Lampung

Krakatau, Perjalanan Berbalut Rindu

 

Dibawah pohon waru di tepi pantai pulau Sebesi. Rasa ini hadir lagi. Seperti biasa, setiap aku pergi tanpa lelaki kurus si penghuni hati, pun Daffa’ & Abyan si buah hati.

Ini kali ketiga aku menjejakkan kaki di satu-satunya pulau berpenghuni di komplek gunung Anak Krakatau. Semua masih sama. Terik mentari pukul 12 siang, kelapa muda, deburan ombak, perahu tertambat yang bergoyang dihantam gelombang, daun-daun waru yang melambai seirama angin semilir.

Ya, semua masih sama. Hanya, bedanya, hari ini 24 Agustus 2013, tak ada si lelaki kurus yang menemaniku seperti pada Desember 2012. Bedanya, tak ada Daffa’ si buah hati yang ikut serta pada trip Krakatau di Maret 2013.

Wahai lelaki kurusku, andai kamu ada disini. Seperti waktu itu di pantai ini. Meski tanpa bicara dan tak melakukan apa-apa. Berdua, menatap jauh hingga ke ambang batas bertemunya laut lepas dengan langit biru. Itu indah.

Duhai Daffa’ku sayang. Andai kamu ada disini, sekarang. Aku jatuh cinta pada keceriaanmu berlarian di tepian pantai. Menikmati riang ombak yang mencumbui kaki-kakimu. Lalu kau ambil batu-batu kecil dan melemparkannya ke laut. Seolah meminta ombak itu untuk membawa kembali batu yang kau lempar. Itu indah.

Abyan, anakku yang selalu lucu. Suatu saat.., aku akan mengajakmu kesini. Menikmati indah pantai Pulau Sebesi. Sambil mendengar celotehanmu yang juga lucu. Ibu tau kau masih takut pada air. Akan ku gendong kau sampai ke sisi pasir yang selalu dibelai ombak. Saat kau memelukku erat, itu indah.

Miss You All…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.