Tips Traveling

Jadi backpacker, jadilah menyenangkan!

Hidup dalam keminderan, aku sudah bosan. Sejak kecil aku yang tumbuh dalam keluarga dengan ekonominya pas-pasan pake banget, menjadikan aku anak yang sulit berteman. Dulu aku memelihara prasangka buruk, mana mungkin ada yang mau berteman denganku. Akibatnya, ya beneran nggak punya teman. Sedih!

Wisata air terjun Parangloe

Lain dulu lain sekarang. Noe yang sekarang adalah sosok yang over confident, narxis, dan exist. Rasa minder yang dulu memang belum bisa dibunuh sepenuhnya. Tetapi paling tidak bisa ditutupi dengan mengucap mantra; “Ah, PD aja lagi!”

Seiring berjalannya waktu, melalui proses dalam hidup, aku semakin menyadari dan belajar banyak hal. Salah satunya yaitu bahwa hubungan pertemanan tidak selalu dibangun atas dasar harta dan rupa. Kuncinya adalah, jangan menjadi pribadi yang menyebalkan, dan tutup kekurangan dengan menggali potensi diri.

Minder ternyata termasuk dalam sifat yang menyebalkan. Kadang aku jadi malu sendiri, mengingat betapa menyebalkannya aku. Minder go ahead! Berfikir negatif bahwa orang nggak mau berteman denganku. Padahal bisa jadi aku yang menutup diri. Akibatnya aku jadi pribadi yang culas, selalu berfikir negatif, dan jutek. Ampuuunnn.

Sekarang, aku belum sepenuhnya menjadi pribadi yang menyenangkan, masih dalam proses belajar. Terus belajar dan tak pernah berhenti. Menggali potensi juga belum optimal. Tapi, ijinkanlah aku berbagi pengalamanku sebagai emak-emak yang punya hobi jalan-jalan. Aku tentu dituntut untuk bisa bersosialisasi dengan baik. Supaya punya banyak teman. Supaya nggak kesusahan di jalan. Bayangkan saat sedang traveling ke tempat yang jauh dan asing, sendirian. Di tempat itu kita nggak sopan, merusak lingkungan dan mengganggu penduduk setempat. Ciloko dua belas!

Beda cerita jika kita bisa bergaul dengan baik. Kemanapun pergi, kita diterima dengan baik. Pernah merasa sangat terharu waktu diberi tumpangan menginap gratis di sebuah warung di Cibodas saat uang dalam dompet dalam kondisi sekarat. Aku juga sering berkoar-koar di socmed menjelang pergi traveling. “Hallo! besok aku mau ke Bandung. Ada yang bisa beri tebengan nginep?” Itu contoh pengumumannya. Lalu respon berdatangan, nggak peduli gender. Ada yang menawarkan menginap di tempat kostnya. Ada yang dirumahnya meski tidak ada kamar dan harus tidur di ruang tengah dengan tikar. Asik kan?

Aku ingat sekali bagaimana di Medan, tidur rame-rame di kosan Teh Mila. Berkenalan dengan teman-teman Backpacker Medan, Damay & Melva. Mereka yang menjadi guide selama 3 hari jalan-jalan ke Danau Toba, Samosir, Berastagi dan keliling kota Medan. Begitu juga trip selama seminggu di Makassar. Masih segar dalam ingatan bagaimana teman-teman dari Backpacker Makassar begitu welcome menyambut dan membantu. Menjadi guide, memberi tumpangan tidur, sampai mebantu mencarikan mobil rental murah dan lepas kunci. Hmm… Thanks very much Om Ridho dan M. Akbar.

Oya, nanti di bulan Desembber semoga trip ke Bali bisa terealisasi. Sudah ada juga beberapa teman menawari tempat untuk menginap. Jogja juga… Huaa, aku nggak sabar. Mau cepat-cepat ke bulan Desember. 😆 Belum lagi Bromo yang masuk wishlist. Meski entah kapan, tapi setidaknya sudah ada satu orang teman di Malang yang siap memberi tumpangan menginap dan siap mengantar jalan-jalan. Oh…., syurgaaaa! Rifqy, tunggu aku yaa… 😀

Selain minta tebengan, aku juga membuka rumah lebar-lebar untuk diinapi jika ada teman-teman yang ingin jalan-jalan di sekitar tempat tinggalku. Dengan senang hati juga aku akan mengantar ke tempat wisata yang ada di sekitar rumah. Berkeliling di kota tua peninggalan sejarah Banten Lama, aku sudah seriiiing banget. Tetapi dengan orang yang berbeda, kadang teman-teman yang baru saja bertemu muka namun sudah lama kenal via internet. Atau keliling kota Serang, wisata kuliner, atau menghabiskan waktu di pantai Anyer. Selalu menjadi pengalaman menyenangkan.

Di era digital sekarang ini, sangat mudah bagi kita untuk mendapat teman baru. melalui hobi lalu bergabung dengan komunitas-komunitas sesuai hobi kita. Jalinan pertemanan menjadi tidak terbatas ruang dan waktu. Itu yang kadang menjadi dorongan buatku untuk terus menjelajah. Satu persatu mendatangi tempat baru dan kopdar dengan teman baru. Keinginan itu semakin menguat seiring dengan respon atusias dari teman-teman yang jauh disana. “Iya, Mba Noe. Kapan kesini?”

Jadi, siapa bilang nggak ada yang mau berteman dengan orang miskin dan nggak cantik/ganteng. Selama kita bukan dementor, everything gonna be alright. *sok inggris* 😆

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.