Jawa Timur, Traveling

Kualitas menunggu & syukur nikmat

Aku tidak tau pasti akan membawa Daffa’ & Abyan ke destinasi wisata apa hari ini. Setelah cek out dari Tune Hotel, aku memutuskan berhenti sejenak dan duduk di trotoar untuk berfikir. Lalu terlintas sesuatu yang sangat akrab dalam ingatanku tentang Surabaya, yaitu patung buaya dan hiu putih yang sering kulihat di TV. Dan satu lagi, House Of Sampoerna. Beberapa hari lalu, salah seorang teman merekomendasikannya sebagai destinasi wajib di Surabaya.

“Mbaknya mau kemana?” Tanya petugas keamanan hotel padaku, saat aku sedang menimbang-nimbang, destinasi mana yang sebaiknya kudatangi lebih dulu?

Menentukan rute perjalanan memang sangat penting agar waktu bisa digunakan seefektif mungkin.

Sayangnya, tidak ada yang menemaniku untuk menjelajah kota Surabaya hari ini. Biasanya di setiap kota, aku menemukan seorang teman untuk menemani sekaligus menjadi guide. Tapi tuhan pasti punya alasan mengapa hari ini aku sendiri. Saatnya bersyukur atas nikmat sehat sehingga aku bisa melihat tanda penunjuk arah, atau bertanya pada penduduk lokal. Bersyukur karena kaki masih bisa melangkah, menjelajah lebih luas lagi untuk menemukan dan mengumpulkan kepingan cerita hidup dan segala hikmah dibalik kejadian dalam petualangan kami.

“Pak, kalo mau ke House of Sampoerna, dari sini jauh ngga? Naik apa?” Aku bertanya pada si bapak satpam itu.

“Oo, mau ke HOS. Naik taxi saja mba, atau mau travel?” Bapak satpam itu tidak menjawab pertanyaanku. Ia malah memberi saran yang tidak mungkin kulakukan. Apa lagi alasanku jika bukan karena budget?

“Ndak, Pak. Saya pingin naik umum saja.” Jawabku kemudian.

“Yasudah, tunggu saja disini, nanti saya bantu setopkan bis.” Kali ini aku senang mendengar jawabannya. “Tapi ngga ada bis yang langsung kesana loh ya, nanti turun di Jembatan Merah, terus cari angkot, atau naik becak saja. Nggak mahal kok, paling cuma 10 ribu.” Imbuhnya.

10 menit berlalu, bis kota jurusan Jembatan Merah tak kunjung melintas. Aku mulai gelisah menunggu. Emosiku jadi sangat kontras dibandingkan Daffa’ & Abyan yang begitu asik mengendarai mobil balap dalam imajinasi mereka. Kaki-kaki kecilnya berjalan mengelilingi halaman hotel, dengan kedua tangan kedepan dada dengan posisi seolah sedang memengang stir mobil. Dari bibir mereka tak henti mengeluarkan suara tiruan mesin mobil, sesekali bunyi rem, dan juga tawa saat ada adegan tabrakan yang dibuat-buat antara mobil yang dikendarai oleh Daffa’ & Abyan.

“Ngeeng… Ngeeng… Chiit! Braakk!” Suara-suara itu terus diulang-ulang oleh Daffa’ & Abyan.

Ah, mereka benar-benar mahir dalam hal kualitas menunggu. Sementara aku semakin gelisah dan tak sabar. Ingin segera melihat tempat baru yang belum pernah kulihat. Sifat ketidak sabaran itu yang mebuat aku terbiasa berfikir cepat mancari solusi. Mengapa tidak mencari destinasi lain saja? Sejak tadi kulihat banyak angkot melintas di Jl. Arjuno ini. Ke arah mana ya angkot itu? Maka, kusyukuri lagi nikmat dari Tuhan karena aku masih bisa bertanya.

“Pak, angkot-angkot itu arahnya kemana?” Tanyaku pada bapak satpam yang masih setia memegang janjinya untuk membantuku.

“Lha kalo mau jalan-jalan, mba bisa naik angkot ke Tugu Pahlawan. Cuma sekali naik aja. Nanti kalo sudah puas di Tugu, mba tinggal naik angkot lagi ke Jembatan Merah, baru naik becak ke HOS.” jawab pak satpam memberi saran dan penjelasan.

Ide bagus, dan aku menyetujuinya. Walau sebenarnya aku tidak tau apa itu Tugu Pahlawan. Ada apa di sana? Aku tidak banyak browsing untuk persiapan backpacking bersama anak-anak kali ini. Sedang ingin mengikuti arus. Tetapi bukan berarti aku adalah ikan yang mati.

Aku jadi ingat kutipan dari C. Joybell C., seorang Penulis Psikolog sari Saint Paul Trois Chateux. Ia percaya pada hidup yang mengalir. Seperti aliran sungai yang akan membawa manusia pada takdirnya sendiri. Tak perlu melawan arus hanya karena ingin mencapai sesuatu yang dianggap hebat. Karena itu sama halnya kita sedang berenang dan berjuang dalam aliran sungai milik orang lain. Yang harus kita lakukan hanyalah… menikmati aliran sungai kita sendiri.

Aku semakin tak sabar menunggu kelanjutan petualanganku hari ini. Kemana aliran sungai yang sedang kuarungi ini akan membawaku dan anak-anak pergi?

Tak harus menunggu lama sebuah angkot pun melintas. Pak Satpam, petugas Tune Hotel menyetopnya, dan aku segera naik.

Sebelum angkot berlalu, Pak Satpam itu berpesan agar aku berhati-hati, dan ia juga sempat mendoakan semoga hariku menyenangkan.

“Terima kasih banyak ya, Pak!” ucapku dari dalam mobil angkot.

Di dalam hati aku melafalkan syukur Alhamdulillah, atas segala nikmat yang kadang aku lupa untuk mensyukurinya. Nikmat sehat jiwa dan raga sehingga aku bisa melihat, mendengar, merasakan. Berfikir dan belajar.

Pagi ini di Jalan Arjuno, di hari pertama petualanganku di kota Surabaya (13/7), dari anak-anak aku belajar tentang kualitas menunggu, dan dari Bapak Satpam yang membuat mulutku bekerja untuk bertanya, memacu otak untuk berfikir dan membuat keputusan menentukan tujuan.

Dan pada akhirnya kita harus menyadari bahwa perjalanan bukan hanya sekedar menikmati obyek wisatanya saja, tetapi juga belajar dari apa pun dan siapapun yang kita temui dalam perjalanan itu. Dunia ini adalah sekolah kehidupan, dan mereka yang kita temua di sepanjang perjalanan adalah gurunya.

1 thought on “Kualitas menunggu & syukur nikmat

  1. Terenyuh banget baca postingan ini. Saya penyuka backpacker, meski sangat jarang backpackeran ketika single dulu. Sekarang dengan dua anak balita dan janin di perut buat saya makin yakin nggak akan mungkin bisa backpackeran. Tapi, setelah baca blog mbak, wah, boleh banget kapan2 saya ajak anak-anak saya backpackeran. Seru banget kayaknya, mbak. Terima kasih untuk blog dan berbagi kisahnya ^^ Keep backpacking with children and share the stories ya, mbak ^^

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.