Kuliner

Jajan Bir Pletok & Es Cendol Campiun di Jalanan Jakarta

bir pletok

Kemarin (Minggu, 20/12), aku dan Ojrahar jalan-jalan di pinggiran Jakarta. Mulai dari Kalimalang, ke Banjir Kanal Timur, Jati Waringin, dan Pondok Gede. Tujuan kami sebenarnya mau main ke rumah teman, tapi karena abang Ranu ngga betah lama-lama di rumah teman, jadi kami lebih banyak di atas motor ngukur jalanan.

Selama perjalanan itu, beberapa kali kami mampir kalau lihat sesuatu yang unik. Salah satunya yang unik dan membuat kami tertarik adalah stand penjual Bir Pletok & Dodol Bekasi di daerah Banjir Kanal Timur (BKT). Selain itu, di sekitar jalanan Jati Waringin, kami juga mampir minum es cendol campiun khas Padang Panjang & bubur durian.

Bir Pletok & Dodol Betawi

Sekitar sebulan lalu, aku berkenalan dengan seorang tour guide di Jakarta. Dia sempat menceritakan pengalamannya saat meng-guiding seorang wisatawan dari Kalimantan untuk keliling Jakarta. Dia sempat bingung ketika si wisatawan tersebut minta diantar untuk beli makanan khas Jakarta untuk oleh-oleh. Apa ya oleh-oleh khas Jakarta yang unik banget dan ngga ada di daerah lain?

Tour Guide itu mulai memutar otak dan mencari tau. Dan akhirnya ketemulah jenis makanan & minuman khas Betawi yaitu Bir Pletok & Dodol Betawi.

bir pletok batawi

Kebetulan saat kemarin lewat BKT, kulihat ada yang jualan. Aku mampir dan beli. Sebotol Bir Pletok cap Siti Solehah harganya Rp25.000. Selain Bir Pletok, Dodol Betawi juga dijual di stand itu seharga Rp15.000.

Tentang Bir Pletok

Aku pernah nonton acara di TV yang mengulas bir pletok ini. Dalam acara itu dijelaskan bahwa bir pletok adalah minuman tradisional yang dibuat dari jahe dan beberapa rempah-rempah lain seperti daun pandan, kayu secang dan cengkeh.

Jika melihat komposisinya, tentu bir pletok ini tidak semengerikan namanya. Bir! Sebaliknya, bir pletok adalah minuman yang mungkin saja menyehatkan dan memberi efek hangat ke tubuh.

Menurut sejarahnya, bir pletok lahir karena ada keinginan masyarakat betawi untuk merasakan minuman yang selalu dihidangkan dalam pesta-pesta para penjajah di masa itu, yang tidak lain adalah bir/wine. Akan tetapi, karena nilai religius masyarakat betawi yang tinggi, mereka tentu mengharamkan minuman beralkohol. Maka kemudian diraciklah minuman tandingan yang secara warna dibuat mirip dengan bir, yaitu merah kecoklatan.

Soal rasa, tentu saja tidak sama dengan bir atau wine. Menurutku rasanya mirip dengan wedang uwuh khas Solo. Ada manis-manisnya, sedikit pedas jahe dan aroma wangi yang unik karena perpaduan daun pandan dan bahan lain.

Es Cendol Campiun & Bubur Durian

Setelah dari BKT dan beli sebotol bir pletok, kami lanjut jalan lagi. Tujuannya ke pasar Pondok Gede. Saat lewat Jalan Pahlawan Revolusi, aku lihat ada yang jualan Es Cendol Campiun di pinggir jalan. Mampir lagi deh karena penasaran. Awalnya sih karena tertarik oleh embel-embel durian. Sayangnya duriannya kurang banyak jadi kurang mantap. Padahal penjualnya bilang, durian yang dipakai adalah durian beku yang dia beli dan dikirim langsung dari medan.

es cendol campiun

Eh, bukan cendolnya ngga enak loh ya. Cuma duriannya aja yang kurang banyak. Mungkin ekspektasiku seperti sop durian yang memang durian semua semangkok. *yee itumah salah ekspektasi gue dong*

Tetapi kemudian rasa sesalnya berganti dengan rasa penasaran baru ketika menyadari ada yang unik di es cendolnya. Kalau dirasa-rasa, di dalam es cendolnya kok ada kelapa parutnya. Jadi agak ngeres gitu saat di makan. Aku tanya pada penjualnya, katanya itu namanya ampyang.

Ampyang adalah jenis makanan khas Padang Panjang. Dibuat dari ketan hitam yang baru dipanen tanpa digiling. Jadi masih dalam bentuk gabah, disangrai sampai matang, lalu ditumbuk sehingga kulit dan ketan matangnya terpisah. Ketan yang sudah matang dan ditumbuk tadi kemudian dicampur dengan kelapa sangrai, dan jadilah ampyang untuk campuran es cendol campiun dan juga bubur durian.

ampyang padang panjang

Nah buat yang penasaran juga mau coba es cendol campiun dengan ampyang khas Padang Panjang, boleh melipir ke Jalan Pahlawan Revolusi. Pedagangnya pakai meja kecil di depan pom bensin, di seberang Tiptop Pondok Bambu. Harganya Rp12.000 per gelas.

18 thoughts on “Jajan Bir Pletok & Es Cendol Campiun di Jalanan Jakarta

  1. Itu yg jual bir pletok nya deket bkt mana nya ya ka? Aku lg nyari buat tugas tp gak dapet. Tolong kasih info nya ya butuh bgt nih ka

  2. Saya sdh lama tahu sih ttg bir pletok ini. Tp blm pernah nyoba. Lha suami yg dr lahir sampai tua di jkrta aja malah tau bir pletok ini dr saya hehe
    … kpn2lah nyobain rasanya. Penasaran juga????

  3. Woh, klo di tempatku ampyang itu gula kacang Noe, itu loh yg bulet2 penuh gula jawa padat dan kacang tanah itu. jadi penasaran nih pengin menikmati ampyang yg khas Padang Panjang di dalam es cendol πŸ˜‰

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.