All about love, Featured, Sulawesi Selatan

Kita Adalah Starlight

Aku selalu merasa bahwa traveling adalah perjalanan untuk menemukan potongan puzzle hidup. Petualangan yang akhirnya membawaku pada perenungan, dan penemuan akan makna, atau jawab dari banyak tanya.

Pernah aku bertanya, “Tuhan, mengapa aku berjodoh dengan dia?” Sesuatu yang tak pernah benar-benar kupahami sampai di suatu hari dimana kami ikut dalam event Takabonerate Island Expedition.

Banyak diver sekaligus fotografer professional yang ikut dalam hajat Disbupar untuk promosi wisata Kepulauan Selayar itu. Dan aku berayukur bisa mengenal mereka.

Seperti padi yang makin merunduk karena isinya. Banyak dari mereka kukagumi karena sifatnya yang membumi. Mau menghabiskan banyak waktu untuk berbincang denganku yang siapa tah? Sampai mau juga mengajakku hunting foto galaksi bintang yang tak mudah.

Malam dini hari itu, kami rela berdingin-dingin tanpa jaket, diterpa angin laut, demi warna baju yang kontras di foto di tengah gelapnya malam. Tapi berpose adalah bagian paling menantang. Untuk merekam milky way dan kerlip ribuan bintang, kamera disetting long exposure 30 detik. Kami yang begitu ingin punya foto kenangan dengan latar galaksi bintang, harus rela bertelanjang kaki, membiarkannya terendam air laut, dan harus berpose diam, tak bergerak selama 30 detik, padahal sapuan ombak dan angin kencang seolah ingin menumbangkan kami.

Perjuangan itu berakhir ketika pagi menjelang, dan milky way telah menjauh dan tenggelam di balim garis laut. Tapi aku enggan pergi tidur. Melihat bagaimana foto kami diedit lebih menarik bagitu. Walau aku juga tak sepenuhnya mengerti apa yang mereka lakukan.

“Tambah kontras?”, “structure perlu tambah juga ngga?”, “bla bla bla…” begitu kira-kira yang fotografer dan editor diskusikan dalam bahasa Makassar saat proses edit foto. Diskusi yang perlahan menjadi suara-suara kabur karena aku teringat kisah manis saat benih cinta mulai tumbuh antara aku dan @tikojrahar

“Bang, lo tau nggak? Nama kita kalo digabung unik ya! Lo kan Kartiko, yang artinya bintang. Trus gue Nurul, artinya cahaya. Jadinya cahaya bintang dong ya!” Ujarku mengarang bebas, sambil berharap kode diterima dengan baik lalu dilamar. 😂

Tapi Tuhan memang Maha membolak-balikkan hati. Bertahun setelah karangan bebas berjudul cahaya bintang itu, kami menikah, yang sayangnya aku menjalani proses ijab qabul dengan hati gamang. Apa aku bisa menjalani hidup dengan dia? Kami kan banyak perbedaan? Tapi kalau bukan dia, siapa lagi yang mau denganku? 😆

Banyak pertanyaan yang kemudian membuatku sulit mencerna takdir. Walau pada akhirnya aku kembali pada satu kesimpulan, bahwa setiap apa yang terjadi di bumi pasti atas ijinNya. Termasuk pernikahanku, kan?

Lalu satu per satu pertanyaan itu terjawab. Lewat potongan puzzle yang kutemukan dalam setiap perjalanan. Dan galaksi bintang di Pulau Tinabo adalah puzzle kesekian yang kudapat. Kuberi nama ia puzzle starlight, yang menyadarkan bahwa aku dan Tikojrahar berjodoh, mungkin untuk bisa bersinar bersama-sama. Bahwa kita boleh saja memiliki banyak perbedaan sifat atau karakter, tetapi bukan alasan untuk berpisah sejak awal. Bahwa boleh saja dia yang plegmatis, terlihat lambat dan tanpa visi, tetapi ternyata adalah orang dengan banyak perhitungan dan penyeimbang untuk aku biasa tergesa-gesa dalam segala hal. Dan bahwa manusia lahir dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing, dan karenanya lah kita bisa bersama untuk saling melengkapi. Saling menguatkan untuk mencapai impian.

Tak usah sulit untuk melihat seperti apa buktinya. Hal paling sederhana saja seperti saat harus berpose demi foto dengan milky way. Tanpa Ojrahar yang merangkulku, mungkin aku tak cukup kuat berdiri sendirian.

😊

4 thoughts on “Kita Adalah Starlight

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.