Sulawesi Selatan

Makassar – Suatu sore di Bantimurung

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Setiap yang hidup pasti mati

Angkot yang kami tumpangi melaju kencang di jalan raya dari goa Leang-Leang menuju Taman Nasional Bantimurung. Angin masuk melalui jendela kaca yang terbuka sedikit. Membelai muka dan membuai. Seperti nyanyian nina bobo yang mampu membuat kelopak mataku berat dan ingin mengatup.

Entah berapa lama perjalanan yang kami tempuh menuju Bantimurung. Aku melewatkanya dengan setengah tidur. Dan aku masih bisa merasakan saat sesekali angkot melewati jalan yang tak mulus. Juga masih bisa mendengar tawa riang dari teman-temanku yang terus bercanda sepanjang jalan. Sampai pada akhirnya aku mendengar suara mereka yang seperti kegirangan karena melihat sesuatu.

“Taman Nasional Bantimurung”

“Wiih, cakep tuh!”

“Nanti kudu foto dan itu jadi background ya”

Suara-suara mereka terdengar bersahutan. Aku tak bergeming. Biar kupuasan rasa kantuk dan lelahku.

Tak lama kemudian, angkotnya berhenti. Aku pun menegakkan badan setelah sepanjang perjalanan membungkuk tertidur di pangkuan suamiku. Saat membuka mata, aku mendapati suasana ramai. Sudah sampai di depan pintu gerbang Taman Nasional Bantimurung rupanya. Beberapa orang terlihat berjalan keluar dari pintu gerbang Taman Nasional Bantimurung. Ah! Hari sudah sore. Sudah memasuki waktu sholat ashar.

Satu per satu kami turun dari angkot. Kami disambut warna-warni semarak kupu-kupu dalam bingkai-bingkai kaca yang dipajang dan dijual sebagai souvenir. Toko-toko souvenir itu berjejer di sisi jalan. Berdampingan dengan warung-warung makan yang semua bangunannya terlihat sederhana dari kayu dan bilik bambu.

Aku terpaku di salah satu sisi jalan. Menatap pada sebuah kios souvenir kupu-kupu. Dibalik bingkai-bingkai kaca yang disusun rapi di atas meja. Serta berjajar dan tergantung pada paku-paku di dinding papan. Sayap-sayap mereka rentang penuh warna. Mata siapa tak terpukau?

Pemandangan itu mengingatkan aku pada satu peribahasa. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Sementara kupu-kupu yang masa hidupnya hanya bertahan selama 14 hari. Lalu mati, diawetkan dan dijadikan pajangan nan indah rupawan. Mereka abadi, meski telah mati.

Pertanyaan besar lalu tiba-tiba muncul. Aku, akan dikenang sebagai apa setelah mati?

Semangkuk semangat di sore hari

Sementara itu, rasa lapar semakin tak tertahan dan memaksa kami segera menuju salah satu warung yang menawarkan menu makanan khas Makassar, Sop Konro.

Sejak merencanakan untuk jalan-jalan di Sulawesi Selatan, aku sempat membuat janji pada diri sendiri. Nanti, pokoknya aku harus mencicipi semua kuliner khas Makassar. Maka, setelah coto dan pisang eppe’ yang sudah aku coba pada hari pertama tiba di Makassar, sekarang adalah saatnya mencicipi sop konronya.

Tak harus menunggu lama, sepiring nasi dan semangkok sop berisi potongan tulang iga yang dibalut daging tersaji untuk kami. Aromanya menguar dari kuah sop panas yang ditaburi potongan daun bawang dan bawang goreng diatasnya. Dan setelah menyantapnya, bukan sekedar rasa lapar yang terusir, tetapi sekaligus recharge tenaga dan semangat untuk melanjutkan petualangan. Soal harga? Masih sangat terjangkau kok. Cuma Rp 10.000,- saja untuk satu porsi sop konro dan sepiring nasi.

Peraduan terakhir

Usai memuaskan tuntutan perut, kami segera masuk ke Taman Nasional Bantimurung dengan harga tiket masuk Rp 20.000,- per orang. Suasana sejuk dan adem segera menyapa setelah kami melewati portal masuk taman wisata. Pohon-pohon rindang tinggi menjulang, berjajar di tepi jalan di kawasan wisata. Di sebelahnya, terdapat sungai yang mengalir mengarah ke luar kawasan wisata. Disisi kanan dan kiri sungai sudah dibangun pagar beton. Terlihat beberapa orang asik mandi di sungai itu.

Tersedia dua bilik kecil di dekat pintu masuk kawasan wisata. Bilik ini adalah tempat mandi dan berganti pakaian jika sudah puas bermain air. Dekat dengan bilik tersebut, tepat di sisi sungai, aku duduk di bawah pohon untuk sejenak beristirahat sambil menikmati suasana. Menghirup udara sejuk dan mendengarkan dengan seksama deru suara aliran air sungai. Terapi alam untuk melepas penat yang terakumulasi dalam jiwa setelah lama bergelut di kehidupan kota.

Di sebelah kanan jalan, di seberang sungai, ada mushola yang bersih dan ber-AC. Disana aku dan teman-teman menunaikan kewajiban sebagai muslim. Dan aku yang paling terakhir menunaikan kewajiban sholat. Sementara teman-temanku sholat berjamaah tadi, aku malah asik dan kelamaan duduk di pinggir sungai.

Usai aku menjamak sholat dzuhur dan ashar, kami langsung beranjak bersama-sama menuju air terjun Bantimurung yang menjadi primadona di kawasan wisata Bantimurung ini. Tempat lain yang juga menjadi primadona adalah taman kupu-kupu. Sayangnya, kami datang terlalu sore. Sehingga taman kupu-kupunya sudah tutup.

Sebelum sampai di air terjun Bantimurung, kami melihat sebuah papan penunjuk arah. Disalah satu papan tertulis sebuah tempat yang namanya sudah tak asing lagi. Museum Kupu-kupu. Hmm, aku sering membaca cerita para blogger di rumah maya mereka tentang museum ini.

Langkah kami lalu berbelok ke museum. Sayangnya, niat untuk masuk museum kami urungkan. Merasa ada sebuah ketidak-adilan jika harus membayar lagi untuk masuk ke museum ini. Seharusnya, biaya masuk ke museum sudah termasuk dalam harga tiket yang Rp 20.000,- tadi. Atau mungkin ekspektasi kami ketinggian? Akhirnya kami kembali memutar arah.

Di sepanjang perjalanan menuju air terjun, aku terhibur dengan aneka pohon berbunga yang ditanam. Bukan bunga langka sebenarnya, namun tetap saja ini menjadi pemandangan yang tidak biasa. Merah, kuning, ungu. Ah, cantik. Secantik pelangi yang datang setelah hujan. Kekecewaan karena gagal masuk museum kupu-kupu sudah terhapus oleh indahnya warna bunga-bunga.

Dan air terjun yang namanya selalu di elu-elukan di kalangan traveler inilah yang menjadi peraduan kami. Begitu kami tiba, seperti ada kelegaan yang mampir di hati. Ada rasa penasaran yang terpuaskan. Benar, kan? Ketika sebuah tujuan dan impian itu tercapai, sensasinya seperti menyelesaikan setiap level dalam sebuah game favorit!

other photos by Ayub Pri & Rifqy F. Rahman. 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.