Curcol

Kangen Backpacking with Children

Menulis ini dengan perasaan campur aduk, khas emak-emak yang sentimentil. Gampang nangis. Cengeng. Tapi, mungkin itulah obat paling mujarab buat perempuan. Air mata yang keluar bisa sedikit memberi ruang di rongga dada supaya bisa lebih  banyak terisi oksigen lalu terciptalah perasaan lega. Ya, seenggaknya buatku pribadi sih. Karena buat sebagian yang lain air mata itu dianggap kelemahan.

Jadi single parent itu berat. Yes I know. Aku sudah menjalaninya selama lebih dari 3 tahun. ah ini pengakuan yang bisa saja jadi boomerang. Salah sendiri memilih jalan ini. Tapi sudahlah! No point to talk about it now. As much as I know myself, there is always no regrets.

However, aku sadar aku bukan wonder woman. Aku tetap saja butuh laki-laki. Bukan sekedar untuk berbagi kasih di peraduan, tapi juga sebagai pengisi figur ayah untuk anak-anak. Banyak hal yang harus mereka pelajari untuk menjadi laki-laki, dari seorang laki-laki, bukan sekedar dari kata-kata ibunya bahwa lelaki harus a b c d… So, sometime this Long Distance Marriage is killing me softly.

Aku, sepertinya aku sedang diserang mahluk bernama stress. Ah! Manusiawi memang, tapi seharusnya aku bisa lebih kuat, tidak selabil ini. Tidak setemperamen ini. Karena anak-anak pasti terkena dampak negatifnya juga. Sudah kubilang, aku bukan ibu yang baik. Aku masih sering marah-marah jika kecewa karena mendapati sesuatu yang tak sesuai ekspektasiku. Astaghfirullah…

Aku jadi kangen backpacking sama Daffa dan Abyan. Ke tempat yang jauh, jauh sekali dari rumah. Dimana tak ada wajah-wajah yang kukenali selain 2 malaikat itu. Sulit digambarkan, bagaimana setiap detik kami menghabiskan waktu adalah saat-saat paling berharga dalam hidup. Saat penebusan segala salah terhadap anak-anakku.

I’m not perfect. Tears drop…

IMG_20140221_2

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.