Sulawesi Selatan

Makassar – Bukan Honeymoon

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Dia memelukku di keheningan pagi. Saat matahari masih bersiap di peraduannya. Hari masih gelap dan embun masih mendekap daun-daun. Titik air mata perlahan jatuh dari sudut mata yang kelopaknya tak sanggup lagi menahan. Dalam balutan mukena putih di Masjid Baitunnur, Maros – Sulawesi Selatan, penuh kekhusukan aku menengadah tangan memanjatkan doa kepada Dia yang menguasai alam.

Di Tebing Lemo Toraja
Di Tebing Lemo Toraja

Aku baru tiba disini satu jam yang lalu. Setelah menghabiskan 2 hari untuk city tour di Makassar dan menjelajah Tana Toraja pada Selasa dan Rabu, 3-4 September 2013. Tak salah jika banyak orang menyangka bahwa perjalananku di Sulawesi Selatan adalah untuk berbulan madu setelah hari ijab qabul yang sakral itu pada Minggu, 1 September 2013.

Tapi, jika mengetahui bahwa kami tidak hanya berdua, melainkan bersama 4 orang teman lain. Masihkah setuju bahwa ini adalah perjalanan honeymoon?

Pagi buta dari Bekasi aku dan suamiku meluncur ke terminal 3 Bandara Soetta, untuk penerbangan pertama dengan Air Asia menuju Makassar. Satu minggu sebelumnya aku membuat itinerary perjalanan selama seminggu di Sulawesi Selatan ini. Aku bahkan menggelangkan kepala sendiri karena dua hari pertama aku jadualkan tidur di bus malam dalam perjalanan pergi pulang Makassar – Tana Toraja – Makassar.

Aku membesarkan hati. Bahwa haneymoon tak harus melulu berduaan di dalam kamar, melainkan tentang bagaimana dua hati bisa saling menyelami kedalamannya satu sama lain.

Aku sudah terbiasa backpacking bersama teman. Terkadang mereka adalah teman baru yang sebelumnya belum saling mengenal. Aku sudah membuktikan bagaimana sebuah perjalanan mampu menyatukan beberapa individu melalui kebersamaan yang singkat. Menjadikan sebuah persaudaraan baru yang erat. Aku bahkan menyediakan waktu untuk backpacking bersama anak-anak untuk saling dekat satu sama lain setelah rutinitas harian yang memaksa kami untuk mengorbankan waktu demi realita dunia yang sulit.

Maka, backpacking bersama suami kali ini pun, aku percaya akan memberi pengaruh lebih dari sekedar honeymoon yang biasanya. Mengenal satu sama lain melalui berbagai hal tak terduga yang ditemui selama perjalanan. Bersama memecahkan persoalan adalah proses mendalami isi hati. Menautkan dan merekatkan jiwa. Menguatkan ikatan batin dan cinta.

Dua hari yang lalu, setibanya kami di Bandara Sultan Hasanuddin pukul 10.20 waktu Makassar, kami langsung menuju pusat kota dengan bus Damri dan membayar ongkos Ro 25.000,- per orang. Kami minta diturunkan di pull bus Perwakilan Liman di jl. Urip Sumoharjo untuk membeli tiket bus menuju Tana Toraja yang dijadualkan berangkat pada pukul 8 malam.

Dalam bus inilah aku merebahkan lelah setelah seharian mengelilingi beberapa landmark kota Makassar. Makan siang coto Maros, bertandang ke Istana Tamalate, menelusur sejarah di Benteng Fort Rotterdam, dan menikmati sore hingga senja di pantai Losari, serta tak lupa bercengkrama sambil menikmati kuliner pisang epe.

Bus antar kota dalam provinsi yang sempurna. Seat 2-2 dengan sandaran kaki dan ruang yang cukup untuk selonjoran. Dilengkapi bantal dan selimut untuk berlindung dari dinginnya ac. Disini aku duduk berdampingan dengan suamiku. Nyaman meringkuk di balik selimut sambil memeluk lengan lelaki kurus itu. Bahagia lalu menyusup lebih dalam saat satu tangannya yang lain mengusap kepalaku.

Lelap tertidur dalam bus yang melaju menembus gelap malam. Hingga pagi menjelang dan kami tiba di Rantepao – Toraja. Gerimis tipis turun menyambut kami. Berlari kecil menuju masjid untuk tunaikan kewajiban. Demikian atas ridha-Nya semua berjalan sesuai rencana.

One day tour di Tana Toraja tak ubahnya wisata kuburan yang mengingatkan aku pada kematian. Penguburan yang unik dalam peti dan diletakkan di tebing-tebing dan goa. Tengkorak yang berserak karena peti mati yang lapuk dimakan usia, tak jarang membuat aku bergidik menyasikan pemandangan tak biasa ini. Keringat bercucuran seharian di bawah terik matahari, mengiringi jiwa yang penuh rasa ingin tahu akan salah satu dari kekayaan budaya yang ada di Indonesia.

Dalam bus Liman pula aku menghabiskan malam kedua di tanah Sulawesi Selatan dalam perjalanan kembali ke kota Makassar setelah penjelajahan singkat di Toraja. Kembali aku meringkuk di balik selimut sambil memeluk lengan kurus suamiku. Hingga menjelang pagi pukul 4, kami turun di depan pintu gerbang PT. Semen Bosowa.

Tak ada pilihan lain saat kami turun dari bus antar kota dalam provinsi di depan pintu gerbang pabrik semen ini, selain menunggu subuh tiba, sholat, lalu melanjutkan penjelajahan di Maros saat lengan-lengan cahaya mulai menerangi bumi. Tak jauh dari tempat kami turun dari bus, aku melihat sebuah masjid dengan lampu temaram. Kesanalah kami menuju sambil menunggu subuh tiba.

Satu jam kemudian, seorang lelaki datang. Tampaknya ia adalah pegurus masjid. Ia masuk ke dalam lalu mengumandangkan adzan. Merdu bersahutan dari masjid-masjid yang jaraknya tak terlalu berjauhan satu sama lain. Jamaah yang terpanggil pun berdatangan. Rumah Allah kini dipenuhi wajah-wajah ummat yang hendak sholat berjamaah.

Aku beranjak dari beranda masjid tempat aku berbaring. Menuju satu toilet disisi masjid yang gelap tanpa penerangan. Menanggalkan pakaian kotor yang membalut tubuh penatku, dan menggantikannya dengan pakaian bersih untuk menghadap-Nya.

Sejuk air wudhu membasuh sebagian anggota tubuh. Mengantarkan aku pada dua rakaat sunah sebelum sholat subuh berjamaah. Saat itulah suasana syahdu mulai merasuki jiwa yang telah lama alpa.

Dan iqamah pun diserukan. Imam bersiap dalam mihrab diikuti jamaah yang meluruskan barisan shaf. Lalu suara takbir berubah menjadi pintu menuju dunia yang lain. Dunia dimana aku merasa begitu dekat dengan Dia. Dua rakaat pagi ini di Maros – Sulawesi Selatan, bagiku seperti sebuah perjalanan pulang yang melegakan.

Doa-doa kupanjatkan, memohon ampun atas segala dosa, memohon hidayah menghapiri hati dan diteguhkan, memohon ridho di sisa usia yang ada.

Sementara di depan pintu masjid tampak lelaki kurus itu sedang menungguku. Lelaki yang kini menjadi imamku. Aku berdoa agar dilembutkan hatiku untuk tunduk dan patuh padanya, karena ridha Allah ada pada keridhaan suami atas istrinya.

Kututup doaku yang lebih lama dari biasanya, dengan doa sapu jagat. Kulepas mukena dan meletakannya di tempat semula di sudut ruangan masjid Baitunnur. Melangkah keluar dan menghampiri lelaki yang menyambutku dengan uluran tangannya. Ritual kecil yang menentramkan. Kusalami dan kucium punggug tangannya, lalu dikecupnya keningku.

Perjalanan kami di makassar mungkin tak layak disebut honeymoon, tapi lebih dari itu, ini adalah perjalanan hati.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.