Bali

Kesasar Asik di Bali

Sore itu, setelah memenuhi rasa penasaran akan Pantai Kuta yang terkenal itu, aku dan patjar memutuskan untuk segera pulang ke rumah Mba’ Wayan di Batubulan. Siang mulai melipat malam, tak ada mega-mega, matahari dan hampir seluruh langit yang menaungi Bali tertutup awan kelabu. Gerimis tipis mulai turun sore itu 12 Desember 2014.

Sebelum meninggalkan area parkir pantai Kuta
Sebelum meninggalkan area parkir pantai Kuta

Sepeda motor pinjaman mulai kami pacu, menyusuri di kawasan Kuta yang ramai. Café, resto, hotel, night club, dan jajaran toko souvenir semarak di sisi jalan dan menyita perhatian. Sesekali mataku berpaling pada layar hp dengan GPS yang setia memandu, terutama saat kami sampai di persimpangan jalan dan tak tau harus berbelok ke arah mana.

Dan, oh, gerimis itu perlahan namun pasti berganti nama menjadi hujan. Terpaksa kami berteduh di emperan toko, masih di kawasan Kuta. Hingga hari pun sah disebut malam.

Kekhawatiran segera saja hadir. Bagaimana ini? Mencari jalan pulang pasti akan lebih sulit saat malam hari. Tak akan mudah menemukan tanda yang sudah kami hafal tadi siang, saat perjalanan berangkat dari Batubulan ke Kuta. Hey, kan ada GPS! Ok, let’s go.

Begitu hujan mulai reda, meski masih tersisa sedikit rinainya, kami nekat saja melanjutkan perjalanan. Dan semua baik-baik saja. GPS sangat membantu perjalanan kami. Ia memberi tahu kapan harus belok dan kapan harus lurus saja saat kami bertemu persimpangan. Sampai akhirnya kami sampai di Jalan Gatot Subroto (atau biasa disbut jalan Gatsu).

Blep! Hapeku mati. Kepencet. Oh buoy…

Di Gatsu yang berpotongan dengan Jalan Trengguli ke arah kiri dan Jalan Sulatri ke arah kanan, kami berhenti. Mengingat-ingat, lurus saja menyusuri Gantsu, belok kanan atau ke kiri? Seingatku, sebelum hapeku mati, garis biru yang menjadi penunjuk jalan di GPS itu menujukkan kalau kami harus berbelok ke kiri, ke Jalan Trengguli. Lalu dengan yakin, aku bilang ke patjar; “Yuk, Yang, kita belok kiri.”

Setelah beberapa meter masuk Jalan Trengguli, dan hapeku kembali menyala, kubuka lagi aplikasi GPS. Masukan lokasi sekarang, dan masukan lokasi tujuan. Enter. Tarraaaa! Apa yang terjadi?  GPS mendeteksi kami salah jalan. Seharusnya lurus saja menyusuri Gatsu, jangan belok! Phew… 🙁

Gimana nih? Mau bilang ke patjar kalo salah jalan, takut dia marah. Masalahnya, dari tadi juga aku dan patjar udah ribet banget cari jalan. Sudah capek, gerimis-gerimisan, laper belom makan. Kata orang kan, kalo laper biasanya siapa pun bisa jadi galak. 😆

Kebanyakan mikir, dari pada nyasar tambah jauh. “Stop, bang. Stop!”, kutepuk pundak patjar dari belakang.

“Kenape?”

“Hehehe…kayaknya kita nyasar deh,” jawabku sambil memelas supaya dikasihani dan dia nggak marah.

Yang terjadi selanjutnya, hening. Sibuk dengan gadget masing-masing. Buka GPS, google maps, dan semua jenis aplikasi penunjuk jalan. Kalo aku sih, meski sok sibuk sama google maps, tapi pikiran mah kemana-mana. Takut dimarahin. 😀

“Yaudah, yok balik ke jalan yang tadi,” kata patjar. Aku nurut. Dalam hati aku terus menghibur diri, semoga dia nggak marah, karena kemanapun kita nyasar, aku rela asal selalu bersama-sama. 😆

Balik ke Gatsu. Aku iseng buka GPS lagi, dan mendapati si GPS menunjukkan seharusnya kita ke Jalan Trengguli. Capek deeeeeeeehhh! *tepok jidat Orlando Bloom*

“Bang, GPS ngaco nih. Berhenti disini dulu deh kayaknya,” ujarku lagi dengan lebih manja dibanding tadi. Si patjar diam. Berhenti.

Suasana Jalan Gatsu sangat sepi. Jajaran ruko semua tutup. Tak menemukan seorang pun yang bisa ditanyai. Terfikir untuk telepon Mba’ Wayan. Belum juga sempet nelpon, ada SMS masuk. Dari Mba’ Wayan, bertanya sudah sampai mana kami sekarang? Aku bilang saja kalo lagi nyasar di Gatsu.

Oh, Alhamdulillah… Mba’ Wayan langsung telepon dan memandu kami. Yippy!

Akhirnya sampai rumah dengan selamat. 😀

Apa yang terjadi sebenarnya?

Waktu di Kuta, untuk mendapat penunjuk arah, aku masukan lokasi awal; Pantai Kuta, dan tujuan Desa Batubulan.

Sementara saat di Gatsu, lokasi awal yang aku masukan di GPS adalah Gatsu, dan tujuan ke Terminal Batubulan (Terminal, bukan Desa).

Wajar saja, navigasinya jadi berbeda. Tapi sebenarnya, kedua-duanya tetap saja akan membawa kami sampai ke Batubulan. Hanya saja, lewat Jalan Trengguli memang lebih jauh.

Aku sih menyimpulkan, GPS ini nggak pinter-pinter amat deh. Eh, atau jangan-jangan aku yang nggak pinter yes?

Tips; Kalo nggak pinter pakai GPS yang juga nggak pinter-pinter amat itu, pastikan travelmatemu adalah orang yang super sabar. 😆

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.