Curcol

Matahari terbit di Bukit Kramatwatu Indah

Pagi-pagi sekali, aku sudah duduk di taman. Menghadap cakrawala timur. Awan tipis terlihat mengambang. Diam tak berarak. Dibalik itu, ada sebentuk cahaya emas. Bergerak meninggi menjauhi horizon.

Mataku terkesiap ketika perlahan cahaya itu terlihat membulat. Cepat-cepat kuraih android di saku blazer coklatku, seragam kerja untuk hari kamis yang manis. Segera kusentuh icon camera di layar Samsung galaxy grand kesayangan. Aku harus mengabadikan golden sunrise pagi ini.

Ah, seperti ada rindu yang terlepas. Ada bahagia menyusup. Selama beberapa bulan terakhir, aku tidak bisa dengna jenak menikmati indahnya matahari terbit dari taman komplek perumahanku ini. Rutinitas pagi di hari-hari lalu, memaksaku buru-buru meninggalkan sarang lebih awal. Demi menitipkan anak-anak ke rumah kakeknya di Cilegon, sebelum aku pergi bekerja. Yang bisa kulihat sambil lalu menuju Cilegon, hanya langit merah sebagai tanda bahwa matahari sebentar lagi hendak bertugas.

Mulai hari ini, aku bisa sedikit bersantai. Kembali pada kebiasaan lama. Pukul 6 pagi kurang 10 menit. Berjalan santai menuju pintu gerbang komplek perumahan. Melewati beberapa blok, dan hanya putuh sekitar 2 menit saja hingga aku sampai di jalan utama komplek. Ada taman kecil di jalan utama itu. Di taman ini aku biasa duduk sejenak. Menikmati pagi dengan kabut tipis mengambang menyelimuti atap-atap rumah. Satu-dua burung terbang melintas tertangkap padangan. Langit merah. Angin sejuk. Pucuk-pucuk bunga yang masih dibasahi embun. Dan matahari yang bersiap sinari bumi. Kunikmati semua anugerah pagi yang tersaji gratis setiap hari, hingga pukul 6 tepat dan aku akan pergi dengan bis jemputan kantor menuju tempat kerja.

Aku jadi teringat keputusanku di tahun ajaran baru 2013 pada bulan Juli lalu. Aku mendaftarkan Daffa’ di sekolah SD N XII Cilegon. Cilegon, sebuah kota kecil di provinsi Banten yang terkenal dengan industri baja dan merupakan penghasil baja terbesar di Asia Tenggara. Tak heran jika kota ini dijuluki sebagai Kota Baja. Jaraknya dari Kramatwatu, tempat tinggalku di wilayah kabupaten Serang, sekitar 7 kilometer.

Setiap hari, pagi-pagi sekali aku harus naik ojek dari rumah sampai jalan raya, lalu lanjut naik angkot menuju Cilegon untuk menitipkan Daffa’ & Abyan di rumah Bapak di Cilegon. Selanjutnya, aku akan berangkat ke kantor, dan Bapak yang akan bertugas mengantar-jemput Daffa’ ke sekolahnya. Sore setelah pulang kerja, aku harus mampir ke rumah Bapak. Menjemput Daffa’ & Abyan, lalu pulang ke rumah dengan rute yang sama. Naik angkot dari Cilegon ke Kramatwatu, lalu naik ojek sampai rumah.

Setiap hari menjalani rutinitas seperti itu, aku merasa tubuhku jadi lebih capek. Biasanya, aku baru bisa tiba di rumah paling cepat pada jam 7 malam. Tenaga seolah sudah terkuras habis. Aku merasa, setelah sampai di rumah, yang kubutuhkan hanya tidur. Anak-anak juga. Ah, aku jadi kehilangan prime time bersama anak-anak pada hari-hari biasa. Yang paling parah, kadang aku melewatkan hari-hari tanpa menemani anak-anak belajar atau mengerjakan PR.

Sudah beberapa hari terakhir ini, aku dihampiri dilema. Daffa’ tidak memiliki perkembangan yang bagus di sekolahnya. Bukan hanya soal kepayahan dalam menangkap pelajaran. Tetapi, menurut gurunya, Daffa’ tidak se-ceria anak-anak lainnya. Aku sedih mendengar ini. Aku yang paling bersalah. Daffa’ pasti kurang perhatian. Astaghfirullah… Ampuni aku ya Allah…

Sebentar lagi, seluruh siswa di sekolah tingkat apapun akan menghadapi ujian semester. Aku berencana akan memindahkan sekolah Daffa’ ke SD N 3 Kramatwatu, setelah ia menerima rapor semester pertama. Sekolah ini tidak terlalu jauh dari rumah. Bahkan jika aku mengijinkan, Daffa’ bersedia pergi ke sekolah dengan bersepeda. Namun ada satu hal yang masih menggelayuti fikiranku. Apakah Daffa’ akan mampu mengerjakan soal-soal ujian semester nanti?

Aku terus berfikir. Mencari jalan terbaik. Dan sudah ku putuskan. Beruntungnya aku, setelah pencarian yang begitu lama, akhirnya ada juga yang mau bekerja sebagai asisten di rumah. Menjaga anak-anak selama aku bekerja. Untuk Daffa’, aku meminta tolong kepada tukang ojek langganan untuk mengantar dan menjemput Daffa’ sekolah di Cilegon, sementara ia belum pindah sekolah. Dan untuk mengejar ketertinggalan, aku meminta bantuan seorang guru PAUD yang kebetulan bertetangga denganku, untuk memberi les pada Daffa’.

Maka hari ini, ijinkan aku sejenak bernafas lega. Bukan hanya karena aku bisa kembali menikmati pemandangan matahari terbit di pagi hari. Tetapi juga karena aku sudah menemukan solusi untuk masalah-masalah tentang anak-anakku. Semoga keputusanku ini sudah yang terbaik. Aku ingin memperbaiki kesalahan. Aku tau, selalu ada kesempatan kedua. Dan akan selalu ada harapan baru seiring dengan terbitnya matahari yang mengawali pagi.

“Harapan, kata Vaclav Havel, “bukanlah keyakinan bahwa hal-ikhwal akan berjalan baik, melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong kosong dalam semua ini, apa pun yang akan terjadi akhirnya” – Goenawan Mohamad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.