Sulawesi Selatan

Makassar – Dari Rammang-rammang ke Dusun Berua

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

ke Sekolah 2
Mendayung untuk ke Sekolah

Jika bukan karena terbius indahnya alam Rammang-rammang lewat foto-foto yang di upload oleh para traveler di social media, aku mungkin lebih memilih menumpang tidur saja di rumah pengurus masjid Baitunnur. Tadi pagi setelah solat subuh, mereka begitu ramahnya menjamu kami dengan teh manis dan pisang goreng untuk sarapan di rumah panggunnya yang sederhana, namun penuh kehangatan. Tapi kemudian aku ingat satu hal, bahwa traveling bukan sekedar pergi dari rumah untuk menikmati keindahan tempat yang kita tuju. Maka rasa antusias itu hadir lagi. Aku tak sabar menunggu, hal seru apa yang akan aku dapat hari ini?

Menengok itinerary yang sudah aku susun seminggu sebelum perjalanan ini. Hari ketiga pada Kamis 5 September 2013, aku berencana mengunjungi 3 obyek wisata yang terkenal di Maros. Yaitu Rammang-rammang, goa Leang-leang, dan Bantimurung. Berbekal sedikit informasi dari facebook, bahwa untuk menuju ke Rammang-rammang harus naik boat memalui dermaga yang letaknya sekitar 500 meter dari pintu gerbang PT. Semen Bosowa ke arah timur laut. Selanjutnya, kami hanya akan mengandalkan senyum dan bertanya kepada penduduk setempat.

Beruntungnya, Kak Adang, anak bujang si bapak pengurus masjid bersedia menemani perjalanan ke Rammang-rammang tanpa diminta. Aku beserta teman-teman tak menolak tawaran Kak Adang untuk menjadi guide kami, karena memang tak satu pun diantara kami bertujuh yang mengetahui persis bagaimana rute menuju 3 tempat tersebut. Maka, dimulailah petualangan kami di Maros pagi itu.

_MG_2929
7 backpacker, 2 guide, & 1 pemilik perahu yang menunduk malu

Dari rumah Kak Adang yang berada tepat di sisi masjid, kami berjalan menuju dermaga. Matahari mulai menanjak mejauhi cakrawala bagian timur. Aku berjalan dengan menunduk karena sinarnya yang membuat mataku silau. Tak ada awan yang menghalangi, lengan-lengan cahayanya jatuh begitu saja ke bumi dan memapar apa saja yang ada. Panas, itu yang aku rasakan. Padahal hari masih terbilang pagi. Jam tangan kinetik di pergelangan kiriku masih menunjukkan pukul tujuh pagi.

Sejauh lima ratus meter jalan beraspal yang aku lewati untuk menuju dermaga. Di sisi kanan dan kiri jalan terhampar sawah yang kering. Terlihat potongan batang padi sisa musim panen yang juga mengering dan berwarna kuning kecoklatan. Di depan rumah-rumah yang sederhana, di pinggir jalan sebelum sampai kepada hamparan sawah itu, terlihat ibu-ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya. Sesekali mendongak dan tersenyum ramah saat kami lewat dan menyapa. Beberapa ibu yang lain berkerumun di penjual sayur yang menjajakan dagangan dengan sepeda. Anak-anak kecil duduk di tangga rumah panggung. Bapak-bapak berjalan dan berpapasan dengan kami, penuh semangat meninggalkan rumah untuk mengais rejeki (mungkin).

Melewati jalan ini, harus hati-hati. Banyak kotoran kerbau atau mungkin juga sapi. Beberapa masih segar, dan kebanyakan telah mengering setelah tergilas roda-roda kendaraan. Sesekali aku harus berjingkat dan melompat, memilih jalan untuk dipijak menghindari kotoran yang oleh sekelompok masyarakat di Indonesia justru diolah menjadi gas sebagai bahan bakar pengganti BBM. Hingga sampailah aku di dermaga Rammang-rammang yang kami tuju.

Ikan gabus hasil tangkapan
Ikan gabus hasil tangkapan

Geliat kehidupan sudah semarak disini. Perahu-perahu kecil tertambat merapat di sisi dermaga kayu. Beberapa orang berdiri dan berjongkok berkerumun di atas dermaga. Aku penasaran, ada apa disitu? Aku berjalan mendekati, sementara beberapa teman lain berbicara dengan salah seorang pemilik perahu dan menawar harga untuk mengantar kami ke dusun Berua. Aku dibuat terpana dengan ikan-ikan gabus hasil tangkapan nelayan semalam. Digeletakan berjajar diatas beton. Tawar menawar harga terlihat antara nelayan dengan orang-orang yang hendak membeli. Aku terfikir sesuatu, makan siang dengan lauk ikan gabus itu pasti enak.

Tak lama, setelah deal harga sewa perahu sebesar Rp 200.000,- aku mengikuti teman-temanku naik ke atas perahu bermotor. Perahunya tidak besar, tapi cukup untuk kami 7 orang backpacker, Kak Adang beserta 1 orang temannya yang menjadi guide kami, dan satu orang lagi, si bapak pemilik perahu.

Kak Adang yang baik, melewati batu karst yang melintang di sungai
Kak Adang yang baik, melewati batu karst yang melintang di sungai

Sungai yang tenang, aku menyusurinya dengan hati gembira. Duduk di atas perahu ditemani bising suara motor yang menjadi mesin penggerak perahu. Sedikit berdesakan diantara teman juga ransel-ransel kami yang gendut. Di sisi sungai, tumbuh rapat sejenis pohon palm. Bayangan pohon-pohon itu jatuh ke muka sungai seolah sedang bercermin.

Tak jauh setelah meninggalkan dermaga, tersuguh pemandangan batu-batu karst yang tersebar dan berdiri di tengah-tengah sungai. Terlihat juga gunung-gunung karst menjulang tinggi. Di tebing-tebingnya tumbuh pohon-pohon yang terlihat menghijau. Aku kembali memuji dan kagum pada kekuasaan tuhan. Bagaimana pohon itu bisa bertahan hidup di atas batu?

Belum juga habis rasa takjub pada gunung-gunung karst itu, aku dibuat kaget dengan adanya batu karst yang melintang diatas sungai. Lubang di tengahnya seperti mulut goa yang harus kami lewati. Juga beberapa sampan yang melintas dan berpapasan dengan perahu motor yang aku tumpangi. Tampak diatas sampan itu, anak-anak dengan seragam sekolah, beserta ibu mereka yang mengantar sambil mendayung. Ada juga seorang ibu berusia paruh baya, sendirian mendayung sampannya. Ibu tua itu tersenyum dan mengangguk saat salah seorang temanku, Ayub meminta ijin untuk memotretnya. Hendak kemana dirimu wahai Ibu tua?

ibu-tua1

Mataku terpaku, ekornya mengikuti arah sampan yang didayung maju Ibu tua itu. Dua sudut bibirku melengkungkan senyum. Bukan sekedar membalas senyum lebar di wajah tua itu. Tetapi ingatanku sekaligus melayang, pada sebuah ruang kelas di SMK saat pelajaran bahasa Inggris. Dalam hatiku kini sedang bersenandung sebuah lagu. Lagu ini yang dulu oleh guru bahasa Inggris diajarkan kepada murid-muridnya di kelas. Saat mulai bosan belajar di dalam kelas, guru meminta kami berdiri, bernyanyi sambil menggerakkan tubuh seolah sedang mendayung perahu. Lagu yang kini seolah menjadi backsound pemandangan yang ada di hadapanku.

Row row row the boat gently down the stream
Merry merry merry merry, life is not a dream…

Ya, kita tidak hidup di alam mimpi. Tetapi kita boleh memiliki impian. Siapa dan dimanapun kita hidup, impian harus selalu diperjuangkan. Tak boleh menyerah dan tak kenal lelah. Lihatlah! Anak-anak di atas sampan itu, mereka tetap pergi ke sekolah meski harus menempuh perjalanan yang tak mudah. Lihatlah ibu tua itu, mendayung sampannya kemana ia dapat meraih tujuannya.

30 menit di atas perahu menuju dusun Berua yang hanya dihuni oleh 16 kepala keluarga. Sampailah aku di sebuah dusun yang dikelilingi gunung-gunung karst yang menjadi daya tarik bagi para traveler yang merindukan suasana damai dan jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan.

Segera setelah perahu merapat ke dermaga kayu, aku melompat ke darat. Berlari di pematang sawah. Merentangkan tangan dengan kepala menengadah. Mataku terpejam. Aku menikmati sengatan matahari yang sudah meninggi. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku dan menerbangkan ujung kerudungku. Menghirup aroma batang-batang padi kering dan aroma lumpur rawa dusun Berua. Aku seperti pulang ke kampung halaman yang sangat aku rindukan. Ya, waktu kecil bahkan sebelum masuk SD, aku lebih banyak menghabiskan waktu mainku di sawah.

MG_3021

Gunung karst dan pohon nyiur itu..
Gunung karst dan pohon nyiur itu..

Aku lalu membuka mata. Menikmati langit biru, jajaran gunung karst dan pohon-pohon nyiur yang bayangannya jatuh ke permukaan rawa. Di pematang, terlihat juga bebek-bebek berjalan mengantri lalu satu per satu turun ke rawa, berenang riang kesana kemari. Sawah-sawah tadah hujan terhampar, sama keringnya seperti sawah yang tadi aku lewati saat berjalan menuju dermaga Rammang-rammang. Aku membayangkan, jika musim hujan, sawah-sawah ini pasti terlihat hijau dan jauh lebih indah karena musim tanam.

Rumah panggung dari kayu tampak berdiri, sederhana di tengah areal persawahan. Di belakang rumah panggung itu tampak gunung karst yang megah. Langit masih biru. Bersih. Tak ada awan putih. Lagi, aku membayangkan tinggal di rumah itu. Setiap hari duduk di tangga kayu, memperhatikan padi-padi tumbuh, lalu menyembul bakal padi dari rumpunnya, hingga berisi beras dan kian merunduk, menguning, lalu panen. Aku tentu tidak akan berpangku tangan, aku ingin kembali merasakan seperti masa-masa kecil dulu. Membantu kakek dan nenek di sawah dan di kebun, dari mulai menanam hingga memanen.

Perjalanan ini belum usai. Perjalanan ini baru dimulai. Masih banyak yang ingin ku ceritakan…

Photo by Ayub

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.