Resensi Buku

[Koran Jakarta] “Backpacker in Love”, Inspirasi Remaja Masa Kini

Doc. Pribadi NOE
Doc. pribadi NOE

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta pada 15 Juli 2013. Ini untuk pertama kalinya saya menulis resensi buku. Saya banyak belajar dari blog milik seorang emak yang dianugerahi gelar sebagai Srikandi Inspiratif dalam ajang Srikandi Blogger yang diadakan oleh Kumpulan Emak-emak Blogger pada awal tahun 2013. Syarat dan ketentuan pengiriman naskah bisa diintip di blognya Haya Aliya Zaki.

Judul Buku : Backpacker in Love
Penulis : Gol A Gong & Tias Tatanka
Penerbit : Lintas Kata
Cetakan : I, 2013
Tebal Buku : 308 halaman

“Backpacker in Love juga dapat membuka wawasan bahwa kegiatan backpacking bukan hal negatif. Berbagai persoalan tak terduga yang ditemui di jalanan akan mengasah kemandirian dan jiwa sosial.”

*****

Laras, remaja SMA usia 17 tahun, berkarakter begitu berbeda dengan kebanyakan teman seusia. Terlahir sebagai bagian dari keluarga Keraton Solo yang berkelimpahan materi, dia lebih menyukai gaya hidup yang jauh dari kenyamanan. Dengan ransel dan sepeda motor, gadis itu memuaskan jiwa petualangannya hingga ke luar kota, meski kadang-kadang harus membolos.

Meski begitu, Laras tak pernah ketinggalan mengerjakan tugas-tugas pelajaran. “Tapi, lihatlah Larasati! Dia masih duduk di motor Mio-nya. Kedua matanya yang bening dihiasi bola hitam pekat menyaksikan teman-temannya di persimpangan jalan. Mereka ibarat semut berpencaran, mencari lubang-lubang kelas dengan berbagai ekspresi wajah” (hal 5).

Petualangan Laras menjadi begitu berwarna dengan adanya kisah cinta. Boni, teman sekelasnya, begitu cemburu karena menjadi pesaing terberat dalam merebut hati Candra. Laras sendiri tak sedikit pun menaruh hati pada Candra, meski pria ini begitu tergila-gila padanya. Panah-panah asmara Laras justru datang dari sosok gondrong bernama Darmanto, anak tukang sapu sekolah. “Sesekali Laras memergoki Darmanto menatapnya dengan penuh kasih. Hati Laras menciut” (hal 89).

Permasalahan semakin memanas ketika Laras memutuskan untuk menyusul papanya yang telah bercerai dengan mamanya ke Jakarta. Bertahun-tahun terpisah dengan papanya telah menciptakan ceruk kerinduan dalam jiwanya. Namun, Laras kehilangan motor kesayangannya sebelum sampai sampai di Jakarta. Musibah ini justru membuat Laras dan Darmanto semakin dekat.

Lalu bagaimana kisah Laras menghadapi setiap persoalan yang ditemuinya di jalanan? Seperti apa kekhawatiran mama Laras setiap kali dia pergi backpacking sendirian? Bagaimana tanggapan keluarga besar Keraton soal hubungan asmaranya dengan Darmanto, terlebih eyang Laras yang selalu memperhatikan bibit, bobot, dan bebet dalam perjodohan? Akankah Laras bertemu papanya di Jakarta?

Backpacker in Love akan membuat pembaca betah berlama-lama mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Meskipun bergenre teenlit, novel ini juga cocok dibaca kalangan dewasa. Setiap kisahnya akan membawa pembaca pada nostalgia masa remaja yang penuh warna dalam masa pencarian jati diri.

Maka, jangan heran, jika di sela-sela saat membaca Backpacker in Love, tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri sambil bergumam “dulu saya begini”. Mungkin ini alasan sampul dibuat berwarna hitam untuk menampilkan kesan dewasa.

Kisah-kisah Laras saat backpacking bisa menjadi contoh agar para remaja tak terbawa arus gaya hidup hedonis. Backpacker in Love juga dapat membuka wawasan bahwa kegiatan backpacking bukan hal negatif. Berbagai persoalan tak terduga yang ditemui di jalanan akan mengasah kemandirian dan jiwa sosial. Seperti saat Laras kehilangan sepeda motornya di Semarang, memutuskan bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran. Namun gajinya malah diberikan kepada temannya sesama tukang cuci piring yang bernasib lebih tidak beruntung dari Laras.

Karya ini sangat layak dibaca bukan hanya karena ceritanya yang menarik. Di dalamnya terdapat berbagai info dan tip saat backpacking. Hanya saja, masih ditemukan beberapa ketikan thypo yang lolos dari proses editing. Sisipan puisi-puisi pendek yang manis sebagai pembuka pada setiap bab mampu menutupi kekurangan kecil ini. “Kuhirup aroma rindu/Menderu sepanjang ilalang/Dan kerikil jalan/Adakah kutemui kamu/Meski sekadar mimpi di ujung malam?” (hal 82).

Diresensi Nurul Aslamiati, D2 Akuntansi LP3I Cilegon

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.