Sulawesi Selatan

Makassar – Dusun Berua dan Pesonanya

Makassar Part. [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Seolah sedang berada di zaman purba. Suatu masa dimana belum ada peradaban dan teknologi digital seperti sekarang. Ketika manusia hidup berkelompok di dalam goa, berburu dan bercocok tanam dengan peralatan seadanya terbuat dari batu. Disini aku tak banyak bicara. Hanya berkali-kali mulutku ternganga dan berdecak kagum. Gunung-gunung dan bebatuan karst yang berjajar melingkar seolah menjadi pagar batas bagi dusun Berua di Maros, Sulawesi Selatan.

Taman Batu Karst, Maros.
Taman Batu Karst, Maros.

Setelah menelusuri sungai dari dermaga Rammang-rammang menggunakan perahu motor yang disini biasa disebut jolloro, aku melanjutkan penjelajahan. Cuaca panas sekali. Tapi aku tak peduli, biar saja sinar matahari menghujam dan membuat kepalaku berdenyut sakit. Dan biar saja sinar UV itu melegamkan kulit muka, punggung tangan dan kakiku. Biar! Aku hanya peduli pada pemandangan indah alam Indonesia yang terhampar di depan mataku kini. Seperti file di peradaban digital, pemandangan ini biar kuunduh lalu kusimpan dalam memori otakku.

Bias Pelangi dan Refleksi Gunung Karst
Bias Pelangi dan Refleksi Gunung Karst

Masih berjalan menapaki sawah kering. Aku melangkah sambil sesekali dengan sengaja menginjak batang-batang padi yang tinggal separuh, sisa panen musim tanam lalu. Terasa sampai di telapak kaki saat batang-batang padi kering itu patah di bawah sandal gunung kesayangan yang selalu menemani langkahku. Sambil sesekali aku menyeka keringat yang mengucur begitu saja di kening. Iya, panas terik disini. Tak heran mengapa permukaan tanah sawah retak retak. Namun itu tak mematahkan semangatku untuk menelusur satu demi satu mutiara tersembunyi di dusun ini.

MATA AIR SUMBER KEHIDUPAN

Aku kini berada di sisi tebing karst yang tadi hanya aku lihat dari kejauhan. Karst itu warnanya seperti semen. Permukaannya terlihat eksotis dengan lekukan-lekukannya yang serupa ukiran alam hasil karya Sang Maha. Aku terpaku, menatap lekat dan mendongak. Sementara disisi kiriku, teman-teman sedang mengerumuni sebuah lubang berdiameter 1.5 meter. Sayup-sayup aku dengar suara Kak Adang yang memandu kami. Kak Adang memang bicaranya pelan, tidak seperti kebanyakan orang Sulawesi Selatan yang nada suaranya tinggi. Kak Adang sedang menjelaskan tentang air!

Sumur yang tak pernah kering
Sumur yang tak pernah kering

Aku lalu memasang telinga. Mendengar suara kak Adang yang sedang menjelaskan tentang…., air? Rupanya pertanyaan yang sejak tadi mengusik fikiranku terjawab sudah. Pertanyaan itu muncul dan hanya kusimpan saja dalam hati saat aku terpaksa singgah di salah satu rumah untuk numpang ke toilet. Seorang ibu sedang duduk di bangku kayu tepat dibawah rumah panggungnya. Dengan ramah mempersilakan aku masuk ke kamar mandi seadanya di samping rumah. Kamar mandi dengan ukuran 2 x 2 meter. Ada satu jamban dan beberapa ember berisi air bersih. Tapi, dimana sumurnya?

Mataku kemudian menyelidik ke sekeliling rumah saat aku selesai dengan urusan di dalam kamar mandi. Dan tak kutemui apa yang kucari.

Saat menulis ini, aku mencoba mencari informasi tentang batu karst di Wikipedia. Ternyata memang sungai-sungai bawah tanah merupakan salah satu karakteristik karst. Selain karakteristik lainnya yaitu cekungan-cekungan, bukit-bukit kecil, dan permukaan karst tampak kasar, berlubang dan runcing. Itu yang aku sebut seperti pahatan alami tadi.

Aku memperkirakan, jarak dari sumur ini ke rumah panggung yang aku singgahi tadi, sekitar seratus meter. Jadi, sumur ini lah sumber kehidupan mereka.

LEGENDA TAMAN BIDADARI

Hey, bidadarinya disini...!
Hey, bidadarinya disini…!

Taman bidadari, begitu penduduk di sekitaran karst Maros menyebutnya. Mata air yang konon merupakan tempat mandi bagi para bidadari dari kahyangan. Begitu penuturan seorang penduduk yang dahulu kala, ia menyaksikan sendiri bidadari-bidadari itu dengan riang bermain air di mata air yang jernih dan tenang.

Mata air ini terlihat seperti kolam berbentuk segitiga. Diapit oleh 2 tebing karst yang menyempit. Rupanya ini adalah permukaan sungai yang tersambung ke sungai bawah tanah. Kawasan karst ternyata memang sumber penyedia air. Banyak dijumpai goa dan sungai bawah tanah sebagai pemasok ketersediaan air bersih bagi kawasan yang berada lebih rendah.

Taman bidadari ini adalah destinasi lanjutan setelah meninggalkan sumur di dekat rumah penduduk yang tadi sempat aku teguk airnya. Untuk menuju kesini, kami melewati pematang sawah dan masih dipapar sinar terik matahari. Kembali melewati rawa, mungkin juga empang. Bebek-bebek masih berenang disana. Tak bosan aku memandangi keriangan penuh suara kwek kwek dari paruh pipih mereka, seolah sedang bersenda gurau. Lagi-lagi aku tergoda untuk berfoto sebelum meninggalkan tempat ini.

Aku dan teman-teman sepakat, tidak akan kembali ke dermaga Rammang-rammang dengan perahu. Kami akan trekking melalui jalur darat, karena akan banyak hal yang harus terlewat jika kembali ke dermaga Rammang-rammang dengan perahu. Seperti taman bidadari yang tersembunyi ini.

MG_3147
Mereka kah bidadarinya?

Masih menyusuri areal persawahan kering, lalu menyisir pinggiran batu-batu karst yang tersebar dimana-mana. Bagian pinggir karst terkadang runcing, jika tak hati-hati, bisa saja jidat terbentur. Seperti Ayub, mungkin karena terlalu asik dengan mata lensa kameranya. Berkali-kali, karena lengah dan tak menyadari ada karst menjulang di depannya saat berjalan.

Sekitar 30 menit trekking, kami tiba di Taman Bidadari. Luar biasa perjalanan menuju ke tempat ini. Tadi sempat juga melewati jalan setapak berlumpur. Untung aku memakai sandal gunung, tak perlu repot melepas sepatu seperti Alvie & Jurjani. Yang tak kalah menantang adalah berjalan menunduk melewati lorong batu karst. Seolah menyusuri goa yang sempit. Kami juga sesekali harus mendaki naik lalu menuruni bebatuan karst.

ADA GOA DI GUNUNG BARAKKA

Gunung Barakka namanya. Dalam bahasa Indonesia berarti berkah. Gunung karst yang diyakini membawa berkah bagi penduduk sekitar. Ada goa purba ditebing gunung Barakka. Di permukaan dinding goanya terdapat lukisan purba berbentuk telapak tangan, pedang dan perahu. Untuk masuk ke goa ini, kami harus naik melaui undakan batu-batu karst. Butuh usaha yang keras.

Foto after wedding dengan background Gunung Barakka
Foto after wedding dengan background Gunung Barakka

923378_688420097836749_1298762294_n1

Gunung ini menyimpan potensi besar untuk industri semen. Sempat ada pengusaha yang hendak melakukan penambangan batu kapur. Tidak hanya di gunung Barakka, tapi di gunung-gunung karst lain di kawasan ini. Dan sempat ada pekerja yang mati saat akan memulai penambangan.

Penduduk disini percaya, mereka terkena murka para leluhur yang menjaga karst Maros.

Sebagian penduduk setuju dengan adanya wacana penambangan ini. Mereka yang setuju adalah pemilik lahan yang tanahnya masuk ke dalam peta pembebasan lahan. Wawasan yang sempit. Orientasi mereka ada pada ekonomi praktis. Iming-iming sejumlah uang pembebasan yang besar memang menggiurkan. Padahal, jika kawasan karst ini dibiarkan alami dan dikelola dengan baik dalam bidang pariwisata, penduduk setempat juga akan menikmati imbas peningkatan ekonomi dengan jangka yang jauh lebih panjang.

Tiba-tiba aku jadi kagum dengan kak Adang dan keluarganya. Dengan cara yang cantik mereka mengajak penduduk untuk sama-sama menjaga kawasan ini. Melakukan promosi dengan cara menjadi guide cuma-cuma. Benar-benar tidak berorientasi pada uang. Bahkan ia menolak dan kabur saat kami memaksa memberi uang lelah karena mereka telah seharian menemani kami. Kak Adang, semoga Allah membalas kebaikanmu sekeluarga.

SITUS BEBATUAN KARST

Ini yang aku bilang bahwa aku seperti berada di jaman batu. Saat kami hendak kembali ke dermaga Rammang-rammang untuk mengambil ransel-ransel yang kami titipkan kepada pemilik perahu lalu melanjutkan perjalanan ke goa Leang-leang.

Matahari kian jumawa dengan sinarnya yang menyengat. Seolah benar-benar berada diatas kepala. Tapi jajaran batu-batu karst itu lebih berkharisma. Ia kini serupa shining object yang memiliki medan magnet kuat dan menyedot perhatian kami.

Aku tidak bisa tidak jatuh cinta pada apa yang aku lihat kini. Aku sedang berdiri di tengah-tengah sawah. Batu-batu karst itu berjajar, melingkar, memutar, seolah memagari areal sawah yang begitu luas. Beberapa batu bentuknya eksotis. Menyerupai hewan. Ada yang seperti katak, ada pula yang mirip kepala komodo atau buaya. Ckckckck… Mulutku terus berdecak kagum.

Di sisi yang lain, tampak sapi-sapi coklat sedang merumput. Tiba-tiba aku justru merasa sedang berada di padang savannah. Tumbuhan semak terlihat bergoyang ditiup angin. Langit masih biru dan awan putih berarak. Ya Rabb, indah nian Kau cipta negeri ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.