Tips Traveling

Jika Tiket Murah Dihapus

Beberapa hari sudah berlalu sejak beredarnya berita bahwa Bapak Mentri Perhubungan menyatakan wacana hendak menghapus tiket murah. Jujur, aku ngga kaget sama sekali dengan berita ini. Mungkin sudah terbiasa dan mulai mengenal Pak Jonan dari reaksi-reaksinya menanggapi kecelakaan pesawat Air Asia. Mulai dari pernyataan bahwa pesawat QZ8501 itu terbang ilegal lah, isu pilot menggunakan narkoba, sampai pembekuan ijin terbang Air Asia untuk rute Surabaya – Singapura. Padahal penyidikan saja belum selesai.

air asia

Tetapi aku tak hendak berkomentar soal itu. Sudah terlalu banyak forum dan media yang ramai-ramai membahas dunia penerbangan dengan memberi tema yang hampir seragam. Karut marut dunia penerbangan, katanya. Terakhir, semalam di sebuah stasiun televisi, sekilas lalu aku juga sempat melihat sebuah acara yang bisa dibilang debat, membahas soal tiket murah.

Aku tidak menonton acara itu dari awal sampai akhir. Hanya pada bagian ketika moderator bertanya, sektor biaya apa saja yang ditekan sehingga maskapai bisa menjual tiket dengan harga murah.

Nara sumber yang seorang pelaku bisnis penerbangan Low Cost Carrier, menjelaskan bahwa urutan pertama sampai ketiga yang diutamakan adalah safety, safety, dan safety. Karena tidak mungkin pesawat diijinkan terbang oleh otoritas bandara jika tidak memenuhi syarat yang salah satunya adalah safety.

Ditengah perbincangan itu juga ditampilkam dalam layar lebar, tabel perbandingan antara maskapai budget dan regular. Dari sini baru aku faham tentang perbedaannya sehingga terjawab mengapa maskapai budget bisa menjual tiket dengan murah.

Sudah mencoba browsing untuk mencari tabel perbandingan tersebut untuk ditampilkan disini, sayangnya aku tidak berhasil menemukan. Tetapi aku masih ingat beberpa poin penting sbb:

  • Pesawat yg digunakan maskapai Low Cost Carrier biasanya seragam, sedangkan maskapai reguler biasanya bervariasi. Keseragaman pesawat yang digunakan ini untuk menghemat biaya maintenance dan biaya training teknisi. Jika pesawat yang dimiliki sebuah maskai berbeda-beda jenis, sebuah maskapai harus menyediakan teknisi dengan keahlian yang sesuai jenis-jenis pesawatnya.
  • Jumlah kursi pesawat di maskapai Low Cost Carrier lebih banyak dibanding dalam satu pesawat reguler dengan tipe pesawat yang sama. So, Low Cost Carrier bisa mengangkut lebih banyak penumpang.
  • Tiket maskapai Low Cost Carrier biasanya dijual online untuk memangkas biaya fee untuk agen, sedangkan maskapai regular banyak menjual tiketnya melalui agen.
  • Terminal yang digunakan maskapai Low Cost Carrier biasanya kecil dan sederhana, sedangkan maskapai regular menggunakan terminal yang relative besar dan mewah, dilengkapi lounge dan fasilitas lainnya.
  • Waktu tunggu untuk terbang kembali oleh maskapai Low Cost Carrier adalah 25 menit, sedangkan maskapai regular 45 menit.

Nah, pada point terakhir itu ditanggapi serius oleh nara sumber yang seorang kapten senior. Menurutnya, pilot membutuhkan waktu beristirahat lebih dari 25 menit sebelum terbang kembali. Ini penting untuk menghindari stress, serta agar stamina fit dalam menjalankan tugas.

Air Asia 3

Ya, begitulah. Aku hanya sekedar merangkum dari apa yang kulihat semalam. Tak ada kapasitasku untuk menanggapi karena memang aku tak punya pengetahuan yang cukup untuk itu. Harapanku hanya, dunia penerbangan Indonesia yang kini dicap karut marut bisa membaik karena nyawa manusia adalah hal yang sangat berharga. Terlepas bahwa takdir kematian memang sudah ada yang mengatur.

Karut marut yang kumaksud diatas mungkin lebih besar lagi cakupannya dari apa yang aku ketahui, yang mungkin hanya seujung kuku. Seperti; pejabat dan otoritas bandara yang mengijinkan pesawat Air Asia QZ8501 untuk terbang di hari minggu dari Surabaya menuju Singapura. Ijin hantu? Soal siapa yang terlibat dalam pemberian ijin? Dan lain lain, dan lain lain.

Jika tiket murah benar-benar dihapus

Pertanyaannya sekarang yang menggelitik untuk dilontarkan kepada para penggemar tiket murah, bagaimana jika Pak Mentri benar-benar memberlakukan harga tiket batas bawah sehingga tak ada lagi harga tiket denfan base fare 0 rupiah? Harga batas bawah ini wacananya adalah 40% dari harga tiket normal.

Sebagai seorang yang doyan jalan-jalan sekaligus seorang yang tidak termasuk dalam kalangan ekonomi kuat, tiket murah tentu menjadi semacam anugerah sehingga berhasil membawaku terbang ke tempat-tempat yang semula rasanya tak mungkin dijangkau.

Akan tetapi, adanya peraturan batas bawah harga tiket tidak serta merta membuatku menangis. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma, bukan?

Air Asia 1

Seharusnya memang ada banyak cara agar kita tetap bisa ngetrip meski harga tiket pesawat mahal. Berusaha meng-upgrade diri sehingga dapat rejeki yang cukup untuk bisa mengunjungi destinasi impian, misalnya.

Bagaimana cara meng-upgrade diri? Secara teori teman-teman traveler, atau travel blogger, dan teman lainnya pasti sudah lebih faham dibanding aku.

Dan bukankah sekarang ini ada begitu banyak tawaran ngetrip gratis? Kesempatan itu datang melalui lomba-lomba blog, kontes, atau menjadi travel consultan dan atau sekalian membuat perusahaan travel. Bekerja di bidang pariwisata juga bisa jadi salah satu cara agar bisa ngetrip gratis. Ah, itu sih aku juga mau. :p

Berbicara soal memanfaatkan kesempatan, membuatku teringat catatanku di blogspot tahun 2011 lalu, tentang sifat air yang selalu bergerak. Agaknya masih layak untuk dibaca sekarang. Berikut aku kutip catatan tersebut yang sempat kutulis setelah mendengar petuah ustadz saat pengajian.

Air cenderung bergerak kebawah. Ada 2 hal menjadikannya ke atas, oleh ajakan awan yang kemudian menjadikannya hujan dan akhirnya kembali jatuh kebawah (bumi), dan satu lagi, oleh mesin buatan manusia untuk berbagai keperluan, namun pasti ujungnya selalu kebawah.

Air yang berdiam diri, akan terjebak dalam kubangan tak berpembuangan, akan mengering, berwarna tak lagi bening dan akhirnya tak berguna sama sekali, bahkan bisa menjadi sumber penyakit akibat dihinggapi bemacam bakteri. Air yang demikian tak lagi bersih dan suci, hingga tak layak untuk segala keperluan manusia.

Seperti air, tak pernah diam. Selalu beranjak setiap saat, seperti itulah seharusnya manusia. Ada 2 jenis manusia tak bergerak, malas atau mati. Mereka yang tak bergerak, berdiam diri dan tak melakukan aktifitas yang bermanfaat, maka tak ubahnya ia seperti mahluk yang tak bernyawa. Keberadaannya tak ada bedanya seperti ketiadaannya. Keberadaannya tak dirasa manfaatnya, dan ketiadaanya tak dirisaukan.

Manusia yang tak memiliki aktifitas, tak bekerja dan tak menggunakan potensi dan kelebihannya, adalah manusia yang tak berguna.

Seperti air, jikapun harus terus bergerak, hendaknya manusia tak pernah lupa bahwa ia punya tempat kembali. Manusia bermula dari bawah dan akan kembali jatuh kebawah. mengawali hidup tanpa apapun, juga tanpa apapun saat mengakhirinya.

Manusia berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah.

Jadi mulai sekarang, stop complaining. Apalagi mencari kambing hitam penyebab mengapa kita tidak bisa terbang lagi. Jika kita ikut-ikutan mencari kambing hitam seperti “mereka” yang grusak-grusuk menyalahkan sana sini setiap menghadapi satu masalah, kan kasian kambing putihnya nanti ngga laku.

Akhirnya, karena merasa sudah sangat berani menulis hal yang sensitif ini, aku memohon maaf kepada teman-teman yang sudah meluangkan baktu untuk membaca. Mohon maaf untuk kata-kata yang mungkin kurang berkenan. And, have a good year… 

2 thoughts on “Jika Tiket Murah Dihapus

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.