Srombotan kuliner khas Bali

Kenangan Sate Lilit & Srombotan Dalam Seporsi Nasi Bali

Sate lilit & Srombotan menjadi menu pembuka penjelajahanku di Bali bersama @ojrahar, di penghujung tahun 2013 lalu. Memori tentang kulineran di Bali itu kembali mencuat dalam ingatan, ketika menemukan dua jenis makanan itu di Jakarta, saat kami menghadiri acara Netizen Vaganza 2015 di Smesco Indonesia tanggal 26 September.

Nasi campur kuliner khas bali
Nasi campur khas Bali

Aku dan @ojrahar sempat saling pandang ketika kami menemukan stand makanan khas Bali waktu itu.

“Ada sate lilit, tuh, Bang.” Ujarku memberi tahu. Dia hanya tersenyum, menunjukkan barisan giginyabyang tidak lagi utuh.

“Mau?” Tanyaku. Kulihat ia berfikir, dan sepertinya aku tau betul apa yang ia fikirkan. Dua tahun hidup bersama, membuatku mulai hafal banyak hal tentangnya, termasuk cara berfikirnya.

“Sate lilit kan udah pernah, coba yang lain aja!” Jawabnya kemudian. Perais seperti dugaanku. Kini saatnya aku yang berfikir dan memutuskan. Makan apa, ya, enaknya? Setelah gagal mengenyangkan perut dengan seporsi burrito ayam yang sudah habis kunakan sebelumnya.

“Mau coba nasi campur?” Ibu pedagang masakan khas Bali mencoba memberi rekomendasi. Aku mengiyakan.

Kebetulan, di sebelah stand kuliner khas Bali, ada stand es cendol. Aku tergoda untuk membeli segelas Es Cendol Durian. Sepertinya es censol durian akan sangat cocok untuk menjadi penutup makan siangku. Ya sudah, sekarang yuk capcus bahas beberapa kuliner khas Bali yang pernah kucicipi.

Sate Lilit

Sate lilit kuliner khas Bali
Sate lilit dengan ketupat & srombotan

Sate lilit adalah kuliner khas Balinyang terbuat dari ikan. Namun meskipun namanya sate, jangan bayangkan sate lilit ini seperti sate yang biasanya ya. Karena cara pembuatannya tidak seperti sate yang biasa kita tau. Bahan sate, yaitu ikan, akan digiling terlebih dahulu, dibumbui, kemudian dililitkan atau dilekatkan pada batang serai dan dibakar di atas bara.

Jadi tidak seperti sate kambing atau ayam yang dipotong kecil-kecil dagingnya. Penyajiannya juga berbeda. Tidak menggunakan sambal kacang atau sambal kecap seperti sate biasanya, karena satenya sendiri sudah memiliki rasa gurih atau rasa pedas karena daging ikannya sudah melebur dengan bumbu saat proses pembuatannya.

Aromanya yang khas makanan panggang, akan menjadi lebih unik jika batang serai yang digunakan sebagai tusuk sate. Sayangnya, sate lilit yang kucicipi ketika dibali menggunakan tusuk sate biasa yang terbuat dari bambu.

Srombotan

Srombotan kuliner khas Bali
Srombotan

Masih dari Terminal Batubulan yang berubah menjadi pasar malam usai senja berlalu. Srombotan adalah kuliner khas Bali yang kunikmati selain sate lilit waktu itu. Sekilas jika dilihat, srombotan mirip dengan urap yang terkenal di tanah Jawa. Tetapi ternyata srombotan ini berbeda, mulai dari bumbu, cara pengolahan, serta rasanya.

Srombotan adalah kuliner khas Bali yang berasal dari Kabupaten Klungkung, yang merupakan kabupaten terkecil di Bali. Srombotan terbuat dari aneka sayuran yang direbus setengah matang, seperti pakis, kubis, pare, kangkung, kacang panjang, terong dan toge. Aneka sayuran tersebut kemudian disiram dengan bumbu dan diberi taburan kacang goreng serta kedelai rebus. Bumbunya sendiri ada dua macam, yaitu bumbu sambal kelapa dan sambal kacang.

Saat dimakan, sayurannya masih terasa renyah. Dipadu dengan dua bumbu yang pedas dan gurih, srombotan sangat cocok dimakan bersama nasi hangat. Nyam nyam!

Nasi Campur

Menurutku, nasi campur yang kubeli di stand kuliner khas Bali di halaman SME Tower Smesco Indonesia itu,  yang unik adalah srombotan dan ayam suwirnya. Selebihnya sama saja, seperti nasi putih, tumis bihun, dan oreg tempe.

Srombotannya itu, lagi-lagi membawaku bernostalgia masa hanimun-hanimunan di Bali. Juga mengingatkanku pada sahabatku, seorang perempuan tangguh yang menyediakan rumahnya di desa Batubulan, untuk kami tumpangi selama di Bali.

Setelah menandaskan seporsi nasi campur khas Bali, aku menikmati kesegeranan es cendol durian, sembari terus teringat kebaikan-kebaikannya selama menampung kami di rumahnya yang serupa perpustakaan. Tak salah jika rumahnya kusebut perpustakaan, karena banyaknya koleksi buku miliknya dan suami, yang tersusun rapi di rak-rak buku di setiap ruangan di rumahnya, di ruang tamu, di kamar, bahkan di ruang tengah yang menyatu dengan dapur. Salutnya lagi, semua rak buku itu buatan suaminya sendiri.

Masih kuingat juga saat setiap pagi ia melakukan ritual doa, dengan sesaji dari aneka bunga yang ia letakan di setiap sudut rumah. Ah, selain adat dan budayanya yang memesona, sahabat baik juga menjadi alasanku ingin kembali mengunjungi Pulau Dewata.

11 thoughts on “Kenangan Sate Lilit & Srombotan Dalam Seporsi Nasi Bali”

Leave a Reply