Curcol

Ibu macam apa?

Menjelang hari ibu, dalam hati aku sempat membuat janji. Tepat tanggal 22 Desember nanti, aku akan berusaha menjadi ibu yang baik bagi anak-anak di rumah. Sederet rencana tersusun rapi dalam benak. Bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan, membangunkan anak-anak penuh cinta dan mengajak mereka dalam suasana sarapan yang hangat dan penuh cinta. Aku juga berencana untuk memasak makanan untuk makan siang dan malam. Mengerjakan semua tugas rumah tangga, seperti mencuci dan mengepel. Biarlah asisten di rumah libur dulu.

IMG-20150416-WA0005

Tetapi, yang terjadi di hari itu sungguh jauh dari rencana. Kegiatan yang padat pada hari Sabtu, 21 Des’13, benar-benar menguras energi. Aku baru tiba di rumah menjelang tengah malam. Pagi harinya, saat aku bangun pagi-pagi, ternyata bumi sedang diguyur hujan. Ah, pagi yang malas. Usai shalat subuh, aku menengok isi kulkas. Hanya ada telur, dan beberapa lembar roti tawar. Hilang gairahku untuk masak. Aku memutuskan untuk membeli nasi uduk saja untuk sarapan.

Usai sarapan, ketika pagi sudah benderang, hujan belum juga reda. Baiklah, ini benar-benar pagi yang mematikan gairah untuk beraktifitas. Kebetulan ada intan menginap di rumahku. Aku pamit padanya untuk kembali tidur, dan anak-anak bermain bersama Intan.

Aku terbangun menjelang siang pukul 10, saat jadual saluran air menyala untuk blok perumahanku. Seketika, aku teringat tumpukan piring kotor di dapur. Ini sungguh membuatku bertambah malas. Dan aku kembali menarik selimutku.

Namun tak lama kemudian, hand-phoneku berdering. Emakku menelepon, bertanya kabarku, dan hendak kemana aku hari ini. Suara emak terdengar parau di ujung sana. Rupanya emak sedang sakit. Sebelum menutup obrolan singkat itu, aku sempat berpesan pada emak, untuk tidak terlalu banyak memikirkan hal berat. Itu akan memperburuk penyakit hipertensi yang diderita emak sejak bertahun-tahun lamanya.

Kasur, bantal, guling dan selimut tebal, di hari minggu yang hujan itu, mereka begitu posesif. Aku masih enggan untuk beranjak ke dapur. Padahal sudah menjelang siang. Aku benar-benar lupa pada janjiku sendiri. Malah, ketika Daffa’ menghampiri, aku memintanya untuk menggantikanku mencuci piring. Seperti biasa, anak sulungku yang manis itu tidak menolak. Ia bergegas ke dapur dan menekuni tugasnya.

Lagi-lagi, aku surprised melihat reaksinya yang bergitu cepat. Ya Tuhan, anakku! Dan ini membuatku malu, aku bangkit dan beranjak juga ke dapur.

“Pinternya anak ibu, bantuin cuci piring. Subhanallah.” Aku memuji perbuatan baik Daffa’, lalu mulai beraktifitas untuk menyiapkan makan siang untuk kami.

Di dalam kamar mandi, Abyan, si bungsu mendengar kata-kata pujianku. Dengan cepat ia menyahut.

“Ibu, kakak juga pintel. Nanti mau cuci piling juga!” katanya berseru dengan suara cadel.

“Iya, cepetan mandinya. Cuci piring berdua sini sama Mamas.”

Hal-hal kecil seperti ini kadang luput aku syukuri. Kebahagiaan memang sederhana. Memiliki anak-anak yang mau berkompetisi untuk melakukan hal yang baik.

DSC01030_1

Aku jadi ingat setiap kali aku meminta tolong kepada salah satu anakku untuk sekedar mengambilkanku segelas air minum. Satu anakku yang lainnya pasti akan merasa iri karena tidak diberi kesempatan yang sama untuk menjadi anak baik, yang senantiasa membantu ibunya. Kalau sudah begini, aku akan sibuk memikirkan tugas lain yang bisa kuberikan kepadanya.

Meski kadang, aku juga merasa bersalah. Tingkat kemalasan yang aku derita memang akut. Bahkan segelas air minum saja minta diambilkan, apa lagi memasak? Rasa bersalahku semakin menjadi-jadi ketika hand-phoneku kembali berbunyi dari arah kamar. Tanda pesan masuk. Kutinggalkan dapur ketika kedua anakku masih asik mencuci piring.

Rupanya ada SMS dari bapak.

Nduk… wis kirim selamet hari ibu karo mamak kan? Sukur lah nek uwis, nduk. Inget, surgo ono ning telapak kaki ibu. Oya, Abyan juga lagi ulang tahun kan? Happy birthday yo. Dari kakek” (Nduk… sudah kirim selamat hari ibu untuk emak kan? Sukur lah kalau sudah, nduk. Ingat, surga ada di telapak kaki ibu. Oya, Abyan juga lagi ulang tahun kan? Happy birthday ya. Dari kakek)

Deg! Aku seperti tertampar membaca pesan bapak. Tadi, emak menelepon dan aku tidak sempat mengucapkan apa-apa mengenai hari ibu. Heuheu…

Lalu aku teringat bagaimana sosok emak, sebagai ibuku. Beliau yang tidak pernah mengeluh. Selalu bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan. Entah itu sekedar ubi rebus dan teh manis hangat. Suasana sarapan kami di teras rumah sambil menikmati udara pagi, selalu hangat dan penuh cinta. Lalu emak akan melanjutkan aktifitas hariannya yang tak ada habisnya. Memasak, mencuci, menyetrika, semuanya!

Untuk membantu ekonomi keluarga, emak juga bekerja. Menyusuri hutan mencari pakis untuk dijual ke tengkulak, atau bekerja upahan di ladang tetangga. Emak!

Ah, ibu macam apa aku?

Dan hari ini aku belajar satu hal, ketika betapa bahagianya aku memiliki dua orang anak yang membanggakan, aku justru diingatkan bahwa betapa aku belum menjadi sosok ibu yang baik, seperti sosok emak yang selalu seperti bintang dihatiku.

Bahwa, yang paling dinantikan oleh seorang ibu bukanlah ucapan “Selamat Hari Ibu”, tetapi ibu lebih ingin melihat anak-anaknya menjalankan peran di dunia ini sebagai manusia yang baik. Itulah kebanggaan.

IMG-20150416-WA0004
Ibuku…

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.