Sulawesi Selatan

Makassar – Insiden Sayur Labu

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10]

IMG_20131125_1

Matahari sudah bersembunyi di balik horizon saat aku dan teman-teman tiba di salah satu pantai di Bira. Ketiadaan cahaya membuat hari berubah gelap. Meski masih tersisa semburat jingga tepat di atas garis bertemunya laut dan langit itu. Ah, terlambat! Tak ada lagi sunset. Wajar saja, kami terlalu santai. Demi menikmati setiap detik yang terlewati sepanjang perjalanan. Dari Makassar kami bergerak ke selatan, melewati daerah Gowa, Takalar, Janeponto, dan Bulukumba, hingga akhirnya sampai di Tanjung Bira.

Di sepanjang perjalanan itu, kami beberapa kali singgah sejenak. Untuk sekedar membeli dan mencicipi kue putu cangkir di Gowa. Atau singgah sebentar di Takalar untuk membeli beberapa buah semangka. Cuaca panas ketika itu membuat air liur kami meleleh melihat tumpukan semangka yang berjajar dijual di sepanjang sisi jalan Takalar.

Di Takalar pula kami singgah untuk sholat Jum’at. Sesaat sebelum adzan dzuhur berkumandang, kami mampir di sebuah warung yang berada tepat di sebelah masjid. Di warung inilah aku terheran-heran melihat jagung rebus yang warnanya tidak sama seperti jagung yang biasanya. Bukan kuning atau oranye, tapi jagung disini berwarna putih susu! Rasanya manis, dan disajikan dengan bumbu asinan. Bumbu asinan ini dibuat dari garam halus yang dibubuhi gerusan cabai. Cocolkan jagung ke bumbu ini, lalu mulailah gerogoti butiran jagungnya. Mmm…, Yummy!

Perjalanan menuju Tanjung Bira memang jauh. Setidaknya kami menghabiskan waktu 8 jam. Padahal, jika tidak banyak mampir, 4 atau 5 jam seharusnya kami sudah bisa sampai. Meski demikian, kami jauh dari kata bosan atau jenuh dalam menempuh perjalanan ini. Diiringi lagu regae berjudul Bara bara bere bere, bersama-sama kami bernyanyi dan menggoyangkan badan. Hingga ketika mobil yang kami kendarai masuk ke daerah Janeponto, keasyikan kami segera berganti rasa takjub. Memandangi petak-petak tambak garam yang cantik di tepi laut di sisi jalan. Permukaannya mulai mengering dan mengkristal. Cahaya matahari perak terlihat jatuh dan terpantul disana. Aku sempat membuka jendela. Aroma asin itu segera menghampiri indra penciuman.

Menjelang waktu sholat ashar, kami memasuki daerah Bantaeng. Perut kami yang keroncongan memaksa kami berbelok ke halaman parkir sebuah rumah makan yang namanya cukup kesohor. Sop Saudara. Kami tau, sebenarnya tak lama lagi kami akan sampai Bulukumba, lalu Tanjung Bira. Ah, makan dulu lah. Tak perlu terburu-buru. Bukankah kata Agustinus Wibowo, hanya perjalanan yang dilakukan dengan jenak yang akan memberi makna?

Di rumah makan dengan menu spesial sop ini lah aku mengenal nama lain dari ikan bandeng. Ikan ini begitu popular di Banten yang diolah menjadi sate bandeng, ternyata disini dipanggil dengan nama ikan bolu. Sementara teman-teman dan bahkan suamiku memesan sop, aku memilih menu makan prasmanan. Di salah satu sisi dinding bagian luar rumah makan ini tadi sempat kulihat sebuah banner. Tertera pilihan menu, lengkap dengan informasi harganya. Rata-rata harga satu porsi sop yang disajikan dengan nasi dan ikan bolu harganya mencapai dua puluh ribuan. Sementara menu prasmanan hanya lima belas ribu saja.

Di sudut ruangan rumah makan yang luas itu diletakkan meja panjang. Di atasnya terlihat satu termos nasi berukuran lumayan besar, serta beberapa baskom berisi lauk dan sayur. Ada juga 3 mangkok kecil berisi sambal yang berbeda. Ada sambal kecap, sambal ulek tomat, dan sambal terasi. Dekat dengan termos nasi, tersedia setumpuk piring, mangkok, serta sendok. Berdiri juga disisi meja, seorang gadis manis dengan rambutnya yang rapi diikat ekor kuda. Biar kutebak, ia pasti salah satu pelayan rumah makan ini. Seandainya para pelayan di rumah makan ini berseragam, aku tentu tidak perlu main tebak-tebakan.

“Kak, semua yang ada dimeja ini boleh dimakan dengan harga satu porsi prasmanan?”, tanyaku pada gadis yang masih terlihat belia itu. Dan ia hanya mengangguk sambil mengulum senyum.

Tanpa fikir panjang lagi. Kuambil saja semua yang tersaji di meja itu. Nasi, goreng ikan bolu, pindang ikan bolu, sayur bayam dan sayur labu. Tak lupa sambal kecap kusiramkan ke atas goreng ikan. Aku tak pernah makan senafsu ini saat traveling. Aku nambah!

Dan ketika sedang asik-asiknya aku menikmati makan siang yang terlambat itu, ego dan kesabaranku kembali diuji. Sama seperti pagi itu di Maros. Saat aku terpaksa harus mencuci kemeja flannel milik suamiku yang dijatuhi kotoran burung. Waktu itu aku sedang menikmati sarapanku. Segelas teh manis hangat dan pisang goreng. Oh, betapa sebalnya aku saat itu!

“Nu, sayur labunya enak ya”, kata suamiku yang baru saja ikut mencicipi sayur labu. Aku hanya mengangguk pelan sambil terus mengunyah makananku. Sayur labunya memang enak. Tidak terlalu asin, sedikit rasa manis, ditambah sensasi gurih dari santan kelapa. Cocok sekali dengan lidahku yang keturunan Jawa.

“Aku habisin, ya!” lanjutnya. Tanpa menunggu persetujuanku, ia menumpahkan sayur labu yang tersisa dalam mangkuk ke piring makannya.

Masygul rasanya saat melihat itu. Padahal, sayur itulah yang membangkitkan selera makanku. Belum habis rasa sebal yang susah payah kutahan. Suamiku berulah lagi.

“Nu, ambilin lagi dong sayurnya. Kepingin lagi. Enak euy”, ia terus bicara tanpa peduli bagaimana perasaanku. Oh tuhan, aku sudah tak tahan ingin mengomel. Tapi aku ingat satu hal. Lelaki ini suamiku. Aku harus bisa belajar bersikap manis.

Kubiarkan otakku berfikir selama beberapa detik. Ya, ada kalanya ego harus dikantongi. Kuhirup oksigen dalam-dalam. Cara ini selalu efektif memeri kelegaan dalam dada. Dan aku berhasil melengkungkan senyum lagi, setelah muka masam yang sejak tadi menghiasi wajah bulatku.

“Gue nggak bisa nolak, kan, ya?”, ucapku kemudian. Lalu beranjak menuju meja prasmanan. Sebelum meninggalkan meja untuk mengambil sayur labu lagi, aku sempat bersitatap dengan suamiku. Dan kulihat ia nyengir kuda. Huh!

Sementara itu, teman-temanku justru tertawa dan meledek. Mereka tau dan semua setuju, aku ini perempuan berlabel keras kepala. Pasti menurut mereka, aku sedang kesambet atau ketiban hidayah karena sikapku tidak seperti biasanya. Iya, aku sedang berusaha bersikap baik sekarang. Untuk suamiku yang baru menikah denganku beberapa hari lalu itu!

Hmm.., seandainya kami tetap memilih naik transportasi umum dari Makassar pergi ke Tanjung Bira. Seperti rencana awal, dari terminal Malengkeri – Makassar, naik travel berplat kuning sampai ke Tanjung Bira. Ongkosnya cuma Rp50.000,- sekali jalan. Travel yang tidak banyak berhenti ini sangat memungkinkan bagi kami untuk tiba lebih awal di Tanjung Bira. Dan cuaca yang sangat cerah hari ini akan sangat memungkinkan juga bagi kami umtuk menikmati sunset. Kabarnya, sunset di Tanjung Bira adalah sunset tercantik se-Indonesia. Tetapi, tentu akan ada kisah yang terlewat. Tak akan pernah ada insiden sayur labu itu, kan? What a sweet moment of pumpkin!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.