Sulawesi Selatan

Makassar – Jejak nenek moyang di Goa Leang-leang

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Lukisan telapak tangan purba? Sebelum aku bisa menginjakkan kaki di goa Leang-leang, aku terus memendam rasa penasaran. Seperti apa sebenarnya lukisan cap telapak tangan yang ada di dinding goa itu?

Cap tangan purba goa leang-leang

Goa Leang-leang, namanya cukup santer disebut-sebut sebagai destinasi wajib jika berjunjung ke Sulawesi Selatan. Setelah puas menjelajahi kawasan karst di Maros. Mulai dari Rammang-rammang, dusun Berua, hingga ke desa Salenrang di kecamatan Bontoa. Tepat di depan gapura selamat datang di desa Salenrang kami memutuskan untuk carter angkot. Hanya membayar sebesar Rp10.000,- per orang, Pak sopir setuju mengantar kami ke Leang-leang, menunggu kami sememtara waktu menjelajagi goa Leang-leang, lalu mengantar kami ke air terjun Bantimurung.

Rasa lapar sudah mampir di perut saat aku dan teman-teman tiba di goa purba ini. Wajar saja, jarum jam sudah mendekati pukul dua siang. Dan sejak pagi kami belum makan makanan berat. Tadi di dusun Berua, kami sempat membeli kelapa muda untuk sekadar mengusir haus dan mengganjal lambung agar tak keroncongan. Sekarang, kami kembali membujuk perut kami masing-masing agar bersabar sebentar. Untungnya, keripik dan kerupuk mampu mengusir rasa lapar untuk beberapa saat.

Tamam karst goa leang-leang

Memasuki kawasan wisata goa, kami kembali disuguhi batu-batu karst yang cantik. Kali ini suasana menjadi lebih semarak karena kawasan wisata ini dikelola dengan baik. Tanaman hias ditata apik membentuk sebuah taman dan rumput hijau menyelimuti hampir seluruh permukaan tanah. Dibuatkan beberapa gazebo agar pengunjung bisa duduk-duduk santai menikmati suasana taman yang asri. Ditanam juga pohon-pohon besar yang rindang sehingga kami merasa terlindungi dari sinar matahari langsung. Di berbagai sudut, mudah ditemui toilet dan tempat sampah. Hmm.., aku suka tempat ini.

Tepat di sebelah pintu gerbang, terdapat pos pendaftaran pengunjung. Dikenakan Rp10.000,- per orang untuk tiket masuk wisata. Setelah mendaftar, aku meminta agar salah seorang petugas bersedia memandu kami. Syukur Alhamdulillah, mereka ramah dan dengan senang hati memenuhi permohonan kami. Kemudian kami langsung berjalan bersama-sama menuju goa. Melalui jalan yang dibuat dengan semen, melewati batu-batu karst dan tebing. Aku menikmati suasana sejuknya.

Leang Pettakere

Usai melewati tebing, jalan terbelah menjadi dua. Jalan yang berbelok ke kiri menuju ke Leang Pettakere. Sedangkan jalan ke kanan ke arah Laeng Pettae. Dari Bapak Pemandu aku baru mengetahui satu hal baru.

Ternyata leang berarti goa. Dan tempat ini dinamakan Leang-leang karena terdapat dua goa dengan nama yang berbeda. Kami lalu berbelok ke kiri.

Mulut goa Leang Pettakere letaknya di lereng tebing dan agak tinggi. Untuk mencapai ke mulut goa, dibuat tangga dari besi. Tepat di depan anak tangga pertama, aku mengehntikan langkah. Memandang ke atas, lalu menarik nafas panjang. Pfiuh…! Rasa lelah yang sejak tadi kutahan tiba-tiba bertambah dua kali lipat. Namun rasa penasaranku lebih besar, aku harus ke atas dan melihat ada apa di dalam goa itu. Lalu dengan sabar aku mulai menapaki satu demi satu anak tangga menuju ke atas.

Stalagtit Stalagmit Leang Petakere

Keringat kembali bercucuran. Aku merasakan ada yang meluncur bebas di balik baju di punggungku. Sudah bisa dipastikan, bajuku di bagian punggung pasti mulai basah. Dan aku masih berusaha mengalahkan rasa lelah. Tak sia-sia memang, setibanya di atas tepat di depan mulut goa, aku seperti mencicipi angin syurga. Suasana goa yang lembab dan berhawa dingin, terasa sejuk memeluk tubuh yang sempat kegerahan.

Di Leang Pettakere inilah dapat dilihat berbagai peninggalan sejarah zaman purba berupa lukisan cap tangan. Berbeda dengan lukisan telapak tangan yang ada di goa di gunung Barakka. Lukisan di Leang-leang dibuat dengan cairan warna merah dari tumbuh-tumbuhan. Caranya, telapak tangan ditempelkan ke dinding batu, lalu cairan berwarna merah di semburkan dari mulut. Sedangkan di goa Barakka, lukisan telapak tangannya digambar dengan arang hitam.

Tak mudah juga untuk bisa melihat lukisan ini dari jarak dekat. Sama seperti di goa Barakka, terlebih dulu aku harus memanjat tebing agar sampai ke bagian atasnya. Tidak terlalu tinggi memang, namun tetap saja butuh perjuangan. Di antara lukisan telapak tangan itu, terlihat lukisan babi rusa berwarna merah. Waah…, aku jadi ingin tahu. Apa ya artinya lukisan-lukisan ini?

Kami tak berlama-lama di leang Pettakere. Setelah melihat-lihat dan mengambil beberapa foto, kami kembali turun. Melalui tangga yang sama dan kembali ke persimpangan jalan. Dari persimpangan jalan inilah kami mengikuti arah ke Leang Pettae. Tak lama, tidak lebih dari 5 menit setelah berjalan kaki dari Leang Pettakere, kami sampai di Leang Pettae. Lagi, mulut goanya berada agak lebih tinggi dari tanah yang kupijak.

Naik lagi? Ayolah! Kamu masih kuat, Noe! Ada semacam monolog dalam hati. Kuhirup oksigen dalam-dalam. Mengumpulkan segenap tenaga, lalu mulai bergerak naik. Tidak setinggi Leang Pettakere memang, tapi lelah ini sudah terakumulasi sejak pagi. Wajar saja, jika tenagaku tinggal tersisa sedikit.

Tak sia-sia perjuanganku, sesampainya di dalam goa Leang Pettae, aku disuguhi hidangan stalagtit dan stalagmit yang cantik. Suasananya masih sama seperti di Leang Pettakere. Di Leang Pettae pun lembab dan sejuk. Dingin. Padahal sekarang musim panas.

Ada sebuah lorong sempit dan gelap yang dilindungi pagar besi dan dikunci. Si Bapak pemandu menjelaskan bahwa di dinding di dalam lorong itu juga terdapan lukisan cap tangan. Sengaja dikunci untuk menghindari tindakan vandalisme oleh pengunjung. Si Bapak pemandu juga menjelaskan, lukisan-lukisan itu bisa terhapus atau pudar jika sering disentuh.

“Sebenarnya, apa sih makna dari lukisan-lukisan itu, Pak?” Tanyaku pada si Bapak pemandu. Naluri ingin tahuku semakin terusik.

Ternyata, Tak ada yang tau pasti apa makna dari lukisan purba itu. Si Bapak pemandu menjelaskan, bisa jadi itu sebagai jimat penolak bala. Ada juga yang memperkirakan bahwa lukisan tersebut dijadikan sebagai tanda daerah kekuasaan seseorang. Penjelasan itu cukup membuatku beberapa kali menganggukan kepala, dan mulutku membentuk huruf O.

Setelah lorong yang gelap dan sempit itu, aku mencoba memperhatikan detil lain yang ada disini. Beberapa teman asik berfoto diatara stalagtit dan stalagmit. Aku justru tertarik dengan banyaknya kulit kerang di beberapa sisi dasar goa.

“Tempat ini, dan seluruh kawasan karst Maros, dulunya tertutup air laut. Tumpukan kulit kerang ini adalah salah satu buktinya.” Tukas si Bapak pemandu menjawab rasa ingin tahuku.

“Lihat saja, kulit kerang ini sudah menjadi fossil.” Lanjutnya lagi. Kembali aku mengangguk-angguk. Dan mulutku membentuk huruf O lagi.

Tanpa terasa, matahari mulai bergerak turun. Saatnya menyudahi kunjungan di Leang-leang. Masih ada destinasi yang tersisa untuk agenda hari ini, yaitu Bantimurung. Perut kami yang lapar juga semakin membuat kami tak sabar untuk segera beranjak. Di Bantimurung kami akan singgah di warung untuk makan.

Kami lalu berjalan kembali menuju pos di halaman muka kawasan wisata Leang-leang. Kembali menyusuri jalan yang dibuat dari semen selebar 1 meter. Melewati lorong tebing, lalu taman. Aku sempat melihat beberapa muda-mudi tampak asik berduaan di gazebo. Ah, jika sudah begini, dunia serasa milik berdua, ya?

Iri aku menyaksikan kemesraan mereka. Eh, aku ingat sesuatu! Bukankah ada suamiku? Maka, di pundaknya pula lah aku mencari kenyamanan.

Foto-foto oleh Ayub & Rifqy

2 thoughts on “Makassar – Jejak nenek moyang di Goa Leang-leang

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.