Aceh

Masih Penasaran, Apa Saja Yang Ada di Museum Tsunami Aceh

Ada kelegaan ketika aku mulai berjalan memasuki gedung Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (BTJ) di Banda Aceh. Aku merasa sudah amat dekat dengan destinasi yang kuimpikan sejak setahun lalu. Sabang! Namun aku harus bersabar semalam lagi, baru esok paginya menyeberang ke Pulau Weh dengan kapal ferry dari dermaga Ulee Lheue.

Museum Tsunami Aceh

Hujan rintik yang turun siang menjelang sore itu, tak menghalangi langkahku dan teman-teman untuk mengunjungi beberapa obyek wisata di kota Banda Aceh. Setelah check-in dan menaruh barang bawaan kami di Crystal Guest House, kami langsung menuju Museum Tsunami dengan becak motor.

Gerimis yang semula rintik, justru semakin deras ketika kami tiba di Museum Tsunami. Kami lalu buru-buru masuk ke dalam gedung museum yang ternyata tidak dipungut bayaran alias gratis.

Kesan pertama memasuki museum, aku langsung kagum pada bentuk bangunan, arsitektur, dan design-nya yang unik. Lalu menebak-nebak, ini arsiteknya pasti orang luar negeri. Karena pasca tsunami itu, ada banyak bantuan datang dari penjuru dunia, termasuk relawan dan orang-orang hebat yang tergugah jiwanya untuk membantu. Tetapi setelah kuselidiki lewat internet, ternyata arsiteknya adalah Ridwan Kamil. Waw!

Museum Tsunami

Sebelum memasuki gedung, dari bagian luarnya saja aku sudah bisa merasakan aroma tragedi Tsunami pada Desember 2004 silam. Ada bangkai mobil, helikopter, sampai batang pohon besar yang tercabut sampai akarnya akibat terkena gelombang tsunami yang dahsyat.

Nonton Film Dokumenter

Ketika memasuki gedung museum, ada seorang petugas lelaki yang menyambut. Ia menawari kami untuk menonton film dokumenter tsunami. Kami lalu mengikutinya masuk ke sebuah ruangan mini theater, dan duduk di kursi-kursi yang masih kosong. Seketika mini theater itu menjadi penuh setelah rombongan kami masuk, dan film pun mulai diputar.

Foto Tsunami

Tak terasa, air mataku mengalir saat menomton film yang berdurasi sekitar 10 menit itu. Cuplikan-cuplikan video yang dulu sering kulihat di tv, kini kusaksikan lagi. Menjadi satu rangkaian film yang memilukan. Air laut meluap, rumah-rumah hancur, ribuan nyawa terenggut, mayat tergeletak di hampir setiap tempat, dan tangisan yang selamat namun kehilangan keluarga. Ya, bukan cuma bumi, hati yang hidup pun ikut hancur!

Melihatku menangia, Daffa’ & Abyan jadi keheranan.

“Ibu, kenapa nangis? Ibu sedih? Kasian ya, Bu?” Tanya Daffa’. Aku mengangguk.

“Kakak ngga sedih, Bu.” Abyan ikut berpendapat.

Duh, nak… Kelak kamu pasti ngerti. Ibu belum bisa jelaskan sekarang. Batinku.

Ruangan Pameran

Usai menonton film, kami tidak terlalu banyak explore di dalam museum. Karena hari sudah sore dan museum sudah hampir tutup. Ditambah lagi perut kami yang sudah keroncongan karena belum makan siang. Jadi kami hanya masuk ke beberapa ruangan saja untuk melihat artefak-artefak sisa kedahsyatan tsunami, dioramaย berbagai kondisi saat tsunami, dan ruang pameran foto-foto tsunami.

Foto Tsunami

Diorama gelombang tsunami yang dipamerkan, ukurannya cukup besar. Disana digambarkan gelombang air laut yang tingginya melebihi pohon kelapa, lengkap dengan miniatur orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri.ย Ada juga diorama Masjid Baiturrahman yang tetap kokoh berdiri sementara bangun disekitarnya hancur dan rata dengan bumi.

Yang mengharukan, di ruang pameran foto. Aku terenyuh melihat foto seorang anak lelaki yang menangis bahagia karena akhirnya bertemu ibunya setelah lama saling terpisah. Ada juga foto-foto senyum anak-anak pasca tsunami yang akhirnya kemvali ceria berkat bantuan moril dari banyak pihak.

Foto Tsunami

Lorong Yang Terlewatkan

Dari hasil googling, sebenarnya banyak hal yang ingin kulihat dan rasakan di Museum Tsunami Aceh ini. Mulai dari memasuki gedung tsunami melalui lorong gelap yang dindingnya setinggi 40 meter, yang mana di lorong tertsebut ada efek air jatuh sehingga pengunjung bisa merasakan seolah berada dalam gulungan gelombang taunami. Setelah melewati lorong, pengunjung akan sampai pada sebuah ruangan berbentuk cerobong. Ruangan ini biasa disebut ruang penentuan nasib (fighting room).

Suasana dalam ruangan ini sudah tidak terlalu gelap seperti di dalam lorong masuk. Di bagian atas cerobong ada cahaya yang masuk, yang katanya ada lafadz Allah, yang berarti “Light of God”. Di dinding cerobong, dipenuhi dengan nama-nama korban tsunami yang tak mampu menyelamatkan diri dari derasnya gelombang. Ah, dramatis sekali filosofi arsitekturnya.

Setelah melewati cerobong ini, baru kemudian pengunjung akan sampai di ruangan di mana ada theater pemutaran film dokumenter tsunami, dan seterusnya yang sempat kulewati, sampai akhirnya hatus keluar gedung karena jam buka sudah habis, yaitu jam 5 sore.

Ketika keluar dari gedung museum, kami malah terjebak hujan. Dengan perut lapar, akhirnya kami hanya pasrah menanti hujan reda dirmperan gedung museum. Cukup lama juga kami menunggu. Dan karena tak juga reda, akhirnya kami nekat lari hujan-hujanan menuju tenda para pedagang makanan yang ada di halaman museum.

Kami lalu membeli gorengan untuk mengganjal perut. Tepat di sebelah pendagang gorengan, ada pedagang batu akik. Wah, wah… Dimana-mana memang lagi demam batu. Jadi ingat titipan adik yang minta dibelikan giok Aceh. Aku pun tak bisa menolak untuk membelikannya, apa lagi harganya masih terjangkau lah. Hanya Rp20.000 saja untuk sebongkah giok, yang jika digosok (dibentuk batu cincin) bisa jadi 6 biji.

Tak lama setelah transaksi batu akik, hujan mulai mereda. Kami kembali naik becak motor, dan kembali ke penginapan.

Diorama Tsunami

Sebenarnya, dalam hati aku masih menyimpan rasa penasaran. Ingin sekali bisa masuk Museum Tsunami Aceh itu, dari lorong bawah yang gelap. Ingin sedikit merasakan betapa mengerikannya bencana itu. Entah kapan bisa ke Aceh lagi.

Dan seandainya bisa kembali, aku ingin ke Museum Tsunami lagi, memotret lebih baik lagi, terutama diorama & miniatur gelombang tsunami yang dramatis itu. Kalau bisa dengan kamera yang lebih bagus, supaya hasil fotonya ngga ngeblur semua seperti yang di-attach di postingan ini. Heuheuu… Jadi harap maklum yaa, kemarin aku pakai kamera yang ngga kece kalau di dalam ruangan minim cahaya.

28 thoughts on “Masih Penasaran, Apa Saja Yang Ada di Museum Tsunami Aceh

  1. Sudah lama banget pengen kesini, tapi belum kesampaian. Bacanya aja sudah bergidik, apalagi kalo kesana. Semoga suatu saat bisa kesini. Terimakasih sudah share, Mbak ๐Ÿ™‚

  2. Jiaaaah transaksi batu akik. Pakdheku disana waktu itu krn pekerjaan. Sempat no contact bbrp hari, alhamdulillah diselamatkan pemilik penginapan.

    1. Haha namanya juga titipan keluarga, sulit menolak.

      Wah untung pakde nya selamat ya mba, Alhamdulillah…

  3. Saya dulu juga belum sempat nonton video dan masuk lorong karena “di-booking” sama rombongan pelajar Jepang. Berarti masih ada PR balik ke sini lagi nih.

    1. Wah jauj jg ya, serombongan dr jepang demi ke museum tsunami. Jd kita sama ya, blm masuk lorong itu ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.