di India yang digambarkannya dengan ironi.

Quotes The Traveler's Wife
“Salahkah aku menjatuhkan cinta?” (hal.74)

Akan tetapi, aku juga diajak untuk mengerti dan menyadari lagi, bahwa sebagai perempuan, kita harus pandai menempatakan diri dalam berbagai situasi dan dalam berbagai peran. Sebagai ibu untuk anak-anak, sebagai istri, juga sebagai individu.

Ada banyak adegan dalam The Traveler’s Wife yang bisa membuatku merenung dan berkaca ke dalam diri, lalu menyadari kesalahan-kesalahan. Di beberapa bagian, ada juga yang sukses membuatku senyum-senyum karena aku juga pernah mengalami hal serupa saat traveling bersama suami.

Dan sepertinya itu adalah alasan mengapa aku menulis endorsment seperti yang telah tercetak di cover belakang bukunya.

Cover Buku The Traveler's Wife

Hal lain yang membuatku suka dengan buku The Traveler’s Wife, adalah karena cerita atau catatan perjalanan yang ditulis tidak terlalu panjang pada setiap judul babnya. Maksimal hanya sekitar 2 sampai 3 halaman per bab. Jadi tidak merasa bosan atau lelah saat membacanya. Dan malah membuat penasaran untuk terus membaca sampai habis. Sst, ini hal luar biasa buatku yang bukan pemamah buku.

Satu lagi, aku suka gambar di covernya. Ada dua pasang kaki Β yang mengenakan sepatu sneakers, dengan latar belakang Grand Palace, Bangkok. Aah, ini membuat kakiku gatal, pingin traveling lagi sama si kurus. Whoaa…

Ingin merasakan lagi betapa perjalanan bersama pasangan itu berjuta rasanya. Mulai dari yang manis dan indah-indah, serta romantis, sampai yang asem dan pahit, serta menegangkan. Seperti juga yang dialami mba Tias ketika salah jadwal saat memesan tiket pesawat, dan kehabisan duit di India.

The Traveler's Wife, hal. 96
The Traveler’s Wife, hal. 96

Dan untuk menutup tulisan tentang buku The Traveler’s Wife ini, aku ingin menuliskan sebuah kesimpulan bahwa…

Sebuah catatan perjalanan yang sukses, bukan hanya tulisan yang membuat pembacanya tergerak untuk menjadi pejalan, tetapi juga bisa membuat pembacanya melihat ke dalam diri, lalu menuai makna dan manfaat dari perjalanan yang ditempuhnya. ~ Noe Traveler

22 thoughts on “Membaca Diri Dalam Kisah The Traveler’s Wife

  1. Pasangan penulis ini keren banget ya.

    Suka Quote ini –>> Sebuah catatan perjalanan yang sukses, bukan hanya tulisan yang membuat pembacanya tergerak untuk menjadi pejalan, tetapi juga bisa membuat pembacanya melihat ke dalam diri, lalu menuai makna dan manfaat dari perjalanan yang ditempuhnya. ~ Noe Traveler

  2. keren, perjalanan pasangan penulis, udah dua-duanya dibikin buku, ini honeymoon pula, πŸ™‚ sangat manis.
    bicara soal traveler cewek, (saya belum baca punya mbak Tias sih) bukunya mbak windy emang oke, selalu salut sama kutipan-kutipan dan filosofi yang rasanya emang dia tulis dari pikirannya sendiri.

    1. Hihi, honeymoon emg selalu manis yaa… Coba baca deh buku The Traveler’s Wife, dan Honeymoon a la Backpacker.

      Tulisan mba wondy emg filosofis bgt ya, cuma kadang klo otak lg gk rilex, malah jd kerasa berat pas baca nya. Hihi

  3. Sepertinya kemaren aku lihat buku ini udh ada di toko buku gunung agung semarang deh….hmm..sepertinya pasangan traveller blogger itu seru yah…xixixix…..

  4. Catatan perjalanan dari sudut pandang yang berbeda,
    tentunya kisah seorang mbak tias katangka bisa menjadi inspirasi setiapm ibu rumah tangga dalam menemani suaminya liburan.

Leave a Reply to Lusi Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.