Karapan Sapi Madura – Dari Tradisi Budaya Hingga Gengsi Sosial

Kalau bicara karapan sapi, sudah pasti otak langsung nyambungnya ke Madura. Yap, hampir sebagian besar masyarakat pasti sudah mengetahui tradisi karapan sapi milik warga Madura ini. Tradisi yang digelar setiap tahun ini, ternyata sudah ada sejak ratusan tahun silam dan kini menjadi ciri khas budaya setempat. Jadi ngga heran kalo banyak wisatawan domestik hingga mancanegara yang sengaja datang ke pulau penghasil garam ini.

Jembatan Suramadu (foto: Andi)

Bagi wisatawan yang berasal dari Surabaya, mungkin ngga akan kerepotan untuk berkunjung ke Pulau Madura. Apalagi sejak diresmikannya Jembatan Suramadu, jarak yang ditempuh menjadi semakin dekat, hanya sekitar 15 menit saja. Sedangkan sebelum ada jembatan terpanjang di Asia Tenggara ini, untuk menuju Madura harus melintasi Selat Madura sejauh 5 km atau menempuh waktu selama satu jam menggunakan kapal feri.

Lalu bagaimana bagi yang berasal dari luar Pulau Jawa? Transportasi pesawat terbang bisa menjadi pilihan utama. Sekarang tak perlu repot mencari tiket pesawat, karena sistem pemesanannya telah dibuat sedemikian mudah oleh pihak maskapai. Maskapai nasional seperti Lion Air, Citilink, Sriwijaya atau Garuda Indonesia siap mengantar konsumennya setiap saat. Terlebih untuk maskapai premium Garuda Indonesia yang lebih menawarkan kemudahan dan kenyamanan dalam pemesanan tiketnya melalui sistem Garuda Indonesia booking yang telah banyak menjadi rujukan konsumennya.

Bandara Internasional Juanda, Surabaya tentu menjadi pintu gerbang utama jika menggunakan pesawat untuk ke Madura. Dari kota pahlawan itu, perjalanan bisa dilanjutkan via Jembatan Suramadu menuju Pulau Madura yang jaraknya semakin dekat. Selama perjalanan itu, pemandangan cantik lautan dibawahnya membuat pikiran menjadi tenang.

Karapan Sapi

Tentunya, perjalanan cukup panjang bagi wisatawan yang berasal dari luar Pulau Jawa akan terbayar lunas saat sampai di Pulau Madura. Apalagi saat bisa berinteraksi langsung dengan penduduk setempat dan menyaksikan lomba karapan sapi yang telah termasyur hingga mata dunia.

Di Pulau Madura, karapan sapi sendiri dijadikan ajang perlombaan bertingkat yang dimulai dari desa menuju kecamatan dan berakhir di tingkat kabupaten. Untuk bisa sampai di tingkat kabupaten bukan perkara mudah bagi pemilik sapi. Tak jarang, para pemilik hewan penghasil susu ini, memberikan perawatan ekstra bagi sapi mereka guna memenangkan perlombaan.

Dari segi makanan saja, sapi-sapi tersebut diberikan asupan gizi yang teratur seperti pemberian belasan telur ayam setiap harinya. Sementara itu, dari sisi perawatannya, kandang sapi sendiri harus steril dari berbagai kotoran agar tak mengundang penyakit. Termasuk juga memandikan setiap hari agar terjaga kesehatannya. Bahkan tak jarang pula, ada pemilik yang memberikannya perapian pada malam hari guna memberikan kehangatan suhu udara sekaligus melindungi sapi dari gangguan binatang seperti ularatau  nyamuk.

Puncaknya, jika mendekati hari perlombaan karapan sapi tiba, asupan gizi yang diberikan akan di tingkatkan hingga melakukan cek kesehatan sapi oleh dokter hewan. Hal tersebut dilakukan agar kondisi sapi semakin fit sehingga dapat berlari dengan kencang dan memenangkan perlombaan.

Dari Tradisi Budaya Hingga Gengsi Sosial

Sudah menjad hal yang wajar, jika sapi yang memenangkan perlombaan akan menjadi primadona diantara sapi-sapi lainnya. Hal tersebut tentunya berpengaruh pada harga sapi yang melambung tinggi karena titel juara yang disandang.Tak hanya terjadi pada sapi, hal ini juga berlaku kepada sang pemiliknya. Dalam kondisi ini, gengsi sosial seseorang akan terangkat karena namanya akan menjadi harum di seantero Madura. Jika diibaratkan, memenangkan perlombaan karapan sapi ibarat mendapat gelar kehormatan dari seorang raja.

Gelar yang dimenangkan tersebut lebih penting ketimbang hadiah tak seberapa yang diterima para pemenang. Kondisi inilah, membuktikan perlombaan karapan sapi yang pada awalnya menjadi simbol budaya masyarakat Madura, kini maknanya telah berubah menjadi gengsi sosial. Namun begitu, apa yang telah terjadi diharapkan tradisi ini tetap ada dan bertahan sebagai jati diri serta identitas lokal warga setempat.

18 thoughts on “Karapan Sapi Madura – Dari Tradisi Budaya Hingga Gengsi Sosial”

    1. Iyaa, hal negative memang ada dimana-mana, bahkan luar negeri sekalipun kok. Tapi Indonesia, kalo dibandingin sama keindahannya dari banyak sisi, udah pasti jawaraaaa.

  1. Pengen pulang huhuhuhu kangen kampung huhuhu…
    Disini susah g ada yg bisa bahasa madura huhu…

    Aku sayang banget sama madura mak…cuma liat karapan sapi aku kasian 🙁

    Jadi pengen pesen tiket pulang :”)

    1. Ayo ayo, pesen tiket di traveloka, tanpa biaya ini ituu 😉

      Btw, amu br tau dikau org madura, tak kiro suroboyo ae rek.

  2. Waktu ke Madura bulan September 2014, beruntung banget bisa lihat semifinal lomba Karapan Sapi Piala Presiden.
    Beruntung juga bisa lihat dari jarak dekat (berkat teman-teman blogger Plat Madura sih)

  3. Seperti dimana-mana, pemilik hewan yg memenangkan lomba akan mendapat reward sosial khusus ya Mbak Noe..Bagusnya lagi event karapan sapi ini juga menghidupkan pariwisata 🙂

    1. Iyq, ngga cuma hewan ya, jaman skrg apa2 yg lg trend jg dilombakan. Kayak bunga, sampe ke batu. Tp bedanya kalo karapan sapi kan udh melekat dg bidaya, jd bnr2 menarik wisatawan. 😉

Leave a Reply