Makassar – Memahami arti cinta di Tana Toraja

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Dua tulang tengkorak itu berdampingan di sudut goa yang gelap dan dingin. Aku berpegang erat pada tangan suamiku demi menyaksikan itu. Bukan, aku bukan takut. Tapi mendengar penjelasan pemandu tentang cerita masa lalu kedua tengkorak itu, aku jadi belajar arti cinta. Siang itu di dalam goa Londa, di Tana Toraja, 4 September 2013.

Forbidden Love, mungkin itu judul yang tepat untuk cerita tentang sepasang kekasih yang saling mencintai, lalu memilih bunuh diri bersama karena orang tua yang tak merestui. Entahlah, aku masih tak setuju cara mempertahankan cinta dan kesetiaan semacam ini. Buatku, hidup terlalu berharga untuk diakhiri dengan sengaja. Tetapi, tuhan pasti punya maksud mengapa di dunia ada saja golongan manusia yang mau melakukannya atas nama cinta.

Di beberapa angle aku sempat tidak menolak berfoto bersama tengkorak, tapi kali ini aku abaikan kata pemandu itu.

“Coba duduk di belakang tengkorak itu, lalu ambil foto,” katanya.

Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Entahlah, aku tidak bersimpati sedikitpun pada cerita tragis yang dituturkan lelaki paruh baya yang menjadi pemandu di Londa ini. Cerita cinta terlarang berlatar di Tana Toraja yang terjadi di tahun 1980-an. Ternyata, sebegitu dahsyat kekuatan cinta sehingga manusia mau menukarkan jiwa demi keabadian cinta agar tak terpisahkan.

Beberapa temanku asik mengambil gambar, bahkan berpose bersama pasangan tengkorak itu. Di dalam hati aku justru berdoa.

Ya Allah, aku mengamini doa-doa temanku di hari dimana Engkau menghimpun aku dan suamiku dengan kalimat ijab dan kabul yang ajaib itu, agar kami menjadi keluarga samara dan abadi hingga maut memisahkan. Ya Allah, jadikanlah cinta kami kepadaMu sebagai alasan bagi kami untuk saling mencintai satu sama lain. Dan bimbinglah kami untuk bisa mendidik anak-anak kami agar terhindar dari hal-hal yang demikian. Aamiin..

Londa adalah tempat ke-4 yang kami datangi di Tana Toraja. Kami semua setuju bahwa penjelajahan kami di Tana Toraja ini merupakan wisata kuburan. Dengan mobil sewaan seharga Rp 350.000,- sudah termasuk bensin dan sopir kami, mengunjungi beberapa tempat di Tana Toraja. Mulai dari Kete’kesu, kampung Labo, Lemo, Londa, Kambira & Suaya. Semua bercerita tentang pesta kematian & tata cara penguburan yang unik. Dan kami harus membayar tiket masuk seharga Rp 10.000,- setiap kali hendak masuk ke masing-masing obyek wisata ini.

Di Kete’kesu kami melihat rumah-rumah adat Toraja. Bentuknya mirip dengan rumah Bolon, rumah adat suku Batak yang pernah aku lihat di Samosir. Rumah panggung dari kayu dengan bagian atap yang melengkung dari depan ke belakang. Yang menarik perhatianku adalah tanduk-tanduk dan kepala kerbau yang dipasang di bagian depan rumah adat itu.

Beruntung kami berkenalan dengan seorang lelaki muda yang sedang meng-guide turis asing. Ia bernama Daeng Yoseph. Darinya kami tau tentang tetua adat yang berhak mendapat hadiah kepala kerbau setiap kali ada pesta kematian yang diselenggarakan oleh keluarga yang ditinggal mati. Kepala kerbau dan tanduk-tanduk yang dihadiahkan itulah kemudian dipajang di tiang utama di bagian luar rumah yang sekaligus sebagai penanda bahwa si pemilik rumah adalah orang yang dituakan.

Darinya juga kami dibuat berdecak kagum mengetahui jumlah uang minimal yang biasanya bisa dihabiskan dalam sekali pesta kematian. Jumlah yang cukup untuk membuka satu cabang minimarket waralaba. Bukan main-main, dalam satu pesta orang Toraja bisa memotong kerbau dan babi dalam jumlah ratusan ekor. Dan mereka pun harus membayar pajak kepada pemerintah daerah senilai Rp 200.000,- s.d. Rp 250.000,- per ekor babi/kerbau yang dipotong untuk pesta. Fantastis bukan?

Semakin bersemangat kami saat Daeng Yoseph memberi tahu bahwa tak jauh dari Kete’kesu, yaitu di kampung Labo, sekarang sedang berlangsung pesta kematian. Kami segera meluncur kesana.

Grok.., grook!! Suara itu menyambut kami saat kami tiba di Kampung Labo. Terlihat 4 orang lelaki tampak mengusung seekor babi yang beratnya tak kurang dari 50 kg. Ini kali pertama aku melihat langsung seperti apa rupa babi sebenarnya. Tadinya aku kira, babi berwarna pink seperti dalam film kartun. Saat aku bergumam tentang warna babi yang abu kehitaman itu, teman-temanku tertawa. Mereka fikir aku bercanda bahwa aku benar-benar mengira babi yang dikonsumsi itu berwarna pink.

Lemo, Londa, dan Suaya. Biasa disebut kuburan batu. Disana terdapat tebing batu dengan banyak pahatan tempat meletakkan patung-patung kayu serta peti-peti mayat yang dikuburkan. Aku membayangkan betapa sulitnya manusia yang hidup meletakkan peti mayat ke atas tebing tersebut. Dan Londa adalah tempat yang paling kami sukai. Karena terdapat goa yang bisa kami susuri. Disini juga untuk kali pertama aku melihat langsung tengkorak dan tulang-belulang manusia terserak begitu saja.

Sementara Kambira adalah kuburan bayi yang disebut juga Baby Grave. Setiap bayi-bayi yang mati dalam usianya yang belum tumbuh gigi, mayatnya akan dikuburkan di batang pohon Taraa’. Pohon taraa’ ini dipercaya sebagai pohon kehidupan. Ia memiliki banyak getah yang akan disusukan kepada bayi yang dikuburkan disini.

Aku mencoba mencari makna dari penjelajahan di Tana Toraja ini. Aku menghindari membandingkan tradisi dan kepercayaan yang mereka lestarikan, dengan keyakinanku sebagai umat muslim. Mencoba belajar bijak melihat ini sebagai keberagaman, sebagai kekayaan budaya Indonesia, bahkan sebagai daya tarik wisata yang pesonanya luar biasa. Terbukti dengan banyaknya turis manca negara yang kami temui disini.

Di Tana Toraja, disebut kaya bukanlah mereka yang memiliki rumah mewah, mobil, atau elektronik dan gadget canggih. Kaya bagi mereka adalah apabila mereka bisa menyelenggarakan pesta kematian semeriah mungkin. Hidup bagi mereka hanyalah untuk mati. Mengumpulkan harta sebanyak-banyakan untuk bekal saat ajal itu tiba. Untuk menyelenggarakan pesta kematiannya.

Cinta. Lagi-lagi, aku melihat ini sebagai kekuatan cinta. Cinta yang lain selain cinta terlarang yang berujung bunuh diri. Kecintaan dan keyakinan mereka terhadap leluhur dan tuhannya sehingga terpelihara tradisi penguburan yang unik ini.

Cinta orang tua terhadap bayi-bayi mereka sehingga menguburkan jenazahnya di pohon taraa’ agar mendapat susu dan dapat dengan mudah naik ke syurga. Kecintaan anak-anak serta cucu terhadap orang tua mereka yang mati sehingga mampu mengorbankan segala harta untuk upacara dan pesta kematian, serta rela bersusah payah menguburkannya di atas tebing tertinggi sekalipun.

Kekuatan apa yang sebegitu dahsyatnya sehingga orang-orang Toraja berlaku demikian jika bukan karena Cinta?

Menutup tulisan ini, aku akan mencoba menyertakan beberapa koleksi foto yang diambil di tana Toraja oleh salah satu temanku, Ayub. Diambil dengan kamera Canon 60D.

Leave a Reply