NOE's Mind

Ke Indonesia Aku ‘kan Kembali

Indonesia ini negara kepulauan dengan 17.000 pulau lebih yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. “Tamatin dulu keliling Indonesia, baru deh ke Luar Negeri”, begitu kata beberapa orang teman mencoba mencibirku sejak aku mulai punya impian bisa keliling dunia.

Backpacking With children

Entahlah, waktu itu tiga tahun yang lalu, ketika aku memberanikan diri membeli tiket pesawat dan mengajak kedua anakku jalan-jalan ke Singapura dan Malaysia, yang ada di fikiranku hanya karena ingin mewujudkan mimpi mereka untuk bisa naik pesawat. Dan sebagai keluarga dengan kondisi ekonomi menengah kebawah seperti kami, bisa jalan-jalan ke luar negeri itu merupakan suatu yang sangat mewah.

Awalnua memang, ada keinginan untuk terlihat keren. Seperti orang-orang kaya yang bisa dengan leluasa kesana kemari tanpa memikirkan biaya. Tapi apa yang kualami selama berada di negara orang justru mengubah cara berfikir dan cara pandangku. Ternyata traveling itu memberi nilai lebih dari sekedar refreshing atau senang-senang. Kejadian demi kejadian, kesulitan demi kesulitan, bahkan keindahan yang tersaji di negara orang justru membuat aku rindu dan kembali jatuh cinta pada Indonesia.

Pernah suatu keika di Phnom Penh, saat aku sedang menikmati makan malam di restoran halal milik warga negara Malaysia, si pemilik resto menyapa kami dan kami pun berbincang. Saat aku mengatakan bahwa aku datang dari Indonesia, dia bilang, dia tak senang berpergian di Indonesia. Katanya, di Indonesia, khususnya Jakarta, banyak preman dan copet.

Ya, yang di katakan ibu pemilik resto halal di Phnom Penh – Cambodia itu bisa jadi benar. Tapi, tidak hanya Indonesia kan yang banyak preman dan copetnya? Buktinya, setahun sebelum aku ke Phnom Penh dan bertemu ibu ini, aku sempat kecopetan hape di Singapura. Mirisnya, sehari kemudian setelah dari Phnom Penh aku ke Ho Chi Minh City di Vietnam, aku kembali mengalami kejadian itu. Iya, kecopetan lagi.

Biar kusimpulkan, mengutip kata Bang Napi, bahwa kejahatan tidak hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena adanya kesempatan. Jadi, tak perlu berkecil hati tinggal di Indonesia yang katanya banyak copetnya, kenyataannya di negara lain juga banyak kok.

Nah, dari pada terus membicarakan hal negatif tentang Indonesia, sudah saatnya kita bicara soal kelebihannya. Semampu kita, sekuat kita, dan dengan cara yang kita bisa. Biar dunia tahu bahwa tanah kita ini tanah surga.

Salah satu hal yang aku suka ketika berada di negara orang, adalah ketika aku bertemu dengan turis atau traveler lain dari berbagai negara di dunia. Atau saat berbincang dengan penduduk lokal. Contoh; ketika aku di Vietnam pada bulan April 2014 lalu, aku mengikuti paket tour Sungai Mekong. Di sana aku berkenalan dengan beberapa turis Eropa, ada yang dari Netherland, Jerman, ada juga yang dari London.

Teman baru dari London mencicipi buah naga

Di sebuah pulau, saat agenda acara mencicipi buah-buahan tropis Vietnam, dua orang turis cantik dari London begitu terheran-heran dengan aneka buah yang tersaji di meja. Ada kelengkeng, jambu biji, mangga, buah naga, juga nanas dan pepaya. Ada keraguan terlihat di wajah mereka ketika hendak mencicipinya. Kujelaskan saja, semua buah-buahan ini ada juga di Indonesia, rasanya enak, dan mereka tak perlu takut mencoba. Kukatakan juga pada mereka, datang lah ke Indonesia, nanti akan kukenalkan pada lebih banyak lagi buah-buahan tropis yang tidak hanya enak, namun memiliki banyak khasiat dan manfaat kesehatan.

Menyusuri Mekong Delta sambil promosi pariwisata Indonesia

Atau ketika aku sedang menyusuri Sungai Mekong dengan perahu sampan. Kebetulan aku satu perahu dengan turis dari Netherland. Terbaca dari wajahnya bahwa ia begitu mengagumi keindahan Mekong Delta. Ini saatnya unjuk gigi, fikirku. Aku bercerita, bahwa Indonesia juga punya sungai semacam Mekong Delta yang sangat indah. Bahkan lebih indah, menurutku.

Setelah turun dari sampan, aku tunjukkan foto-foto hasil perjalananku di Rammang-rammang, Sulawesi Selatan. Sebuah sungai yang tenang, diapit barisan pohon palm. Di sekitar sungai, berdiri jajaran pegunungan karst dengan gagahnya. Pohon-pohon tumbuh subur. Di bawah naungan langit yang biru.

Siapa tak terpesona? And yeah! Teman baruku dari Netherland memuji keindahan itu, dan berkata bahwa nanti ia akan mengunjungi Indonesia untuk melihat sendiri keindahannya.

Foto
Rammang-Rammang, Sulawesi Selatan

Namun yang lebih membuat aku merasa bangga adalah, ketika tiba saatnya makan siang. Tour guide kami ikut duduk dalam satu meja denganku. Kami berbincang banyak hal. Awalnya ia bertanya, apakah kami menikmati perjalanan kami? Kujawab, tentu saja! Kusampaikan rasa kagumku, bahwa Vietnam sangat pandai dalam mengemas potensi wisatanya. Sehingga menarik banyak wisatawan untuk datang. Dan aku melihat senyum bahagia di wajahnya.

Lalu ketika ia bertanya dari mana asalku, dia terkejut mengetahui aku datang dari Indonesia. Menurutnya, Indonesia punya banyak sekali atau bahkan punya semua yang dicari oleh pecinta traveling. Pantai, gunung, air terjun, candi, atau apa pun. Ah, aku jadi malu mendengar pujiannya.

Ia juga bertanya, apa yang sudah membawaku sampai ke Vietnam? Kukemukakan alasanku. Selain karena hobi traveling dan bisa sekalian mempromosikan pariwisata Indonesia pada setiap orang yang kutemui, aku kini memiliki alasan mengapa aku memilih negara lain sebagai tujuan wisata. Aku yakin, jauh dalam lubuk hatiku ada jiwa nasionalisme, ada cinta untuk satu negara di mana alu dilahirkan. Cinta untuk Indonesia. Hanya saja, kadang aku lupa dan tidak menyadarinya.

Mungkin aku terlalu sibuk di tengah hingar bingar berita negatif tentang Indonesia. Tentang kasus korupsi, tentang isu terorisme, berita kriminal dan pecabulan terhadap anak-anak, gosip artis, atau apa pun yang secara tidak kusadari telah menyita perhatianku. Belum lagi permasalahan hidup yang sampai kapan pun tak akan usai jika dipikirkan, mulai dari pekerjaan, keluarga atau pesahabatan yang kadang bisa saja timbul konflik.

Cinta pada tanah air lalu tertimbun oleh berbagai persoalan itu.

Cinta Indonesia

Namun pada akhirnya, lagi-lagi aku harus mengakui, bahwa cinta memang membutuhkan jarak, untuk memberi ruang pada rindu.
Ke Indonesia juga aku akan kembali. Di mana masjid tak susah ditemui jika ingin beribadah sebagai seorang muslim, di mana makanan halal mudah ditemukan di setiap jengkal tanah yang kupijak, di mana ada keluarga dan sahabat yang selalu ada untuk saling mendukung dan menguatkan dalam hidup.
Indonesia, di mana tongkat kayu dan batu jadi tanaman, dan menghasilkan makanan & minuman sebagai sumber kehidupan.
Terima kasih ya Allah, Kau takdirkan aku terlahir di tanah surga ini.

***

16 thoughts on “Ke Indonesia Aku ‘kan Kembali

    1. Iyo mba Li, itu sungai ngangenin bgt. Aku ngerasa beruntuung bgt bs sampe sana.

      Hihi, turis yg dr London itu ya, bening licin memang :v

  1. Orang yang liburan ke Luar negeri bukan berarti tidak cinta Indonesia.
    Sepakat mba’ noe, setidaknya orang yang ke luar negeri itu bisa menjadi duta promosi.

    Pernah ada yang nanyain ke saya juga, tentang nama blog #Indonesianholic
    “Kamu cinta indonesia banget yah, apa tidak ada keinginan ke Luar negeri?”
    Spontan saya menjawab, Saya juga mau ke Luar Negeri apalagi kalau gratis.

  2. Yeaah….tosss ah Mak Noe. Niatku sih memang kepengen keliling Asia dan dunia tapi keinginan keliling Indonesia jauh lebih besar dibanding keduanya 😀 *Doain ya semoga niat kita kesampaian.

    1. Aamiim ya mba Lina, Hehe… Kalo aku gimana kesempatan aja mak, ngga mau maksain yg mana yg harus done duluan. Klo tiket murah lg destinasi LN, ya LN dlu, klo yg lg murah buat domestik, ya hayuk.. Apalagi kalo gratisan :v

Leave a Reply to cputriarty Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.