@JakartaCorners – Jadikan Jakarta Senyaman Grand Zuri Hotel

Grand Zuri Hotel BSD City

Pintu kamar Grand Zuri Hotel BSD City nomor 328 dibuka. Belasan orang blogger lantas berjejalan masuk. Tak terkecuali aku. Ruangan kamar tipe executive seluas 29 meter persegi itu menjadi penuh sesak. Niatku untuk masuk lebih dalam pun urung. Rasanya tak sanggup berdesakan di dalam kamar sambil menggendong baby Ranu. Akhirnya aku membelokkan langkah. Masuk ke kamar mandi yang letaknya persis setelah pintu masuk kamar.

Di dalam kamar mandi, yang pertama kucari adalah complimentary berupa sabun dan shampo dalam botol ukuran mungil. Biasanya saat menginap di hotel, perlengkapan mandi berukuran kecil itu akan kubawa pulang sebagai souvenir. Tetapi kali ini aku cukup melihat-lihat dan memotret saja.

Air minum & perlengkapan mandi hotel
Air minum & perlengkapan mandi hotel
Tea & Coffee Maker
Tea & Coffee Maker

Tak lama kemudian, kamar mulai kosong. Beberapa blogger telah pulang usai mengambil gambar ruangan kamar. Beberapa lainnya memilih bersantai sejenak di tepi kolam renang yang ada di depan patio kamar.

Untuk menuju kolam renang itu, tamu hotel yang menempati kamar bernomor 328, tak perlu susah payah keluar melalui pintu kamar, dan memutar keluar. Hanya perlu membuka jendela kaca yang sekaligus berfungsi sebagai pintu. Pintu inilah yang menghubungkan kamar hotel dengan patio dan kolam renang.

Kamar tipe superiorKamar tipe superior

Ah! Aku jadi jatuh cinta pada kamar itu. Ranjangnya besar. Double bed. Empuk. Di kedua sisi tempat tidur terdapat meja kecil dengan lampu duduk bergaya modern minimalis. Jika dinyalakan, lampu itu akan merebakkan cahaya temaram. Persawat telepon terlihat di salah satu meja. 

Berseberangan dengan ranjang, terdapat meja panjang tempat meletakkan televisi, yang sekaligus berfungsi sebagai meja tulis. Minibar yang menempel dengan lemari pakaian, juga tampak tersambung dengan meja panjang itu. Di sudut kamar dekat dengan jendela, diletakkan sebuah sofa yang tampak nyaman jika digunakan untuk bermalas-malasan.

Pastry di Cerenti Restaurant
Pastry di Cerenti Restaurant

Jika tak ingat pulang, rasanya aku ingin duduk santai di sofa itu, dan membiarkan baby Ranu tidur lebih lama di ranjang. Apalagi, saat itu aku sedang kekenyangan setelah menyantap aneka kue dan hidangan makan siang di Cerenti Restaurant.

Siang itu, Cerenti Restaurant yang ada di Lobby Level Hotel Grand Zuri BSD menyediakan beberapa jenis masakan khas Indonesia. Salah satunya adalah laksa. Dan di sana lah untuk pertama kalinya aku mencicipi laksa yang ternyata ada oncom di dalamnya. Aku sampai keheranan saat menyantapnya. Bagaimana mungkin oncom yang notabene terbuat dari ampas tahu, dan konon tidak memiliki nilai gizi, rasanya bisa seenak ini?

Aku lantas teringat penjelasan Mba Donna Imelda saat mempresentasikan apa itu Jakarta Corners. Sebagai salah satu founder Jakarta Corners, ia membeberkan cerita tentang bagaimana Jakarta Corners terbentuk.

MC & 4 dari 6 founders @JakartaCorners
MC & 4 dari 6 founders @JakartaCorners
Mereka yang sibuk live tweet
Mereka yang sibuk live tweet saat launching @JakartaCorners

Berawal dari 6 orang travel blogger yang terlibat dalam obrolan santai tapi serius, setelah menghadiri acara kopdar travel blogger di Jakarta. Dalam obrolan itu, mereka saling bercerita pengalaman travelingnya masing-masing, yang kebanyakan tentang destinasi eksotis di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Obrolan seru yang kemudian berujung pada banyak pertanyaan.

Apa kabar dengan Jakarta? Bukankah Jakarta adalah rumah kita? Mengapa kah Jakarta hanya diingat sebagai kota yang menawarkan kemacetan, kriminalitas, dan sederet predikat negatif lainnya? Bukan kah Jakarta juga memiliki banyak sekali hal unik untuk dinikmati? Budayanya. Kuliner. Heritage. Human interest. Taman bermain. Atau juga ingar bingar kehidupan modern ibu kota.

Berdansa bersama senja di Kota Jakarta
Berdansa bersama senja di Kota Jakarta

Menyadari betapa kota Jakarta dan sekitarnya memiliki banyak hal untuk dinikmati sebagai daya tarik wisata, lalu tercetus ide untuk mengangkat citra kota Jakarta. 6 orang travel blogger yang terdiri dari Donna Imelda, Katerina, Evi Indrawanto, Shintaries, Dewi Rieka, dan Salman Faris, lalu membuat sebuah website www.JakartaCorners.com yang mengusung tagline “telisik kota Jakarta sampai ke sudut-sudutnya”.

Visi besar Jakarta Corners yang ingin menjadi situs rujukan nomor satu tentang informasi wisata kota Jakarta, nampaknya akan sukses. Sesukses penemu laksa yang berhasil menyulap oncom menjadi semangkuk hidangan lezat. Aku bisa melihat kesuksesan itu dari konsep yang diusungnya saat acara launching JakartaCorners.com. Dengan menghadirkan Teguh Sudarisman yang seorang travel writer sukses, untuk memberi materi tentang serba-serbi kota Jakarta, dan segala potensinya untuk diulas.

Foto bareng Teguh Sudarisman
Foto bareng Teguh Sudarisman

Wawasanku pun jadi terbuka setelah menyimak materi dari Teguh Sudarisman. Aku jadi punya gambaran bagaimana cara mempresentasikan keunikan Jakarta melalui tulisan, foto, maupun video. Terlebih ketika Teguh Sudarisman memberikan contoh itinerary liputan di Jakarta. Hanya dalam waktu 13 jam, ternyata ada banyak hal yang bisa diliput untuk menghasilkan banyak tulisan pula.

Atau ketika Teguh Sudarisman menyampaikan beberapa kelebihan jika melakukan liputan di Jakarta. Yang paling kuingat yaitu banyaknya tempat makan halal dan rumah ibadah. Seketika itu aku jadi teringat ketika backpacking ke Pulau Samosir dan Toraja. Atau ketika di Ho Chi Minh City, Vietnam. Betapa sulitnya mencari masjid dan makanan halal di sana. Namun tidak demikian hal-nya dengan Jakarta. Kota yang sebenarnya sangat layak untuk kita sebut sebagai rumah.

"Feels like home," said baby Ranu.
“Feels like home,” said baby Ranu.

Hmm… Aku jadi punya ide. Bagaimana kalau aku manfaatkan sisa cuti melahirkan yang tinggal satu bulan lagi ini, untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Nah, berhubung sekarang punya baby, jadi tidak bisa seperti dulu yang sukanya sembarangan tidur dimana saja. Di selasar masjid misalnya.

Untuk alasan kenyamanan, nanti menginapnya di Grand Zuri Hotel BSD City saja. Cocok, kan? Tuh, si baby Ranu aja bisa tidur nyenyak di kasur empuknya Grand Zuri BSD Hotel BSD City.

*****

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Jakarta Corners yang disponsori oleh Hotel Grand Zuri BSD City” 

22 thoughts on “@JakartaCorners – Jadikan Jakarta Senyaman Grand Zuri Hotel”

  1. Semoga JC ikut memberikan sumbangan bagi kemeriahan piknik dengan memberikan informasi tentang tempat-tempat wisata dan kuliner di Jakarta dan sekitarnya.

  2. Lihat ranu tidur di kasur hotel, jadi pengen nginep juga di Grand Zuri. Hotelnya senyaman rumah sendiri ya mbak dan kalo nginepnya cuma sehari kayanya kurang deh ^__^

Leave a Reply