Sulawesi Selatan

Makassar dan impian keliling dunia

Sejak kecil aku menyukai apapun yang berbau petualangan. Bersepeda keliling kampung, mendaki bukit, manyusuri sungai, atau masuk ke hutan untuk sekedar berburu capung atau kupu-kupu. Maka tak heran jika sekarang ini aku tenggelam dalam hobi yang memaksaku untuk tidak hanya diam di kota kecil di ujung barat Pulau Jawa.

Dusun-Berua
Menikmati indahnya panorama Dusun Berua, Maros – Sulawesi Selatan

Minimal sebulan sekali, aku pergi traveling ke destinasi-destinasi yang paling mungkin untuk dijangkau. Entah hanya untuk menikmati air terjun, pantai, atau museum yang ada di sekitaran Serang-Banten, sampai ke destinasi wisata nun jauh di luar kota.

Awalnya memang aku memaknai traveling sebagai kegiatan refreshing untuk melepas penat dan segala jenuh setelah bergelut dengan rutinitas. Namun pada akhirnya ada hal lain yang efeknya seperti candu dan sulit untuk berhenti. Hal yang kusebut candu itu adalah kejadian-kejadian yang tak terduga yang berujung pada perenungan, penemuan hal baru, dan hidup.

pantai kaluku _ phinisi
Pembuatan kapal phinisi di Bulukumba

Salah satu pengalaman traveling yang memberiku banyak makna hidup adalah ketika aku menjelajah Sulawesi Selatan tahun lalu. Di Toraja aku belajar hal baru tentang bagaimana penduduk lokal memaknai hidup dan kematian. Di Maros aku belajar tentang kesederhanaan dan semangat meraih impian. Di Bulukumba aku terkagum pada keahlian penduduk lokal dalam mencipta kapal phinisi. Dan di Makassar aku jatuh cinta pada budayanya yang penuh warna.

Perasaan jatuh cinta kepada tanah para pelaut itu kemudian memberi sebuah inspirasi untuk menulis sebuah buku. Dengan seijin Tuhan, buku panduan “Backpacking Makassar & Sekitarnya” telah terbit awal bulan Agustus 2014 lalu. Harapanku, buku itu akan berguna bagi mereka yang ingin menjelajah Sulawesi Selatan. Agar mereka juga bisa menemukan banyak hal baru, pengalaman baru, dan pelajaran baru dalam penjelajahan di Makassar & Sekitarnya.

Backpacking Makassar & Sekitarnya
Backpacking Makassar & Sekitarnya

Karena seminggu adalah waktu yang sangat singkat untuk menelusuri setiap jengkal keindahan Sulawesi Selatan, maka aku punya banyak alasan untuk kembali. Bukan hanya soal keindahan alamnya, tetapi aku percaya ada banyak hal baru yang bisa kutemui, pelajaran baru, di tempat yang baru. Maka saat datang kepadaku satu kesempatan untuk kembali berkunjung ke Sulawesi Selatan, aku tak menyia-nyiakannya. Apalagi kesempatan itu bukan hanya untuk sekedar traveling, tetapi terselip satu agenda untuk turut serta menjaga kelestarian bumi.

Dan tanpa pikir panjang lagi, aku langsung memesan tiket pesawat dari Jakarta ke Makassar. Kebetulan pada bulan Agustus lalu Traveloka bekerja sama dengan Sriwijaya, mengadakan promo happy friday. Yaitu promo diskon pembelian tiket Sriwijaya air setiap hari Jumat dengan metode pembayaran menggunakan kartu kredit. Aku sangat senang karena mendapatkan tiket pesawat dengan harga yang murah, yang bisa membawaku dalam sebuah perjalanan luar biasa dalam gelaran Festival Takabonerate 2014.

image
Anak-anak di pulau Rajuni

Selama 3 hari di Takabonerate aku diajak untuk mengunjungi pulau-pulau kecil berpenghuni. Persis seperti yang kuimpikan, buku catatan hidupku kembali terisi cerita baru, pelajaran baru. Dari anak-anak pulau yang percaya pada impian dan cita-cita, aku kembali diingatkan, bahwa kita memang tidak bisa memilih dari mana kita berasal, tetapi kita berhak menentukan akan menjadi apa dan siapa di masa depan.

Pada hari terakhir sebelum bertolak meninggalkan Takabonerate, aku diajak untuk lebih peduli pada lingkungan. Aku mengikuti kegiatan transplantasi karang, menanam pohon, dan melepas anak penyu ke lautan. Tidak hanya itu, aku mendapat edukasi tetang pentingnya fungsi terumbu karang yang menjadi rumah bagi ikan-ikan. Tentang pentingnya pohon, tentang mengapa hiu dan penyu harus dilestarikan.

Transplantasi Karang di Takabonerate. Doc. Jackyoke
Transplantasi Karang di Takabonerate. Doc. Jackyoke

Semua pengalaman itu membuatku bertekad untuk turut menjaga bumi dengan cara yang aku bisa. Menyebarkan informasi lewat blog, mengajarkan anak untuk selalu buang sampah pada tempatnya, atau mengajarkan teman untuk seimbang saat snorkeling agar terumbu tak terinjak.

3 bulan sudah berlalu sejak berakhirnya Festival Takabonerate. Masih terekam jelas dalam ingatan moment-moment berharga selama di Takabonerate. Terbersit keinginan untuk kembali kesana dan mengajak anak sulungku, Daffa’. Aku ingin mengajaknya menelusuri jejakku di pulau Rajuni, dan mengenalkan Daffa’ pada teman-teman kecilku disana. Agar Daffa’ ikut belajar dan menemukan siapa dirinya, sehingga tumbuh menjadi generasi mandiri dan jauh dari sifat kolokan.

ke Sekolah 2
Mendayung sampan untuk ke sekolah

Oya, jika impian untuk membawa Daffa’ ke Takabonerate terwujud, sebelumnya aku ingin mengajak Daffa’ untuk menyusuri sungai Rammang-rammang yang cantik. Aku ingin Daffa’ melihat bagaimana anak-anak di dusun Berua harus mendayung sampan menyeberangi sungai demi pergi ke Sekolah. Lokasinya di kabupaten Maros, tak jauh dari Bandara Sultan Hadanuddin Makassar. Pulangnya, aku akan membawa cerita untuk didongengkan kepada si bungsu sebagai pengantar tidur. Agar tumbuh dalam dadanya cinta dan cita yang sama denganku dan saudara laki-lakinya. Cinta menjelajah, cita keliling dunia.

Karena traveling pada akhirnya adalah perjalanan membaca dunia, untuk terus belajar, dan hidup yang lebih baik. That’s why I love traveling.

1 thought on “Makassar dan impian keliling dunia

  1. Thanks gan info yang bagus dan bermanfaat.
    Ehh gan, bekerja di kapal pesiar / cruise ship entah sebagai chef atau koki, crew, dan lain-lain sangat menyenangkan sekali lho.. Kenapa? Soalnya bekerja bisa sekaligus keliling dunia dan itupun dibayar dengan gaji yang besar.
    Semoga website ini terus menyajikan info yang menarik dan bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca ya gan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.