Banten

Mampir ke Kampung Budaya Nusantara

Dung..dung..dung..dung..

Dung..dung..dung..dung..

4 buah bedug ditabuh serempak bersamaan dengan alat musik tradisional lain khas Indonesia. Gendang, kenong, dan ketipung. Menciptakan harmoni musik yang dinamis kesenian asli tanah Banten. Tak kalah menarik para penabuhnya. Sambil menari lincah dan melantunkan shalawat. Pertunjukan menarik bernafaskan islam yang memukau. Siang itu, Sabtu 9 November 2013, Rampak Bedug Ciwasit digelar di halaman gedung Auditorium Surosowan Taman Budaya Rumah Dunia, saat break sebelum makan siang dalam event Kampung Budaya Nusantara.

Kampung Budaya Nusantara adalah sebuah acara diskusi kebudayaan yang diselenggarakan di Taman Budaya Rumah Dunia dan didukung oleh Direktorat Sejarah & Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Acara ini gratis dan dibuka untuk umum dari tanggal 8-10 November 2013. Sayangnya, aku tidak bisa mengikuti keseluruhan jadual acara karena pekerjaan yang tak bisa saya tinggalkan pada hari Jum’at. Dan weekend, adalah waktunya aku pulang ke rumah suami di Bekasi. Padahal, agenda acaranya sangat bergizi. Tidak hanya bedah buku dan diskusi bersama nara sumber yang namanya cukup terkenal di dunia sastra dan budaya. Tetapi juga ada agenda field trip ke kawasan sejarah banten Lama dan Eco Village di pesisir teluk Banten.

Meski begitu, pada hari Sabtu sebelum pulang ke Bekasi, aku sempatkan mampir ke Taman Budaya Rumah Dunia. Sekalian reuni dengan teman-teman Krakatau Writing Camp.

Tepat saat aku tiba, para peserta Kampung Budaya Nusantara tengah menghambur keluar dari gedung Auditorium Surosowan Taman Budaya Rumah Dunia. Wajar saja, sudah hampir jam 12 siang. Wah, asik nih. Waktunya makan siang. Aku bisa ikutan makan. Hihihi… 😀

Beberapa teman yang melihat kedatanganku langsung menyambut dan menyalami. Tak terkecuali Mba Tias Tatanka. Dan saat kami tengah asik berbincang, tiba-tiba terdengar suara bedug mulai ditabuh. Aku dan teman-teman langsung mengambil posisi di barisan penonton.

Yang aku suka dari pertunjukan Rampak Bedug Ciwasiat ini, bukan hanya harmonisasi musik tradisional, tarian, dan sholawatnya. Tetapi juga pakaian para penabuh bedug. Ada rasa Indonesia yang semakin kental dengan celana batik yang mereka kenakan. Ditambah lagi nuansa merah putih sebagai accessories bedugnya. Menggambarkan semangat nasionalisme dalam budaya lokal.

Di tengah pertunjukan yang sedang berlangsung, aku dikejutkan oleh salah seorang penabuh bedug yang menghampiri. Ia menyodorkan dua pemukul pedugnya kepadaku. Interaktif sekali. Mereka mengajak penonton untuk mencoba memukul bedug seiring irama kendang. Awalnya aku menolak. Tapi si pemukul bedug ini terus memaksa.

“Ayo! Cobain dulu. Nanti diajari kok”, katanya meyakinkan. Akhirnya aku penasaran juga. Kuberanikan diri menerima pemukul bedug itu lalu maju ke depan.

Aku sempat diam sejenak di depan bedug. Tak tau bagaimana caranya menabuh sambil menari. Di sebelahku ada Mba Tias. Kami sama-sama bingung. Di sebelah Mba Tias ada seorang relawan Rumah Dunia, Hilman Sutedja Namanya. Dan satu lagi yang mencoba ikut menabuh bedug, seorang hijabers yang aku tak tau namanya.

Para penabuh bedug berdiri di belakang kami. Mencotohkan gerakan sederhana menabuh bedug sambil menari. Aku mencoba mengikuti. Asik juga. Lama-lama aku bisa mengikuti alunan irama gendang, sambil menari dan menabuh bedug. Ah, beruntungnya aku mendapat kesempatan ini.

Usai pertunjukan, aku dan teman-teman kembali berkumpul dan berbincang. Sekedar kangen-kangenan sambil makan siang dan membicarakan sebuah rencana reuni akbar siswa Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD). Reuni ini rencananya akan diadakan di bulan Desember 2013, bertempat di Taman Budaya Rumah Dunia. Aku berharap, reuni ini dapat benar-benar terlaksana, dan agenda acaranya tak kalah bergizi seperti event Kampung Budaya Nusantara ini.

Sebelum pulang, aku sempat mengikuti satu agenda diskusi dengan tema “Sastra, dari Lisan hingga Tulisan” bersama nara sumber bernama Oka Rusmini dan Gol A Gong. Oka Rusmini ini adalah penulis buku-buku sastra yang mengangkat budaya lokal, khususnya tentang perempuan-perempuan Bali. Aku sangat antusias mengikuti diskusi yang banyak membicarakan tentang pentingnya muatan lokal dalam sebuah karya sastra. Selain unik, hal ini juga dapat menjadi upaya untuk mengenalkan sastra dan keberagaman budaya Indonesia di kancah sastra internasional.

Dan dari diskusi ini juga, aku mendapat sebuah pelajaran. Bahwa untuk menjadi seorang penulis dengan karya yang bermutu membutuhkan proses yang panjang. Untuk pemula, tentu dibutuhkan stamina untuk terus dan terus bersabar dalam berlatih menulis.

Jadi, meski aku tak bisa mengikuti seluruh rangkaian acara, setidaknya dari beberapa jam aku mampir ke Kampung Budaya Nusantara, ada pengalaman dan pelajaran yang bisa aku petik.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.