Keliling Surabaya Gratis Dengan Bus Surabaya Heritage Track

Sudah pernah dengar tentang fasilitas bus gratis untuk keliling Surabaya gratis? Fasilitas ini disediakan oleh House Of Sampoerna dengan nama Surabaya Heritage Track. Dalam sehari ada sebanyak 3 kali berangkat dari House Of Sampoerna untuk hop on dan hop off (HOHO) di beberapa tempat bersejarah di Surabaya. Durasi waktunya sekitar 1.5 sampai 2 jam, dan trip HOHO akan berakhir kembali di museum House Of Sampoerna.

Surabaya Heritage Track

Bulan November yang lalu, beruntung aku bisa merasakan keliling Surabaya gratis dengan bus HOHO tersebut. Aku bilang merasa beruntung karena dulu, saat pertama kali ke Surabaya pada tahun 2014, aku ngga kebagian seat saat mendaftar. Iya, waktu itu aku kesiangan datang. Wajar lah, peminatnya memang banyak untuk ikut trip gratis dengan bus HOHO ini.

Jadi ya sangat disarankan datang ke museum House Of Sampoerna saat masih pagi supaya kebagian seat kalau mau naik bis Surabaya Heritage Track. Daftarnya di Cafe House Of Sampoerna, yang gedungnya tepat di sebelah museum House Of Sampoerna.

Selama perjalanan, ada pemandu yang membantu menjelaskan sejarah apa saja dari tempat atau gedung-gedung yang dilewati. Guide-nya dua bahasa lho, yaitu bahasa Inggris & Indonesia. Ini karena ada banyak juga wisatawan asing yang tertarik untuk ikut menyimak tentang sejarah kota perjuangan, Surabaya.

Mengenai tempat apa saja yang bakal dikunjungi selama trip, tujuannya setiap berbeda-beda untuk setiap jadwal. Jadwalnya bisa dilihat di gambar berikut ini.

Jadual Bus Surabaya Heritage Track

Kebetulan waktu itu hari Jum’at saat aku ke sana. Aku mengambil jadwal trip jam 1 siang. Jika menurut jawal di atas, saat trip bus HOHO akan berhenti di tiga tempat yaitu Tugu Pahlawan, GNI, dan Gedung PTPN XI. Tetapi mungkin karena keterbatasan waktu, bus hanya mengunjungi 2 tempat saja, yaitu Tugu Pahlawan dan Gedung PTPN XI.

Tugu Pahlawan

Jika tidak mengikuti trip singkat Surabaya Heritage Track, mungkin ceritanya akan sama seperti kunjunganku ke Tugu Pahlawan pada tahun 2014 lalu. Buta! Itu kesanku. Tak banyak informasi yang kudapat mengenai sejarah Surabaya. Aku hanya menikmati apa yang bisa dilihat, relief, replika reruntuhan gedung dan patung proklamator, tugu pahlawan berbentuk paku terbalik, serta Museum 10 November.

Tugu Pahlawan Surabaya

Berbeda ceritanya saat mengunjungi Tugu Pahlawan bersama rombongan Surabaya Heritage Track. Guide menjelaskan berbagai fakta sejarah dari apa yang digambarkan pada relief-relief di permukaan dinding pagar, serta cerita menarik dari apa saja yang ada di sana. Cerita lebih lengkap tentang Tugu Pahlawan sudah kutulis di blog inj dengan judul: Foto-foto dari Tugu Pahlawan.

Selama di Tugu Pahlawan, aku, Ojrahar dan anak-anak sempat lupa waktu. Kami mulai memisahkan diri setelah guide merasa cukup memberikan penjelasan sejarah kota Surabaya, dan memberi waktu bebas kepada kami. Waktu yang diberikan hanya 10 menit saja, tetapi sepertinya aku menggunakan lebih banyak waktu. Molor! Walhasil, guide menyusul kami yang tengah asik foto-foto di dekat kolam teratai. Sementara para wisatawan lain sudah duduk manis dan menunggu di dalam bus. Duh, malu!

Gedung PTPN XI

Pemberhentian kedua setelah Tugu Pahlawan adalah Gedung PTPN XI. Gedung PTPN XI atau PT. Perkebunan Nusantara XI merupakan salah satu bangunan tua dan bersejarah di kota Surabaya. Sayangnya selama guide menjelaskan tentang gedung ini dan sejarahnya, aku udah ngga konsen nyimak. Pundak udah pegel gendong Abang Ranu, plus ditimpa panas matahari yang ngga kira-kira.

PTPN Surabaya

Sekelebatan aja terdengar guide bilang, gedung ini dibuat oleh pemerintah Belanda yang materialnya diangkut langsung dari Netherland/Belanda sana. Pembangunannya memakan waktu yang sangat lama, lebih dari 10 tahun. Ngga cuma material batu aja yang asli dari Netherland, tapi juga material lain seperti handle pintu, dll.

Gedungnya dibangun dengan simetris dan terbagi menjadi 3 bagian. Tengah, dan bersayap di kanan kiri. Setiap sayapnya ini dibangun tepisah namun menempel dengan bangunan utama yang ditengah. Maksud dan tujuannya untuk menghindari gedung hancur atau runtuh jika terjadi gempa. Amazing lah. Pokoknya yang terlihat di mataku, gedung PTPN XI ini bagus. Udah gitu aja.

Lanjut Jalan

Selain itu, sepanjang perjalanan, di dalam bus, guide juga terus bercerita sambil menunjukkan kepada wisatawan, tentang gedung-gedung bersejarah yang dilewati. Juga memberi tahu obyek wisata lain yang bisa dikunjungi oleh wisatawan dengan berjalan kaki. Jika mau.

IMG-20160127-WA0027

Dan gara-gara cerita guide tersebut, aku jadi ingin lanjut keliling kota dengan berjalan kaki, usai trip Surabaya Heritage Track berakhir. Untungnya, beberapa orang dalam rombongan trip gratis dengan bus HOHO juga ada yang ingin lanjut jalan. Akhirnya kami sepakat untuk jalan bareng. Ada Adam, turis asal Cheko. Ada si cantik dari Netherland. Dan ada sepasang suami istri dari Singapura.

Dari Museum House of Sampoerna kami jalan kaki ke Jembatan Merah, lanjut menyusuri Jl. Kembang Jepun, sampai di sebuah perempatan yang menghubungkan Jl. Slompretan dan Jl. Songoyudan. Di perempanatan itu, Adam memisahkan diri. Dia ingin ke Kampung Arab, sementara sebagian besar kami ingin ke daerah Pecinan. Akhirnya kami harus berpisah. Sedih juga sebenarnya, karena Adam adalah satu-satunya bule yang ngobrolnya nyambung denganku, juga Ojrahar. Ya iyalah, Adam fasih bahasa Indonesia. Haha.

IMG-20160127-WA0026

Dan sepanjang perjalanan, aku & Ojrahar ngobrol & jalan beriringan dengan Adam. Kami bertiga, eh berempat dengan Abang Ranu ketinggalan dinbelakang. Sementara Mamas & Kakak udah duluan jauh dindepan bareng sepasang suami istri dari Singapura & cewek cantik dari Netherland itu. Asiknya si Mamas & Kakak jalan bareng Singaporean itu jadi ngga kepanasan karena mereka bawa payung.

Well, mereka yang udah duluan akhirnya menunggu kami di perempatan itu, dan akhirnya pisahan. Adam berbelok ke kiri menyusuri Jl. Songoyudan untuk menuju Kampung Arab. Sementara kami yang masih berombongan, mengambil Jl. Slompretan untuk kemudian menemukan Hok An Kiong Chinese Temple di Jalan Coklat.

Pijit Kaki Berjamaah

Ada cerita apa dari Klenteng Hok An Kiong? Sebelas duabelas sama PTPN XI. Atau malah lebih parah karena tanpa guide. Yang jelas, di Klenteng aku udah super lelah. Kaki pegeeeel setelah jalan kaki jauh, dan gendong Abang Ranu yang cuek aja tidur. Sampak di Klenteng baru dia bangun dan minta nyusu.

Klenteng Hok An Kiong

“I think somebody is getting hungry,” kata si cantik dari Netherland, ketika ia melihat Abang Ranu gelisah ngusek-ngusek dada emaknya.

Aku cuma nyengir bloon ngga tau mau bilang apa lagi, sambil sibuk ambil posisi nyusuin bayi. Begitu juga yang lain. Setelah ambil beberapa foto, semua cuma bisa duduk sambil pijit kaki masing-masing secara berjamaah. Kulihat sepasang Singaporean sempat sembahyang di depan altar. Ngga lama setelah pijit-pijit, kami berunding mau kemana setelah ini? Dan kami sepakat berpisah. Aku sekeluarga mau ke BonBin, sementara yang lain mau nge-mall karena bapak-bapak dari Singapura iti sepatunya jebol, jadi harus beli sepatu baru.

Duh, udah banyak aja nulisnya. Lanjut lagi nanti ya soal cerita lanjutan jalan kaki lagi sampai gempor, dari klenteng balik ke Jembatan Merah, lalu naik angkot ke BonBin dan terdampar di warung pinggir jalan untuk makan mi tektek. See ya!

17 thoughts on “Keliling Surabaya Gratis Dengan Bus Surabaya Heritage Track”

  1. wah, perdana nih mampir di blog emak Noe yg ternyata n=buntutnya udah 3 aja, keren keren! Postingan ini aku saved buat referensi. Pengen naek bus ini ga sempet2 😀

  2. lagi search rute perjalanan ke house of sampoerna, eh ketemu tulisanmu ini, Noe :)\
    emang dashyatlah emak yang satu ini. mau dan bisa gendong2 anak jalan jauh.. superb!

  3. Ini menarik. Kota Surabaya memberikan fasilitas yang membantu kalangan traveler dengan dana terbatas seperti saya, hihihi.

    Di Bandung ada bus wisata juga, tapi cuma muter-muter tanpa ada guide, itu pun sekarang harus reserve dulu dan ada minimal kuota. Padahal yg biasanya naik bus wisata gratis kan kalangan backpacker yang biasanya jalan sendiri atau kelompok kecil, hehehe.

Leave a Reply