Makassar – Kuliah pagi di Maros

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Hari masih gelap usai solat subuh berjamaah di Masjid Baitunnur, Maros – Sulawesi Selatan. Hari ini Kamis, 5 September 2013. Di dalam masjid, tampak para jamaah yang kesemuanya dari kalangan bapak-bapak duduk melingkar. Salah satu dari mereka sedang memberikan kultum. Aku ikut mendengarkan dari beranda masjid.

Satu nasehat dari kultum itu yang paling aku ingat adalah; ketika masalah mengahmpiri hidupmu dan seketika itu semua terasa berat, ambil lah air wudhu dan sholatlah. Minta pertolongan kepada Allah.

Guide-Rammang-rammang
Foto bersama keluarga baru

Usai kultum itu, saat kami sedang duduk-duduk di teras masjid menunggu hari terang, salah seorang dari bapak-bapak itu menghampiri kami. Tapi aku malas nimbrung. Aku beringsut menjauh, berbaring dan menjadikan ransel sebagai bantal. Aku mencoba kembali tidur. Namun sepertinya sel-sel dalam tubuhku enggan beristirahat kembali. Kupingku malah awas mendengar percakapan si bapak tua itu dengan beberapa temanku.

“Mau kemana?”

“Kita mau ke Rammang-rammang, Pak.”

“Oh, kebetulan. Anak saya pecinta alam. Biar diantar nanti.”

“Saya juga pecinta alam, Pak. Saya dari Malang.”

“Rammang-rammang dari sini jauh enggak, Pak?”

“Dari sini, 500 meter ke arah sana, nanti ada dermaga kecil, dari sana bisa naik boat ke Rammang-rammang sekitar 30 menit.”

Entah arah mana yang ditunjuk oleh bapak itu. Tapi aku menebak, mungkin sejurus dengan jalan raya ke arah timur. Aku masih enggan membuka mata. Masih berbaring dan terpejam, dan obrolan mereka masih berlanjut. Tentang gunung-gunung batu karst. Tentang goa dengan lukisan purba berbentuk telapak tangan. Sampai perbincangan tentang Indonesia dengan sejuta pesonanya.

 “Sebentar ya, saya ambil HP dulu di rumah. Saya telepon anak saya yang pecinta alam itu. Siapa tau dia bisa antar kalian.” Seolah mengakhiri perbincangan, bapak tua itu pamit saat matahari mulai menampakkan diri dari balik horizon.

Tak lama, bapak tua itu kembali. Ia mengajak kami singgah di rumahnya. Sedikit malas aku beranjak bangun. Teman-temanku sudah siap dengan ransel di punggungnya. Dekat dengan mereka, tampak si bapak tua yang hampir seluruh rambut dikepalanya sudah berwarna perak itu masih mengenakan kain sarung dan peci. Ia lalu berjalan menuju rumah panggung dari papan yang dicat warna hijau. Rumah itu berada tepat di sebelah masjid.

Tak banyak bicara, aku ikut saja. Hanya beberapa langkah dari teras masjid, aku pun ikut mengantri di depan tangga kayu untuk naik ke rumah panggung yang eksotis khas Indonesia. Naik ke atas, lalu kembali meletakkan ransel-ransel kami yang gendut ke lantai kayu di beranda rumah yang bentuknya seperti balkon.

Satu per satu, anggota keluarga keluar dari dalam rumah. Dengan muka ramah menyalami kami. Di beranda ini lah kami melanjutkan perbincangan. Bapak tua yang bahkan namanya saja aku tidak sempat bertanya, beliau begitu ramah. Kami seperti bertandang ke rumah saudara dekat yang sudah lama terpisah.

Beliau mengaku, dulu tidak suka kegiatan jalan-jalan semacam ini. Sampai suatu hari anaknya justru jatuh cinta kepada gunung dan sering mendaki. Dari anaknya itulah beliau mulai memahami, bahwa ada tuhan dalam setiap langkah yang diayunkan para pejalan. Tanpa perindunganNya, mustahil kita bisa selamat dari segala hal buruk yang bisa saja terjadi saat pergi berpetualang.

Pagi ini, aku kembali ke sekolah kehidupan. Allah menciptakan bumi yang luas ini, tidak hanya untuk dijelajahi. Karena alam adalah sekolah tempat kita belajar. Orang-orang yang kita temui adalah guru. Seperti pagi ini, bapak tua pengurus masjid yang menjadi guru kami. Meski singkat, namun pelajaran darinya begitu membekas.

Beliau berpesan, bahwa seharusnya saat kita telah sampai pada tempat yang menjadi tujuan kita, seindah apapun, janganlah membuat kita alpa. Saat berada di puncak gunung misalnya, kita berada di tempat yang tinggi, dekat dengan langit. Kita lebih dekat dengan tuhan. Jangan jadikan pakaian yang kotor sebagai alasan untuk tidak melaksanakan sholat. Jaga dan cintai alam, jangan melakukan tindakan vandalisme, dan selalu bawa sampahmu turun kembali.

Teman-temanku manggut-manggut. Kami semua setuju. Sementara aku khusuk dengan segelas teh dan sepiring pisang goreng yang disuguhkan untuk kami sarapan. Tiba-tiba ada yang menyikut lenganku, lelaki kurus itu.

“Hei, kamu catat tuh. Dengerin nggak nasehat bijaknya?”

Aku menoleh ke arah suara itu, si kurus yang duduk di sebelahku. “Iya, sudah aku rekam disini.” Aku bicara setengah berbisik, sambil menunjuk kening kusamku yang tak pernah aku rawat.

Aku letakkan gelas teh yang sudah hampir kosong, lalu membersihkan jari tangan dari minyak pisang goreng yang menempel dengan tissu. Aku tak bisa lama-lama membiarkan pundak lelaki kurus itu menganggur. Iya, aku memang suka merangkulnya. Biar saja teman-temanku iri dengan kemesraan pengantin baru.

Ups! Baru saja aku meletakkan lengan ke pundak si abang. Telapak tanganku seperti menyentuh sesuatu yang lembek dan basah di atas kemeja flannel suamiku.

“Aaak, ee’ buruuung!”

“Oh, pantes tadi pas foto disitu, kayak ada yang jatoh di pundak.”

Aku tak peduli kata-katanya saat menjelaskan sambil menunjuk ke bawah, tempat dimana ia mengagumi matahari terbit, tadi sebelum naik ke beranda rumah ini. Aku sibuk membersihkan tangan dengan tissu basah. Dan bodohnya aku, sudah tau kotoran, masih aku cium juga. Perutku jadi mual. Sebal sekali rasanya.

Suamiku segera melepas kemejanya. Memberikan padaku, dan menyuruhku mengucek di bagian yang kotor di toilet masjid. Aku menerima kemeja itu dengan muka cemberut.

“Nggak bisa nolak ya?” Kataku sambil menatap wajah suamiku.

Lelaki kurus itu tersenyum melihat expresi wajahku dan mendengar jawabanku. Aku tau, itu pertanyaan bodoh. Padahal sehabis solat subuh tadi aku berdoa, meminta kepada yang Maha Kuasa untuk melembutkan hatiku yang keras ini, agar selalu bisa menurut kepada suamiku, dan menjadi penyejuk baginya karena senyumku.

“Cepet, Noe. Kucek sebentar aja, trus dijemur, biar bisa dipake lagi.” Lanjut suamiku lagi. Suara itu lembut, tanpa terkesan sebagai perintah. Aku tau, ia sedang meminta tolong.

Aku masih diam, dengan kemeja flannel kotak-kotak warna merah di tangan. Ada yang bergejolak dalam hati. Ternyata memang tak mudah berperang melawan ego. Pekerjaan seperti ini yang aku benci. Hormon lelaki memang lebih kuat bekerja dalam tubuhku sehingga aku tak pernah suka mengerjakan pekerjaan perempuan. Aku lebih bersemangat keluar rumah untuk mengais rejeki.

Tapi aku juga harus belajar. Aku kini seorang istri untuk lelaki yang dalam doaku selalu kusebut agar kami bisa hidup bebahagia dalam ridhoNya. Aku harus belajar untuk kembali kepada fitrahku sebagai perempuan.

Aku lalu teringat masa-masa dulu, sebelum menikah. Aku dan lelaki yang kini menjadi suamiku ini pernah berbincang, bahwa cinta itu seperti motor. Ia menjadi penggerak bagi manusia untuk bisa melakukan banyak hal yang melampaui batas kemampuan biasanya.

Kemeja itu masih di tanganku. Sejenak kutatap lekat wajah suamiku. Aku menarik nafas panjang, lalu kudekatkan wajahku ke telinganya dan berbisik; “I Luv You.” Aku lalu beranjak menuju toilet masjid Baitunnur.

Leave a Reply