Sulawesi Selatan

Makassar – Tragedi di Terminal 3 Soeta

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Wajahnya mendadak pucat. Warna kulitnya yang sawo matang itu menjadi semakin suram setelah gagal check-in di terminal 3 bandara Soekarno Hatta pada subuh pukul 5, Selasa 3 September 2013. Selembar kertas yang dipegangnya ikut bergoyang seiring dengan tangannya yang bergetar.

Aku tak berani menatapnya lagi. Tetapi dia malah mendekatiku, hingga aku dan lelaki batak muslim ini berhadapan dan hanya berjarak kurang dari setengah meter.

“Mba, dia bisa disuap nggak ya?”

“Aduh gue nggak tau deh, Yub,” aku menjawab sambil berpaling. Sudah tak tega melihat wajah garang dan brewokan itu berubah jadi melas.

Namanya Ayub, asli dari Lake Toba. Aku bertemu dengannya pada event Krakatau Writing Camp pada 24-25 Agustus 2013. Waktu itu saat makan malam di pulau Sebesi, aku bercerita padanya bahwa tanggal 3-9 aku hendak berwisata ke Makassar dengan tiket return air asia tiket harga Rp90.000,- Dan berhubung 4 temanku yang telah membeli tiket gagal pergi, maka kutawarkan padanya untuk ikut dengan menggunakan tiket milik teman yang batal pergi. Tanpa fikir panjang, Ayub mengiyakan saja ajakanku.

Setelah Krakatau Writing Camp usai, aku, Ayub dan 4 orang lain berkoordinasi untuk mempersiapkan trip Makassar ini. 4 orang itu adalah aku, Alvie, Abang Tiko, Ayub, Jurjani, dan icha. Aku dan Alvie memakai tikat atas nama kami sendiri. Sementara yang lain mencoba peruntungan dengan menggunakan tiket teman-temanku yang batal pergi. Mereka adalah Aziz, Randu, Farah & Gilang.

Namun rupanya dewi keberuntungan itu enggan berpihak pada kami pagi ini. Petugas air asia yang memeriksa dokumen calon penumpang sebelum memasuki waiting room langsung saja mencium akal bulus kami.

“Ini betul kamu?” Tanya petugas kepada Ayub saat ia menyodorkan KTP asli milik Gilang.

“Iya,” jawab Ayub. Kekhawatiran nampak di wajahnya.

“Berapa tanggal lahirnya?” Petugas itu bertanya lagi

Damn! Jantungku berdetak lebih kencang menyaksikan itu. Ayub tentu saja tak menyangka akan mendapat pertanyaan itu. Dengan terbata-bata ia menjawab tanggal lahir Gilang yang baru saja di bisikkan Alvie padanya. Sayang sekali, tahun yang ia sebutkan salah.

Aku berdiri menghadap Abang Tiko yang kini adalah suamiku. Melihat Ayub yang sedang diinterogasi petugas, Abang jadi seketika ikut menghafalkan tanggal lahir Aziz. Padahal, tadi ia sudah berhasil lolos pemeriksaan dokumen meski ia cekin dengan tiket dan KTP atas nama Aziz.

Tadi waktu aku melihat Abang dengan mudah melewati bagian pemeriksaan dokumen oleh petugas air asia, aku lega sekali. Aku fikir, tiga temanku lainnya juga akan aman-aman saja. Tapi rupanya, tragedi ini terjadi. Kuambil KTP itu dari tangan abang. Kuperhatikan foto Aziz di eKTP asli yang dipinjamkannya, lalu kubandingkan dengan wajah abang di hadapanku. Sedikit mirip memang. Pantas saja!

Sementara Ayub? Lelaki batak berwajah garang, brewok di mukanya makin menampilkan kesan seram. Rambutnya lurus dicukur gaya tentara, bentuk mukanya sedikit kotak dengan tulang rahang yang jelas. Dan foto di KTP Gilang, lelaki dengan rambut kerting, kulit cerah dan bentuk wajah tirus. Dua karakter muka yang sangat jauh berbeda.

Ayub masih belum selesai dengan petugas yang cantik tapi jutek itu. Kali ini, petugas itu masih memberi kesempatan kepada Ayub. Ia meminta Ayub untuk tanda tangan sesuai KTP. Dengan ragu, Ayub meraih ballpoint dan kertas dari tangan petugas. Entah garis-garis seperti apa yang ia gambar. Yang aku tau, setelah menyodorkan hasil karyanya, si petugas langsung mengucapkan komentar pamungkas.

“BUKAN KAMU ORANGNYA!”

Petugas itu pun langsung mengetikkan sesuatu di komputernya. Tak lama, hanya dalam hitungan tak kurang dari satu menit, printer kecil di sebelah layar komputer mengeluarkan kertas yang lalu disodorkan kepada Ayub.

“Silakan turun ke bawah dan beli tilet baru!” Kata petugas itu.

Demi apa, aku benar-benar menanggung rasa tak enak hati. Aku yang mengajaknya untuk ikut trip ini. Begitupun dengan Jurjani. Sementara Icha, bergabung karena ajakan Alvie.

Kami lalu saling membisu setelah dengan pasrah Ayub menerima penolakan atas tiket itu. Beruntun, setelah Alvie lolos check-in, tragedi pun terjadi pada Icha dan Jurjani. 3 dari 6 orang ditolak saat check-in. Wajar, wajah mereka dengan foto di KTP memang berbeda jauh.

Di belakang petugas yang kini sibuk melayani calon penumpang lain, kami berembug.

Bagaimana sekarang? Lanjut beli tiket baru yan pasti lebih mahal? Atau pulang saja?

Dengan gadget masing-masing, kami sibuk browsing harga tiket Jakarta-Makassar untuk penerbangan pagi ini. Dalam kondisi panik, karena take off pesawat hanya tinggal 45 menit lagi. Citilink, websitenya sulit diakses. Mandala, Sriwijaya, dan semua website maskapai penerbangan kami coba akses. Tapi suasana hati yang tak bersahabat, handphone yang katanya smart pun berubah jadi bodohphone.

Tak ada waktu lagi. Ayo! Lari saja ke bawah, temui customer service dan segera beli tiket baru.

And here we are! 6 backpacker yang 3 diantaranya membeli tiket baru airasia seharga Rp690.000,- one way, telah meginjakkan kakinya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dan untuk menutup postingan ini, aku ingin mengutip semboyan Makassar dengan sedikit modifikasi. Dari semboyan aslinya; Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke tepi. Dan inilah semboyan baru kami.

Sekali backpacker melangkah, pantang pulang kembali sebelum sampai tujuan. 😆

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.