Sulawesi Selatan, Traveling

Makassar – Malam Jum’at pertama

Bantimurung

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9]

Hari ini, kami menyisakan beberapa tempat ‘must visit’ di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung. Selalu ada alasan untuk kembali. Selalu, satu kalimat itu yang dapat menenangkan jiwa jika ada suatu tempat yang tak dapat dijangkau karena keterbatasan waktu. Tak mengapa. Hari ini kami meninggalkan Taman Nasional Bantimurung tanpa melihat Danau Kassi, Goa Batu dan Goa Mimpi.

Letak ketiga tempat ini berada lebih tinggi dibanding air terjun Bantimurung, dan harus berjalan kaki mendaki anak-anak tangga sejauh paling sedikit 800 meter lagi. Kaki kami sudah pegal. Tak sanggup lagi dipaksa berjalan. Setelah seharian berjalan mengikuti rasa penasaran akan keindahan alam di Maros – Sulawesi Selatan.

Lagi pula, matahari sudah mulai mendekati horizon sebelah barat. Sudah hampir jam lima, saat kami memutuskan untuk kembali ke kota Makassar. Jika tak segera, kami bisa kehabisan angkot. Karena disini, angkot hanya beroperasi sampai jam 5 sore saja.

Aku sempatkan membeli beberapa souvenir. Kupu-kupu abadi itu memang telah membuatku jatuh cinta. Meski sedih juga melihat mereka diawetkan seperti itu. Ya. Semoga saja mereka tidak dibunuh dengan sengaja. Semoga.

Rute dari Bantimurung ke Makassar

Untuk kembali ke Makassar, kami harus naik angkot 2 kali. Dari Bantimurung, naik angkot ke terminal Daya dengan tariff Rp 5.000,-. Kemudian, dari terminal Daya naik angkot lagi ke Makassar dengan tarif Rp 8.000,-.

Oya, sebelum naik angkot ke Daya, kami terlebih dahulu berjalan kaki sekitar 1 kilometer dari air terjun Bantimurung, sampai ke patung monyet raksasa. Kami mengabadikan beberapa foto keluarga disini.

Adegan Rebutan Kamar

Hari sudah gelap ketika kami tiba di kota Makassar. Ah. Malam ini malam Jum’at. Malam sunahan, katanya. Selama di angkot, dalam perjalanan dari Bantimurung ke Makassar, aku sudah habis dibully teman-temanku. Mereka bilang, aku dan suamiku adalah pasangan pengantin baru yang gagal honeymoon. Tanggal 1 September menikah dan syukuran di rumahku, tanggal 2 syukuran di rumah suamiku, lalu tanggal 3 berangkat ke Makassar. Dua malam pertama di Makassar, kami melewatkannya dengan tidur di dalam bus malam dalam perjalanan pergi pulang ke Toraja. Mereka tau, malam ini, aku dan lelaki kurusku tak akan menyia-nyiakan waktu.

Oya, malam ini kami, 6 orang backpacker yang punya prinsip ‘ngirit is everything’ ini akan menginap di rumah saudara suamiku di Perumnas Antang. Sementara 1 orang lainnya, si Rifqy, akan kembali numpang menginap di rumah Om Ridho. Om Ridho ini adalah sesepuhnya komunitas Backpacker Makassar. Jika bisa gratisan, kenapa harus bayar?

Sekitar pukul setengah sembilan malam, kami tiba di rumah yang bisa dibilang – pemiliknya adalah orang kaya. Rumahnya bertingkat, 2 lantai. Luas. Dan penuh perabot mewah di dalamnya. Aku merasa sungkan. Teman-temanku juga. Tapi, yang paling membuatku sedih adalah, tak ada cukup kamar untuk kami.

Hanya ada 1 kamar kosong. Dan satu lagi, kamar pribadi anak gadis si pemilik rumah. Si pemilik rumah yang merupakan paman & bibi dari suamiku ini kemudian mempersilakan kami. 2 orang perempuan tidur bersama anak gadisnya, dan 4 orang lainnya yang berjenis kelamin laki-laki menempati kamar kosong berukuran 4 x 6 m2.

Kedua kamar ini letaknya bersebelahan dan berada di lantai dua. Dua kamar ini menghadap ruang keluarga yang luas. Di ruang keluarga, ada sofa mewah yang bisa digunakan untuk berkumpul dan bersantai. Dekat dengan sofa, ada lemari kaca yang isinya penuh dengan tas branded. Tepat di depan lemari kaca, ada satu kamar mandi. Dan di sebelah kamar mandi ada kulkas yang di dalamnya berisi air minum dan beberapa camilan.

Sementara di dapur, di lantai bawah, tuan rumah sibuk menyiapkan makan malam untuk kami. Dan  teman-teman sibuk unpacking serta bergantian mandi. Aku dengan malas merebahkan tubuh lelahku di sofa. Cemberut. Jangan bilang kalau malam ini aku tidak bisa tidur berdua dengan suami. Oh! Demm…

Setelah selesai makan malam, masing-masing sibuk mencari tempat terbaik untuk tidur. Icha, sudah masuk kamar anak gadis si tuan rumah. Aku malas mengikutinya. Masih berharap, ada keajaiban. Ada satu lagi kamar kosong di rumah yang besar ini. Ayub, Alvie dan Jurjani sudah masuk kamar juga. Suamiku ikut duduk di sofa, di sebelahku. Membujukku agar tidak keras kepala. Aku tidak mau!

Aku lalu beranjak ke kamar para lelaki. Kulihat, ada lebih dari satu kasur di kamar itu. Tiba-tiba, aku berubah menjadi perempuan kejam. Mungkin seperti ibu kost galak yang mengusir anak-anak kost karena menunggak membayar sewa.

“Heh..! angkat kasurnya satu. Keluar sana. Gue mau tidur disini!”, satu per satu, aku guncang tubuh para lelaki yang baru saja berangkat ke alam mimpi itu.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.